Sebelum saya terinspirasi untuk menulis artikel ini, saya sempat mengamati sebuah fenomena yang tidaklah asing dan tidaklah unik: iri hati. Hal ini dimulai ketika saya sempat membaca komentar yang tidak pantas di bagian komentar sebuah berita mengenai seorang mahasiswa yang meninggal di sebuah negara di Eropa karena kecelakaan.


Bagi orang-orang normal yang seharusnya mengerti etika saat mendengar dan membaca berita duka seperti ini, kita pun merasa sedih dan turut berduka cita. Tetapi, tidak bisa dipungkiri ada saja orang-orang yang tidak mengerti etika dan mengejek mahasiswa tersebut. Mereka menulis bahwa kematiannya adalah kesalahannya karena bersikap sombong bisa dibiayai oleh negara untuk sekolah ke luar negeri.


Advertisement

Ketika saya membaca komentar-komentar ini, saya merasa bingung. Di artikel tersebut tidak ada penjelasan lebih mendalam mengenai mahasiswa tersebut. Artikel tersebut hanya menyebutkan bahwa mahasiswa tersebut terkena kecelakaan dan meninggal di tempat.

Tidak ada deskripsi lebih mengenai gaya hidupnya yang membuat dia tidak disukai orang lain atau bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut. Kalaupun mahasiswa tersebut bersikap sombong selama hidupnya, hal itu akan ia pertanggungjawabkan sendiri.

Saya menarik kesimpulan bahwa orang-orang tersebut kemungkinan merasa iri hati karena mahasiswa itu bisa sekolah di luar negeri asalnya. Sejujurnya, iri hati adalah perasaan manusiawi. Kita semua sebenarnya secara tidak sadar dipengaruhi oleh budaya global yang mengajarkan kita untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Advertisement

Selama ini, kita diajarkan bahwa kita harus berkompetisi dengan orang lain untuk merasa lebih baik daripada mereka. Kita tidak boleh puas dengan pencapaian yang ada. Kita harus selalu ingin lebih.


Efeknya? Kita menjadi orang yang susah merasa cukup dan bersyukur. Kita selalu merasa kurang. Kita juga menjadi orang yang merasa kalah dalam hidup (padahal tidak ada yang mengatakan bahwa kita kalah) dan menjadi tidak percaya diri. Kita merasa takut dan iri terhadap kepemilikan orang lain.


Karena kita merasa tidak bisa berjuang lagi, kita pun marah terhadap orang lain yang kita anggap lebih sukses. Kita mengejek orang-orang sukses tersebut karena bila kita membuat orang lain rendah diri, kita merasa memiliki power terhadap mereka. Janganlah heran bila banyak yang menjadi internet troll/bully atau orang-orang yang suka mengejek orang lain di media sosial dan di Internet secara umum. Mereka menjadi internet troll/bully untuk bisa merasa lebih baik daripada orang lain.


Walaupun mengejek orang lain membuat kita merasa lebih berkuasa, efek itu hanya bertahan sementara. Merendahkan orang lain tidak membuat masalah kita selesai. Merendahkan orang lain tidak akan membuat kita sukses.


Kita malah menambah penyakit kejiwaan dan juga secara fisik karena kita hanya bisa iri hati. Orang-orang yang kita anggap sukses akan terus lebih sukses dan bahagia karena mereka berusaha, bukan karena mereka menghabiskan waktu untuk mengeluh dan menjelek-jelekkan orang lain.

Saya mengerti bahwa sulit terkadang untuk tidak merasa iri hati terhadap orang lain. Sulit untuk menghilangkan rasa kecewa saat hidup tidak berjalan seperti yang kita mau. Sulit untuk bisa senang terhadap pencapaian orang lain di saat kita tidak bisa seperti mereka. Sulit rasanya untuk bisa bersyukur saat tidak ada orang yang mengerti pergumulan yang kita hadapi diam-diam.


Tetapi, sulit tidak berarti tidak mungkin.


Mari kita semua belajar untuk menerima perasaan ini apa adanya. Perasaan bukanlah musuh kita. Perasaan adalah sebuah kompas untuk bisa mengarahkan hidup kita. Di akhirnya, kita lah yang bisa mengarahkan ke mana kita akan bisa membawa kompas itu.

Terimalah rasa iri hati itu dan introspeksi diri. Coba tanyakalanlah dan renungkanlah, “Mengapa kira-kira perasaan iri hati ini muncul? Apakah ada sebuah issue internal yang saya belum hadapi? Apakah ada luka batin yang masih saya simpan?

Tanyakanlah juga, “Apakah hidup saya akan selalu berjalan seperti yang saya mau? Apakah ada kemampuan yang harus saya tingkatkan agar bisa meraih kesuksesan seperti orang tersebut?”


Tidak. Hidup tidak akan selalu berjalan seperti kehendak kita. Kita tidaklah se-spesial itu untuk hidup bisa berjalan selalu lancar seperti kemauan kita.


Kita akan menghadapi tantangan yang kita tidak ingin tetapi harus kita jalani untuk bisa dinaikkan ke level berikutnya. Hadapilah dengan tulus. Bila ada kemampuan yang bisa kita pelajari untuk bisa membantu hidup kita, belajarlah! Jangan merasa malas dan cepat puas diri tetapi marah ketika ada orang yang mau berjuang lebih keras dan bisa melangkahi kita.

Ingatlah bahwa manusia itu terbatas dalam banyak hal, mengetahui masa depan termasuk salah satunya. Kita bisa berencana tetapi masih banyak hal lain yang tidak bisa kita kendalikan yang bisa terjadi.

Ingatlah bahwa kita pun bisa menjadi sukses ketika kita menggunakan waktu untuk berkreasi atau untuk memperjuangkan mimpi kita, bukan dengan marah-marah menyalahkan orang lain atas kesialan yang terjadi di hidup kita. Tidak ada manusia yang dibebaskan dari masalah, setiap manusia diberikan masalah yang berbeda.

Tetapi, pilihan ada di tangan kita, untuk menghadapi masalah yang terjadi dan bangkit menghadapi hidup apa adanya atau dengan terus merasa kasihan dengan diri sendiri dan menyalahkan orang lain?

Satu hal yang ingin saya tambahkan adalah, bila kamu merasa gagal atau merasa down, ingatlah, a bad day does not mean a bad life. Ingatlah bahwa kita bukanlah makhluk yang sempurna. Hidup kita hari ini juga bukanlah hasil akhir dari keseluruhan hidup kita. Bila kita hari ini belum sukses, bukan berarti kita gagal.


Hidup sejatinya adalah sebuah proses dan proses itu akan berakhir saat kita meninggalkan dunia ini.


Saya tidak menulis ini untuk menasehati siapapun. Saya sendiri terkadang masih terjebak dengan perasaan iri hati karena saya merasa minder akan pencapaian saya dibandingkan orang lain. Tetapi, saya belajar bahwa waktu yang saya habiskan untuk mengejek orang lain tidak membuat hidup saya lebih baik.

Saya belajar bahwa dengan lebih termotivasi untuk berusaha keras agar saya bisa meraih mimpi seperti yang bisa dicapai orang lain, saya berhasil memperbaiki hidup saya. Kegagalan adalah bagian dari kesuksesan dan itu pertanda bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk introspeksi diri daripada menyalahkan orang lain.

Kita tidak harus selalu bahagia 24/7, tetapi kita bisa selalu bersyukur akan hidup yang kita miliki apa adanya. Setiap dari kita memiliki jalan hidup masing-masing dan bila kita belum mencapai hasil seperti orang lain, janganlah terus jatuh dalam perasaan putus asa.


Mari terus berjuang dan yakinlah bahwa kita bisa meraih sukses menurut kita sendiri dan bisa bahagia apa adanya. Kasihilah diri sendiri dan ingatlah, pilihlah untuk berjuang dan tidak iri hati terhadap orang lain.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya