Saya kira setiap orang perlu merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang datang dalam hidupnya. Seperti ketika pagi-pagi membuka email dan menemukan notifikasi pengunjung Stellermu sudah lebih dari 2700 orang. Atau ketika iseng melongok statistik Instagram dan menyadari bahwa ada 50 orang yang menyimpan fotomu sebagai koleksi. Atau ketika cerita perjalananmu dibagikan puluhan sampai ratusan orang di Facebook. Atau ketika mendapatkan potongan sampai setengah harga untuk tiket pesawat ke Anambas. Atau ketika akhirnya bisa berlibur ke Kepulauan Kei dan mendapatkan cottage murah dengan pemandangan lautan lepas. Atau kejutan-kejutan kecil lainnya.

Rayakan, karena hidup sejatinya adalah sebuah perayaan!

Orang boleh bilang norak, tapi percaya tidak kalau kebahagiaan-kebahagiaan semacam itu lah yang menjadi pemantik untuk tetap bersemangat dengan segala rintangan hidup ke depan? Orang mungkin akan tertawa sinis, tapi apakah kita punya waktu untuk peduli? Kita terlalu sibuk dengan kehidupan yang penuh kejutan manis, walau tidak dipungkiri, kadang ngelu juga dengan berbagai kenyataan pahit yang menerpa. Orang bisa saja mencela, tapi mungkin mereka belum merasakan sensasi hangat penuh syukur setiap kali kita dikejutkan oleh kado-kado dari semesta. Hidup terlalu berharga untuk kita lewati dengan memikirkan ucapan orang. Benar? Harus benar!

Sedikit mungkin yang tahu malam-malam tidak tidurmu demi sebuah postingan di blog, jerih payah mengumpulkan mood menulis. Sedikit mungkin yang mengerti dengan usahamu berbulan-bulan belajar mengambil foto, mendapatkan sudut dan momen yang tepat, serta mengeditnya untuk menambah sentuhan akhir agar lebih menawan. Sedikit mungkin yang paham kenapa kamu seakan ‘liar’ sekali berpetualang kesana kemari. Sedikit mungkin yang ikut merasakaan bahagiamu ketika akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat yang selama ini hanya bercokol di bucket list.

Tapi sekali lagi, siapa yang peduli dengan itu semua?

Advertisement

Rayakan saja!

Dengan apa?

Sujud dan berdoa kepada-Nya adalah cara paling mudah. Apa lagi? Menulis cerita-cerita perjalanan lainnya, mengunjungi sudut kota yang belum pernah kamu datangi, lalu ambil foto dengan momen terbaik disana, seharian merasakan air asin mengepung tubuhmu, lalu mengakhirinya dengan senja oranye nan melankolis, serta berbagai cara merayakan kehidupan lain versi dirimu sendiri. Semakin dirayakan, semakin kita termotivasi untuk bekerja lebih keras, bukan? Ingat saja janji-Nya, ketika kita bersyukur, maka Dia akan menambah kejutan-kejutan manis itu.

Kita tidak tahu ada apa di depan sana. Kita hanya disuruh mengikuti perjalanan hidup yang sudah digariskan oleh-Nya. Jadi, mengapa tidak dipenuhi saja dengan rasa bahagia dan penuh syukur? Mengapa tidak diisi saja dengan berbagai prasangka baik? Toh, kehidupan yang kita jalani sekarang adalah sebuah pemberian. Sebuah kado, dari Dia, Sang Pencipta Yang Agung.

Maka, rayakanlah.

Dengan cara paling bahagia.

Ya?