"jangan naik sepeda, ayah takut kau terluka nak," kata seorang ayah pada anaknya.
"tapi yah, aku bisa," balas anaknya.
"tidak! Tidak boleh naik sepeda, kau dapat terluka," tegas ayahnya lagi.

Suatu kali seorang anak dan ayahnya sedang pergi memancing bersama. Lama menunggu ikan yang tak kunjung melahap umpan, sang anak mengeluhkan perjalanannya dari rumah ke sekolah yang jauh dah harus ia tempuh dengan berjalan kaki.

Ia mengadu pada ayahnya agar ia dibelikan sebuah sepeda dan diajari untuk mengendarai sepeda. Ia mengadu pada ayahnya bahwa semua teman-temannya memiliki sepedanya sendiri. Ia mengeluh lagi pada ayahnya bahwa kini perjalanannya ke sekolah terasa lebih jauh, karena kini hanya dia yang berjalan sendiri, semua temannya telah bersepeda ke sekolah. Ia juga mengeluh karena ia merasa waktu untuknya bermain bersama temannya hilang, karena semua temannya memiliki sepeda dan bergerombol dengan sesama mereka (yang memiliki sepeda).

"yah, aku ingin sepeda," kata anak itu dengan tatapan penuh iba pada ayahnya.
"tidak," balas ayahnya datar
"tapi yah, aku butuh sepeda itu," ungkap anak itu lagi
"tetap tidak, berjalan saja. Kesuksesan itu diraih dengan perjuangan!" kata ayahnya lagi

Anak itupun diam, tak berkata apapun. Ia marah pada ayahnya. Marah pula pada dirinya sendiri.

Kedua orang itu saling diam hingga tiba di rumah. Sesampainya di rumah sayang ayah meletakkan hasil pancingnya di dapur untuk di masak oleh istrinya. Setelah selesai menaruh hasil pancingan itu, ia duduk di kursi ruang tamu dan memanggil anaknya datang.

Advertisement

"nak, kemarilah!" kata ayah itu tegas.

Si anak datang, dengan wajah yang masih sedikit kesal akan sikap ayahnya di sungai tadi saat memancing. Namun ia tetap datang karena hormat.

"iya yah," kata anak itu
"maaf, ayah tidak bisa memberikanmu sepeda. Bukan karena harganya, bukan tentang uang. Tapi ayah menyayangimu nak, ayah tak ingin kamu jatuh dari sepeda dan terluka," kata ayah itu lagi.
"tapi yah, teman-temanku?" kata anak itu lagi.
"sudahlah! Jangan banyak bermain dengan mereka. Selesaikan sekolahmu, maka ayah akan memberimu sepeda," kata ayah itu seraya bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan anaknya duduk termenung sendiri.

Anak itupun sadar, ia tahu bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, berbeda jauh dengan dirinya, pribadi yang lembut. Ia kemudian berpikir lagi, lebih jauh. Kelak ketika ia menjadi seorang ayah, menjadi orang tua, dan saat anaknya meminta sepeda ia akan memberinya sepeda. Namun sebelum memberi anaknya sepeda, ia akan melatih anaknya mengendarai sepeda terlebih dahulu, agar tak jatuh dan terluka. Ia akan mengajari anaknya kelak agar sepeda itu digunakan sebagaimana mestinya. Berangkat sekolah, pulang ke rumah, bermain sebentar, dan keperluan-keperluan lainnya.

Si anak itupun tersenyum akan hal itu. Ia kemudian bangkit dari kursi, melangkah ke kamarnya untuk mengambil handuk dan mandi. Keesokkan harinya anak itu bangun pagi, mandi dan berangkat sekolah seperti biasa. Berjalan kaki.