​Terkadang ada pada satu titik kamu merasa kembali diuji sedemikian rupa. Kamu mengira dengan telah merasa lepas dan bebas, kamu telah mengerti ikhlas yang sesungguhnya yaitu menerima dan merelakan. Tapi ternyata ikhlas itu tidak didapat dengan cukup sekali peristiwa saja, ia selalu datang dan menagih kamu melalui rentetan peristiwa lainnya, terus-terusan membuatmu ingin rasanya menyerah dengan mempertanyakan lagi benarkah keikhlasan itu memang telah ada padamu.

Kapan terakhir kali kamu menangis diam-diam? Apa saat kamu patah hati, saat dalam kerinduan yang tak terperi, ataukah saat kamu disakiti? Saya merasakannya saat ini. Kamu tahu, menangis tanpa ada yang mengetahui selain Dia Yang Maha Kuasa. Rasanya pahit dan manis. Pahit memang ketika kamu menangis untuk meminta bahagia bagi orang terdekatmu. Tapi ia tidak mengetahui. Tidak apa. Kadang ikhlas yang mereka maksud adalah ikhlas diam seperti ini.

Advertisement

Seperti surat al-ikhlas yang tak pernah menyebutkan ikhlas dalamnya.

Saya sulung dari dua bersaudara. Bagaimana rasa hatimu ketika kamu harus berjuang untuk memberi sisa bahagiamu pada adikmu yang membutuhkan. Ya, saya tahu. Padahal kamu lebih membutuhkan namun begitulah hakikatnya terlahir pertama. Berkorban dengan penuh ikhlas. Kamu ingat pernah menangis sekali ketika patah hati. Dengan berbagai jatuh bangunnya, akhirnya kamu telah ikhlas melepaskan seseorang tersebut. Kamu sudah merasa ikhlas. Lalu ketika bahagia telah berhasil kamu rajut kembali. Peristiwa lainnya seolah menjadi penguji ketabahanmu. Kamu harus mengikhlaskan adikmu lebih dulu berbahagia bersama pilihannya. Ya, pada titik ini kamu kembali diuji. Dan kamu mampu melewatinya lagi. Ah, kamu lagi. Kamu lagi. Dan karena kamu mampu.

Kali ini saya hanya ingin menuliskan semua perihal dalam hati. Sebab terkadang hanya kata-kata yang mampu menguatkan. Disuatu hari, Allah mengabarkan bahwa jawaban dari doamu terkabulkan. Dia meminjamkan bahagia yang kau pinta untuk adikmu. Kamu masih merasa hati berbahagia waktu itu, hati terasa bebas, tapi seiring waktu berlalu ujian pun datang lagi, dengan berbagai bentuk yang penuh dinamika. Adikmu tidak memperoleh restu dari Akarmu dan Akarnya. Adikmu menumpahkan segala kekesalannya padamu. Walau dia merasa tidak menumpahkannya. Namun kamu paham, kamu adalah batu penghalang. Kamu sangat paham. Bahwa karena adamu dia tidak bisa memperoleh bahagia itu. Karena kamu belum jua menemukan genggaman untuk berdiri.

Advertisement

Semua rasanya lebih sulit. Semakin sulit. Bahkan dulu kamu tidak akan mengira bagaimana rasanya sekarang menangis sendirian tanpa sandaran. Kadang kita merasa demikian bukan? Kita merasa menjadi manusia dengan ujian paling berat, terpuruk sendirian, rasanya apa yang kita lakukan salah, dan harus bisa menjadi penengah dari perbedaan arah di berbagai pihak.

Dalam hidup, akan selalu ada hal-hal yang tak mudah dikatakan. Seperti saat ini. Ketika kamu menyimpan airmatamu sendirian. Tanpa sepasang mata dan telingapun yang mengetahui kecuali Dia. Sebab apa, karena bagi sebagian mereka yang percaya. Tangisan dalam diammu lebih mudah dimengerti oleh Dia yang Maha Besar. Kali ini jangan berasumsi apapun. Ah mungkin belum terlalu banyak ikhlas yang kupunya. Sehingga Dia terus menguji. Jika benar hati sudah ikhlas dan ridho dengan semua ketetapan Allah, seharusnya apapun itu yang terjadi, tentu saja kamu terus merasa yakin. Ya, walaupun harus menangis dulu. Walaupun harus mengeluarkan sampah kata-kata dulu–di tempat yang tepat tentunya. Walaupun terus diiringi dengan rapalan doa penuh air mata. Walaupun harus berusaha tetap teguh untuk menyembunyikan rapuhmu. Walaupun harus tetap tersenyum dibalik airmata yang tak bisa menetes lagi. Walau Apapun itu. Saya tetap percaya, sebentar lagi ada masanya. Dear Allah, pinjamkan bahagiamu untuk bahagia yang lain. Terimakasih sudah mendengarkan setiap asa pada rintik airmata yang jatuh dipipi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya