Berdzikir kepada Allah itu merupakan hal yang penting dan wajib bagi kita yang mengaku Muslim dan mengaku memiliki Allah, tapi banyak yang terjadi saat ini adalah tidak memahami apa maksud dari berdzikir itu. Dan yang banyak terjadi adalah hanya melakukan pengulangan kalimat saja, mengulang sebanyak 100x, 1000x dan seterusnya.

Memang sih terlihatnya keren ya, duduk sambil tangannya bergerak menghitung jumlah berdzikirnya. Tapi apakah memang seperti itu maksud dari berdzikir kepada Allah? Tergantung jumlah? Tergantung waktu?

Advertisement

Coba bersama-sama kita berpikir yang jernih dan merenung sambil terus membaca artikel ini ya, saya ingin mengulas tentang berdzikir, supaya banyak orang tidak terjebak dengan pengulangan kalimat saja. Karena bukan itu makna berdzikir sesungguhnya.

Saya sering bertemu dengan banyak orang di kelas AMC, baik itu reguler, privat dan platinum dengan pengalaman melakukan dzikir berulang-ulang, karena disuruh oleh “gurunya”, untuk menghabiskan 1000x dalam sehari, bahkan ada yang 10000x dalam sehari.

Sebenarnya hal ini sih bagus untuk menumbuhkan “kepatuhan” dari murid kepada gurunya, juga melatih ketenangan. Ketika anda hanya duduk lalu mulut mengulang-ngulang kalimat yang sama sebanyak 1000x atau 10000x itu kan jadi tidak berpikir yang lain.

Advertisement

Tapi, lantas dimana esensi “berdzikir”-nya? berdzikir itu artinya adalah “Mengingat”, jika berdzikir kepada Allah maka harus mengingat Allah. Tentu maksud mengingat tidak sama dengan mengulang-ngulang sebuah kalimat. Misalnya, sekarang.. saya suruh anda untuk mengulang-ngulang nama saya 5x saja “Firman Pratama”, “Firman Pratama”, “Firman Pratama”, “Firman Pratama”, “Firman Pratama”.

Bisa kan hanya mengucap nama saya saja seperti itu. Tapi apakah dengan mengulang-ngulang nama saya itu artinya anda mengingat saya? Kalau anda tidak pernah bertemu saya, tidak pernah kenal saya dengan benar, tentu tidak bisa mengingat saya kan.

Sampai sini, seharusnya anda sudah memahami perbedaan antara hanya mengulang-ngulang dengan mengingat. Kalau mengulang-ngulang itu hanya menggunakan mulut saja. Kalau mengingat itu harus menggunakan pikiran, dan harus memahami bagaimana pikiran bekerja.


Mengingat Allah, alias berdzikir harus menggunakan pikiran dengan benar, bukan hanya di mulut saja yang berkomat-kamit. Mengingat harus mengenal dulu apa yang diingat. Kalau tidak kenal, berarti namanya bukan mengingat.


Bagaimana mau mengingat Allah jika dirimu tidak kenal Allah-nya, atau mungkin salah dalam mengenali Allah. Akibat dari salah berdizkir maka yang didapat bukan sebuah kebaikan, tetapi hanya mendapat capek saja karena duduk lama sambil menghitung sudah berapa banyak jumlah yang diulang-ulang tadi. Kalau anda saat ini masih seperti itu, maka sadarilah bahwa apa yang anda lakukan itu percuma saja.

Berdzikir kepada Allah harus diawali dengan mengenali Allah-nya, dan ukurannya mengingat Allah itu benar adalah ketika diri kita menjadi tenang dan santai, kalau sekarang anda mengaku sudah berdzikir kepada Allah tapi masih bingung, masih galau, masih tidak santai, maka saya katakan sesungguhnya anda sama sekali tidak berdzikir tapi hanya mengulang-ngulang kalimat, dan itu menjadi sebuah kesia-siaan saja.

Salah satu tujuan saya membuat kelas AMC adalah untuk memberikan pemahaman yang benar dan utuh tentang makna berdzikir kepada Allah, yaitu dengan mengenal Allah. Dan mengenal Allah itu dimulai dengan mengenali diri kita sendiri, untuk bisa mengenali diri dimulai dengan mengenali Kekuatan Pikiran secara benar dan utuh, sehingga kita bisa mengatakan bahwa Allah itu MAHA BAIK sudah memberikan pikiran bagi semua manusia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya