Hari ini salah satu pertanyaan yang masuk dalam nominasi terfavorite ialah "Kapan menikah?" pertanyaan yang menyentil sejak usia memasuki dewasa dimulai dari 23 tahun, seusai menyelesaikan pendidikan berstatus mahasiswa. Usai acara Wisuda dengan berbagai foto bahagia menggunakan toga yang akirnya didapatkan setelah menempuh waktu 4 hingga 6 tahun study. Terlebih bagi yang tidak menyandang status mahasiswa pertanyaan itu akan menyentil lebih cepat.

Tentu saja setiap orang ingin menikah karena hidup terus berlanjut dan untuknya kita memerlukan keturunan sebagai pewaris dari apa yang kita miliki. Salah satunya kepercayaan selaras dengan yang dikatakan Sahli (1994) perkawinan sebagai hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama memenuhi hasrat melangsungkan hidupnya dengan menurunkan keturunannya.

Tertulis jelas juga dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 1/1974, bab I, pasal 1 bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.Perkawinan tidak hanya ikatan lahir yang tampak oleh kasat mata tetapi juga bergandengan dengan ikatan batin, sesuatu yang menyangkut jiwa dengan hati yang tulus ikhlas.

Setiap perempuan dan laki-laki yang telah dewasa tentu saja ingin memiliki hubungan yang terbuka dalam ikatan yang diakui oleh semua lapisan masyarakat yakni pernikahan tetapi hal itu tidak cukup sampai disitu saja, mereka juga ingin memiliki ikatan batin dimana ikatan inilah yang paling penting untuk mencapai tujuan dari sebuah pernikahan. Padahal kedua orang tua, om-tante, ibu tetangga, dan orang-orang yang telah lebih dulu melewati masa itu seolah tidak paham tentang "pernikahan" hingga masih saja bertanya "Kapan menikah?"

Kalau kamu yang mendapat pertanyaan "Kapan menikah?" adalah seorang perempuan, jawab saja "Sedang menunggu pemilik tulang rusuk ini melamarku, doakan supaya Tuhan segera mendatangkannya ke rumahku" jika kamu seorang laki-laki jawab saja, "Tuhan yang menuliskan takdirku dan aku tidak ikut serta."