Mencinta dalam diam memang bukan rasa yang aku alami kini, tapi dulu aku pernah mengalaminya. Rasanya menyakitkan. Lebih banyak duka, dari pada suka. Lebih banyak sakit, dari pada bahagia. Lebih banyak tangis, dari pada tawa. Mencinta dalam diam? Rasanya begitu sulit digambarkan, tak semudah mengucapnya memang. Aku mengalaminya sendiri, dulu.

Beberapa tahun lalu, saat aku masih berada dalam balutan seragam putih abu-abu. Menyimpan rasa pada kakak kelas yang tepat berada di atas aku, menyimpan rasa pada dia lelaki dengan senyum menawan yang mampu meluluh lantakan hati. Menyimpan rasa pada dia, dia lelaki yang bahkan sudah jadi milik gadis lain bukan perkara mudah. Aku merasa begitu bodoh disatu sisi karena mencintai dia yang sudah melabuhkan hatinya untuk gadis lain, tapi di sisi lain aku merasa sangat bahagia hanya dengan melihat wajahnya.

Advertisement

Menyimpan rasa pada dia yang sangat aku kenal, tapi tak mengenalku. Yah, aku tahu dia, tapi dia tak tahu aku. Dia lelaki yang jadi primadona di sekolah, dia lelaki yang telah meluluh-lantahkan hati banyak gadis termasuk aku. Aku merutuki diriku sendiri, merutuki rasa yang dengan bodohnya hadir. Sebenarnya rasa ini tak salah, karena dia memang bisa tumbuh kapan dan dimana pun dia mau.

Tapi masalahnya kenapa rasa yang di sebut banyak orang sebagai cinta ini hadir pada dia, mengapa rasa ini harus untuk dia. Bahkan sampai sekarang aku sendiri sungguh tak mengerti, tak mengerti mengapa dulu aku begitu mencintanya. Menyakiti hati hanya demi dia, membanjiri pipi dengan tangis hanya karena menangis dia. Menangisi dia yang bahkan mengenal aku saja tidak, menangisi dia yang bahkan tahu siapa aku saja tidak.

Kadang aku berpikir apa dia tak menyadari sama sekali akan adanya aku, akan adanya gadis yang diam-diam menyimpan rasa padanya. Tapi sudahlah, memang dasarnya aku saja yang bodoh. Bagaimana mungkin dia menyadari semua, sedang dia saja tak mengenalku. Aku hanya siswa biasa, yang bahkan nyaris tak ada yang tahu keberadaanku selain teman-teman sekelas yang juga kerap acuh.

Advertisement

Tapi dia, dia adalah primadona sekolah yang sudah pasti semua memandang kearahnya. Hingga akhirnya tanpa dia tahu aku pernah mengaguminya, aku kini telah berhenti mengaguminya. Iya, semua berhenti setelah hati dan pikiran berdebat. Hati berpihak padanya memang, sementara pikiran? Justru memikirkan diriku sendiri. Dan aku lebih memilih menuruti apa kata pikiranku, karena dia benar.

Dia benar, mau sampai kapan aku begini? Menyiksa batin, dan jiwaku terus menerus. Lagi pula aku tak mungkin terus menerus berharap pada dia yang tak pasti, pada dia yang bahkan menengok saja tidak. Maka aku putuskan untuk move to the on alias move on, bagaimana caranya juga aku harus bisa melupakan dia. Hingga waktu berlalu, berlalu begitu saja.

Kini semua sudah berbeda, kini aku sudah benar-benar bisa mengusir dia dari dalam hati maupun pikiran. Kini tak ada lagi yang tersisa tentangnya, tak lagi ada tangis untuknya. Sesekali aku tertawa bila mengingat betapa bodonya diri ini, dia adalah kebodohan yang sempat membuat aku bahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya