Ketika umur sudah memasuki kepala 2 , pertanyaan soal kehidupan di masa depan ( re : menikah ) adalah pertanyaan yang wajib di tanyakan. Entah saat itu sedang sendiri atau sudah bersama kekasih. Banyak dari mereka yang siap menikah tapi belum siap berumah tangga , ada pula yang sudah siap keduanya tapi calonnya entah ada dimana. Jika boleh memberi saran , maka menikahlah karena hati , bukan hanya materi.

Materi itu penting, sebagai aset masa depan. Tapi jika hati tidak mengehendaki, apa bisa di pertahankan?

Terkadang tanpa kita sadari , kita menilai seseorang dari kendaraan apa yang dibawanya , pekerjaan apa yang sedang ditekuni , rumah seperti apa yang ditinggalinya bahkan kita menilai seseorang dari sekaya apa keluarga besarnya. Padahal menikah itu bukan hanya perkara dunia saja. Ada yang lebih penting , yang harus di perjuangkan mati-matian , yaitu Hati.

Kamu bisa menjadi orang yang kaya harta namun tidak bahagia. Mengapa? Karena kamu tidak memilih dengan hati. Kamu bisa menjadi orang sederhana yang hanya memiliki tak seberapa tapi merasa bahagia luar biasa. Mengapa? Ya karena kamu memilih dengan hati.

Ketika memutuskan untuk menikah , atau sekedar memikirkan akan menuju jenjang pernikahan , tanyakan kepadamu hal ini. Kamu ingin keluarga yang seperti apa? Bahagia dengan sederhana atau Bahagia karena memiliki segalanya? Tidak sedikit mereka yang dibesarkan di keluarga berkecukupan justru memilih bahagia dengan sederhana. Mengapa? Karena sebagian dari mereka dididik dengan metode bahagia dengan sederhana. Mereka yang tumbuh mengikuti waktu atau tanpa paksaan , menjadi pribadi yang lebih legowo dan menerima bahwa bahagia terkadang tidak bersangkutan dengan materi.

Advertisement

Sedangkan mereka yang tumbuh beriringan dengan materi berlimpah , terkadang melupakan arti sesungguhanya dari memiliki sebuah harta. Tapi bukan berarti kita bisa dengan mudah menilai pasangan kita dari bagaimana keluarganya membesarkannya. Semua itu kembali kepada pribadi , kembali pada perjalanan hidup yang tak mungkin sama satu dengan yang lain , semua itu kembali pada kepercayaan kita sebagai pasangan bahwa sesungguhnya menikah itu sederhana.

Sesungguhnya ada banyak hal yang mesti kita pikirkan dengan matang selain menikah , yaitu sesudah pernikahan. Menikah itu cuma sehari , atau bisa 2 hari jika kamu memilih waktu akad dan resepsi yang berbeda. Mengapa banyak orang yang mengatakan menikah itu mahal ? Karena mereka berinisiatif untuk menyenangkan semua orang. Padahal kita hanya manusia yang tak punya daya untuk melakukan hal seperti itu. Kita cukup fokus menyenangkan diri kita , dan jika memang mereka adalah orang-orang yang tulus mendukung dan menyayangi kita , mereka akan turut bahagia melihat kita bahagia.

Menikah itu perkara mudah. Hidup bersama setelah hari pernikahan itu yang susah. Menyelaraskan kebiasaan-kebiasaan ajaib yang tidak kita temui dikala perkenalan , kadang membuat diri merasa tertipu. Tapi jika kamu mengikutkan hati di kehidupan bersama setelah pernikahan , kamu akan tertawa. Keajaiban pasanganmu adalah awal kebahagiaanmu.

Materi itu penting. Tapi hati yang menentukan , apakah akan bertahan atau ditinggalkan?

Sekali lagi , percayalah jika hatimu tidak ragu maka sesungguhnya materipun tidak akan menyulitkanmu. Mungkin setelah menikah , banyak hal yang tidak bisa kamu lakukan seperti waktu kamu masih sendiri. Tapi bukankah menikah itu berdua? Jadi buat apa masih meributkan hal lama yang hanya kamu lakukan sendiri?