Banyak pepatah mengatakan "Life begins at twenty" atau thirty atau forty dan kelipatan sepuluh selanjutnya. Ada juga pepatah yang mengatakan "Life begins in college" atau work atau married atau tahap-tahap hidup selanjutnya. Jadi gimana caranya kita tahu bahwa kita telat menikmati hidup atau telat menyeriusi hidup?

Menurut gue pepatah ya pepatah. Perkara kita mau percaya pepatah atau mau percaya pepatah yang mana itu balik lagi ke hak kita sebagai manusia yang bebas berpendapat. Tapi masalahnya dalam satu waktu pasti akan ada momen yang membuat kita merasa sangat bodoh dan berkata "Gue ngapain aja sih selama ini?". Itu adalah ciri-ciri pertama bahwa lo (hampir) telat.

Kemudian sebaiknya setelah lo sadar lo (hampir) telat, lo harus cari hal-hal yang telah lo missed selama ini. Misalnya selama ini lo belum pernah camping, atau lo belum pernah nongkrong sendirian di restoran atau kafe, atau lo belum pernah ikutan charity event, atau lo belum pernah jadi volunteer, atau lo belum pernah punya pacar, list semua hal-hal yang belum pernah lo lakukan. Mau itu hal yang menurut orang sangat wajib menjadi bucket list setiap orang, maupun hal yang menurut orang sangat random dan gak penting.

Setelah lo ngelist semua (atau banyak) hal yang lo belum pernah rasain, cari temen yang sama-sama lagi nyari temen untuk jadi first timer bareng. Disarankan adalah temen yang emang lo nyaman dan kenal baik karena kata (lagi-lagi) pepatah "You will never forget the first time.". Jadi pada saat nanti lo lebih tua, mungkin sudah punya anak, lo ceritanya juga bahagia karena kalau pun di saat itu your first timer pal udah gak terlibat lagi di hidup lo, setidaknya lo tau bahwa di masa kalian melakukan hal itu bersama kalian sama-sama menyetujui dan bahagia.

Atau kalau lo gak mau terlalu ngerasa awam, lo bisa cari temen yang udah pernah dan jadinya lo dianggap turis sama mereka dan mereka tour guidenya. Mungkin lo belum pernah dengerin live musik sampe tengah malem dan lo butuh rekomendasi dimana tempat yang enak? Siapa lagi yang bakal lo tanya kalo bukan temen lo yang udah pernah? Oke, mungkin internet.

Advertisement

Tapi untuk kasus dengerin musik sampe tengah malem sendirian itu akan terasa sepi dan menyedihkan kalau lo taunya dari inernet dan memutuskan untuk kesana sendiri. Gak apa-apa juga sih. Mungkin bisa dipecah jadi dua kali. First time nongkrong dengerin musik sama temen dan first time nongkrong dengerin musik sendirian. Trust me, rasanya beda.

Setelah lo mencari teman atau lo memutuskan untuk membagi list lo menjadi yang gue bilang-bersama teman dan sendirian- lo lakukan deh hal itu. Coba camping ke hutan bareng sama temen-temen sekolah lo sekaligus reunian mungkin. Atau nongkrong sendirian di restoran atau kafe sambil modal laptop dan numpang wifi. Atau ikutan volunteer sendiri dan berakhir punya temen baru dari event yang lo ikutan.

Atau cari pacar. Untuk yang ini, mungkin akan lebih baik kalau lo gak nyari temen, karena banyak kasus pertikungan sekarang. Ibarat penyakit mending dicegah daripada mengobati. Karena ini hidup lo, lo sendiri yang harus tanggung jawab perkara pengalaman hidup yang lo dapatkan. Lagi-lagi kalau emang lo punya hal-hal yang menjurus kepada keburukan, ada baiknya lo mikir dua kali apakah pengalaman hidup itu pantes lo dapetin. Apakah pengalaman hidup itu pantes lo ceritain ke anak cucu. Apakah pengalaman hidup itu bisa lo ceritain nantinya. Karena belum tentu setelah lo melakukan hal-hal yang menjurus pada keburukan lo bisa kembali lagi, atau bahkan bisa ada lagi.

Pepatah terakhir,

"Better late, than never."