Hallo Hati! Apa kabar? Baik ya. Tapi kenapa ya kamu masih sering sakit, membuat mata mengeluarkan air saat mengingat dia. Iya dia, dia yang dulu jadi masa lalu. Kamu tahu? Aku bahkan sudah tak lagi mau mengingatnya, aku tak mau lagi menumpahkan air mata karenanya. Sudahlah, cukup! Cukup aku menangis sekali itu saja. Tapi mengapa hati? Mengapa kamu justru tak mau bersahabat denganku.

Mengapa justru kamu membiarkan rasa sakit itu ada, dan terus ada kala aku mengingatnya. Tak tahukah kamu hati, mata ini sudah lelah. Mata ini lelah menumpahkan air karenanya, air mata ini bahkan sudah nyaris kering karena dia. Ntah sedalam apa luka yang sudah dia torehkan padamu, karena aku sendiri tak bisa mengukurnya. Tapi yang pasti aku dapat merasakan setiap sakit yang kamu rasa wahai hati, karena kita berada dalam satu tubuh yang sama.

Advertisement

Lukamu tak nampak hati, lukamu tak terlihat. Tapi rasa sekecil apapun dari luka itu sungguh terasa, terasa mencabik dalam diri. Terasa begitu sakit! Sangat sakit. Hingga lagi, dan lagi aku menangis karenanya. Wahai Hati.. Maukah kamu membantu aku? Jika iya, cukup kubur saja rasa sakit itu. Jangan biarkan dia hadir lagi, dan lagi hingga membuat aku kembali menangis.

Dia hanya masa lalu, terlepas apapun yang pernah ada diantara kita dulu, tetaplah dia hanya masa lalu. Masa lalu yang tak perlu di ingat, masa lalu yang seharusnya sudah sama-sama kita kubur. Baik kenangan indah bersamanya, atau kenangan buruk bersamanya semua seharusnya sudah terkubur bersama kepergian dia. Bersama dia yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, dan kabar dulu. Jika dia saja bisa melupakan dengan mudah, mengapa kamu tidak bisa membantu aku melupakan dia dengan mudah? Mengapa hati?

Coba kamu tengok dia, kini dia sudah bahagia. Bahagia dengan pendamping yang baru, dia tak lagi memelihara lara. Lantas mengapa kamu enggan melepas lara, memelihara dalam diri. Wahai hati yang merasa aku mohon bantu aku, bantu tuk melupakan dia. Dia yang kini sudah jadi bagian dalam masa lalu, dia hanya masa lalu. Maka sudah saatnya kita bahu, membahu untuk melupakannya. Jika dia saja bisa bahagia, kita juga mesti bisa bahagia.

Advertisement

Hati, aku lelah. Aku lelah menangis karenanya, maka bantulah aku untuk membuang dia. Menyingkirkan rasa yang sudah semestinya sirna sedari dulu, menyingkirkan semua tentang dia. Kini sudah saatnya kita membuka lembaran baru, membuka pintu untuk dia yang baru. Dia yang akan datang, dan dia yang akan membuat kita bahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya