Happily Ever After, sebuah kalimat di dalam akhir sebuah dongeng yang biasa kita baca. Bahagia selamanya. Dongeng merupakan fantasi yang diciptakan seseorang. Aku pun bisa menuliskan cerita dimana tokoh utama bisa mendapatkan segalanya yang ia mau, bahkan tanpa berusaha apapun. Aku bisa menuliskan tokoh utama mengalami cerita hidup yang pahit kemudian dia bangkit lagi dan berakhir bahagia. Aku bisa menuliskan apapun di pikiranku, semua imajinasi yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Tidak ada yang mustahil di dunia fiktif.

Kini kusadari, hal yang aku lihat di drama, maupun dongeng tak semuanya benar terjadi di kehidupan nyata. Dimana yang menuliskannya adalah pemilik hidup ini. Tidak pula aku menyalahkan hidup dan tidak pula aku setuju dengan alur cerita hidupku. Semua sudah aku lakukan dengan sepenuh tenagaku dan aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa dan berdoa.

Advertisement

Mulai kecil, aku sering sakit. Pernah aku tidak sadarkan diri dan rasanya sakit sekali. Aku berteriak dan rasanya setelah itu aku bahkan tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain suara ibuku perlahan di telingaku. Aku berpikir mungkin ini adalah takdirku. Memasuki sekolah dasar, aku juga sering sakit dan ketahanan fisikku memang lemah. Kadang aku bertanya pada ibuku, mengapa aku sering sakit dan kadang aku tidak kuat untuk masuk sekolah. Tapi ibuku berkata dengan semangat, aku akan menjemputmu sepulang sekolah. Semua aku lalui dengan penuh kesedihan, hanya cemberut yang aku tunjukkan setiap hari.


“Ia adalah seorang anak kecil yang hempir menyerah karena sering sakit. Bahkan gurunya terkadang tidak memperhatikannya karena ia sangat tertutup.”


Mulai masuk sekolah menengah pertama, aku berubah menjadi sosok ceria. Hanya tersenyum yang aku perlihatkan ke semua orang. Aku tidak ingin orang lain tahu, aku pernah mengalami masa sekarat dan mungkin hampir menemui Yang Maha Kuasa. Kadang aku melihat makhluk tak kasat mata dan entah kenapa hal itu bisa terjadi. Aku bahkan bisa merasakan dan tahu kapan orang terdekatku akan meninggal. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, tapi semua yang aku lihat benar adanya.

Advertisement

Mulai masuk sekolah menengah atas, fisikku memang tak sekuat dulu lagi, sering sakit lagi, bahkan masa paling lemah yang pernah aku alami adalah di masa sekolah menengah atas. Beranjak ke masa kuliah, pernah aku tidak bisa melihat jalan, semua hitam, syukurlah ada temanku yang menopangku untuk duduk mencari bangku di keramaian. Hitam, kepalaku berat, aku hanya bisa meraba di keramaian, mungkin banyak orang melihatku kenapa. Berbeda ketika aku mulai menyukai seseorang yang lama aku kenal. Entah kenapa energiku menjadi lebih kuat ketika aku bertemu dengannya. Aku selalu tidak kuat dingin. Namun, saat aku dekat dia, aku bahkan jarang merasa dingin, lemah dan sakit bahkan hanya duduk atau berjalan di sekitarnya. Dia seperti energi yang membuatku merasa kuat dan nyaman. Seakan kata hatiku memilih dia. Mungkin dia adalah cinta yang paling berharga untukku dihidupku. Memang dia bukanlah orang pertama yang membuatku jatuh cinta, aku pernah sekali dua kali dikecewakan, dan rasanya semua jadi sia-sia. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, mengapa Yang Maha Kuasa masih memberiku hidup. Di satu sisi aku bahagia, namun aku juga menahan sakit dengan fisikku yang mulai melemah.

Tidak bisa dibayangkan, ternyata sudah lama saat aku menemukannya kembali. Berangkat kuliah bersama, saling menunggu waktu bertemu, saling memperhatikan satu sama lain. Jarak yang terciptapun, tidak menjadi penghalang untuk kita bertemu. Dia selalu ada disaat aku butuh seseorang untuk bersandar. Lagi-lagi mungkin ini cerita Yang Maha Kuasa mempertemukanku dengannya lagi. Saat aku sudah mulai bekerja, dia masih disampingku menemaniku. Andaikan aku pernah menjumpai oase, aku pikir, dia adalah oase bagi hidupku yang tidak sempurna ini.


"Oase kini telah menghilang, gurun pasir tetaplah gurun pasir. Kering dan gersang. "


Setelah bertahun tahun lamanya menunggu dia, akhirnya aku tahu hubungan ini tidak akan mampu dibawa ke jenjang yang lebih serius dan aku hanya bisa menerima keputusannya. Mungkin saja aku harus berlatih untuk sendirian. Pikirku, tidak ada yang tahu, suatu waktu bisa saja Yang Maha Kuasa akan menjemputku lagi seperti dulu. Sejak kecil aku sudah diperingatkan bahwa hidup itu tidaklah selamanya.

Aku pernah menemukan sebuah kalimat, setiap pertemuan dan perpisahan sudah ada yang mengatur, bahkan sekecil apapun hal di dunia ini sudah ada yang mengatur. Bahkan saat sekarang kamu telah perlahan pergi dari hidupku, aku tidak mempermasalahkan. Aku akan mencoba menerima semua ini. Kamu menyadarkanku untuk menjadi wanita yang lebih baik. Bahkan jika aku menjadi lebih baik, itu bukan karenamu, namun aku berpikir memang sudah saatnya aku menjadi lebih baik.

Entah kenapa. Rasa sakit itu mulai datang lagi. Ketika rasanya tidak enak badan, diikuti gelap, pusing, demam, sering aku lupa banyak kejadian di hidupku bahkan yang baru saja aku lakukan, sulit bernafas. Bahkan sekarang aku mulai bisa melihat seseorang dijemput untuk menemui Yang Maha Kuasa. Perasaan itu sudah semakin kuat. Bahkan jika saatnya ini waktuku sudah dekat, aku sudah ikhlas menyerahkan kesempatanku untuk hidup. Bahkan mendapat perpanjangan waktu sampai sekarang sudah lebih dari cukup bagiku. Memanfatkan sebagian hidupku untuk orang lain. Terlalu cepat memastikan waktuku sudah akan berakhir, Yang Maha Kuasa lebih tahu.

Kadang aku penasaran dan takut. Seperti apa kehidupan setelah ini. Setauku yang pernah aku rasakan dulu, sangat dingin melebihi es dan terkadang gempa bumi datang dimana aku hanya bisa berteriak. Aku tidak merasa terhimpit sama sekali, namun rasanya gempa itu membawaku sangat jauh dari dunia ini ke dunia baru. Menakutkan. Sendirian. Apakah seperti itu? Tidak ada makanan kesukaan, tidak ada pakaian kesukaanku maupun semua yang aku punya, aku tidak bisa berpikir apapun selain menyebut nama Yang Maha Kuasa.

Aku hanya ingin berpesan bagi kalian yang masih sehat dan hidup dengan normal, manfaatkan hidup kalian dengan baik. Tidak ada yang tahu kapan pastinya seseorang akan pergi. Hanya, kalian pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar menyayangimu, manfaatkan kesempatan itu dengan baik sebelum kalian menyesal. Waktu tidak akan pernah kembali sedetikpun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya