Adalah Umar bin Khatab, seorang khalifah besar umat Islam yang sangat masyhur. Darinya kita banyak belajar, bukan hanya tentang kisah kepahlawanan yang telah banyak ditulis dalam kitab-kitab sejarah, namun juga tentang cerita asmara yang akan membuat kita sadar bahwa jodoh bukan hanya tentang keshalihan, namun juga tentang kecocokan jiwa antara dua insan yang akan memadu kasih.

Alkisah, Umar pernah meminang seorang gadis yang sangat lembut. Ummu Kultsum namanya. Ia adalah seorang wanita berparas elok menawan, putri dari sahabat karibnya, Abu Bakar As-shidiq. Ummu Kultsum mewarisi sebagian besar karakter ayahandanya, yaitu lemah lembut dan pemalu. Sedangkan, Umar terkenal dengan kepribadiannya yang sangat keras dan garang. Barangkali, perbedaan karakter antara keduanya bisa digambarkan seperti dua kutub bumi yang saling berseberangan.

Advertisement

Singkat cerita, ternyata lamaran Umar ditolak oleh Ummu Kultsum. Padahal, Umar adalah orang nomor satu yang memimpin sebuah wilayah Islam yang begitu besar, disegani oleh raja-raja, dihormati oleh rakyatnya, dipuja-puja tentaranya, dan merupakan salah seorang sahabat utama Rasulullah. Bahkan, bisa dikatakan, Ia adalah laki-laki terbaik yang merangkum ekspektasi semua wanita zaman itu tentang sosok laki-laki ideal.

Apa yang kurang dari seorang Umar sehingga cintanya harus bertepuk sebelah tangan? Tidak ada. Tidak ada yang kurang pada diri Umar. Hanya saja, potongan jiwa Umar yang keras mungkin memang tidak bertemu dengan potongan jiwa Ummu Kultsum. Ibarat puzzle, jika ada dua potongan puzzle yang tidak cocok, maka keduanya tidak mungkin bisa dipasangkan. Jika dipaksakan, maka salah satunya akan patah.

Memang, keshalihan adalah pertimbangan utama dalam memilih pendamping hidup. Akan tetapi, keshalihan saja ternyata belum cukup. Harus ada kecocokan. Sebab, cinta adalah tentang kenyamanan. Kita akan sulit mencintai seseorang jika kita tidak bisa merasa nyaman dengannya, secantik atau setampan apapun paras orang tersebut. Sedangkan, perasaan nyaman biasanya lahir dari adanya kecocokan.

Advertisement

Berbicara soal jodoh adalah berbicara tentang bertemunya dua jiwa yang akan bersama-sama mengayuh bahtera rumah tangga mengarungi samudra luas bernama kehidupan. Ini bukan perjalanan yang akan selesai dalam sehari atau dua hari. Tapi perjalanan panjang yang akan mewarnai seluruh cerita hidup kita di dunia sampai ke akhirat nanti. Oleh karena itu, harus ada harmoni antara pilot dengan co-pilotnya. Harus ada chemistry antara dua insan yang akan bersama-sama membangun kehidupan rumah tangga. Agar perahu rumah tangga dapat berlayar dan menjalankan misinya untuk mencapai sakinah, mawadah, wa rahmah. ***

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya