Ketika menuliskan perihal tentang kamu, saya (terpaksa) harus memutar kembali film-film yang mengingatkan tentang adanya kamu yang dulu merupakan segalanya. Sialnya, luka-luka yang kamu coba tutupi saat menuliskan kembali perihal rasa sakit akan kehilangan justru bertambah merekah megah. Walaupun kamu coba sembunyikan dengan senyuman yang menurutmu paling sumringah namun justru membuatmu merasa sedang memakai topeng monyet. Kamu memiliki kemampuan untuk melukis senyum pada topeng yang sedang kamu pakai tersebut agar mereka tetap mengira bahwa kamu baik-baik saja. Dan kamu tetap bisa mengkamuflase diri dari segala rasa iba dan simpati dari mereka yang menurutnya tahu segalanya tapi tidak tahu yang kamu rasa. Yah, luarbiasa Tuhan saat menciptakan perempuan dengan dua paket kelebihan menjadi satu yaitu kuat saat lemah.

Maka dari itu, ketika dia merasa harapannya kembali jatuh berserakan, Dia tahu bagaimana memperbaikinya kembali dalam diamnya bibir yang terus bernafaskan Sang Pencipta. Meski kamu hanya mampu menangis. Bukan berarti kamu tidak mampu tersenyum setelahnya. Menangis dalam hati yang membuatmu semakin merasakan kesakitan yang teramat paling adalah Kelembutan yang sesungguhnya. Kamu bukan cengeng, justru kamu amat kuat. Dan menangis pada Pemilik Segala Airmata adalah tangisan yang penuh kenikmatan. Sebab Dia mendengarkan, Dia merasakan. Dia memberi sandaran.

Pernahkah kamu mendengar bahwa memaafkan akan mengobati segala luka dalam hati? Memaafkan berbagai macam rasa yang dia berikan kala memintamu melepasnya. Memaafkan atas segala rasa yang telah mampu meluluh-lantakan segala perabotan dalam ruang utama hatimu. Pernahkah kamu mencobanya, meski hanya sekedar coba-coba? Mungkin banyak yang tidak akan pernah menyangka bahwa ada disuatu masa, ketika hatimu yang kamu kira telah kembali ceria rupanya hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja. Hatimu hanya sedang bimbang, alasanmu waktu itu. Tapi sayangnya kamu sangat tahu sekali bahwa musuh terbesar bagi hati, ialah harapan.

Lalu, kenapa kamu menanam benihnya kembali? Saya tanya kembali padamu wahai hati. Pernahkah kamu mencoba bahwa memaafkan akan mengobati segala luka ? Pernahkah kamu mendengar ada yang mengatakan “Wahai hati jika kamu memilki harapan kamu harus menyiapkan kapasitas besar dalam ruang perasaanmu. Agar ketika kecewa, ruangan tersebut cukup kokoh untuk menopang badainya. Walau kamu mencoba menghilang dari semesta pun. Tetap rasa lain dari sakit tersebut tidak mampu menyembunyikan dirimu dari rapuhnya dinding dalam hati yang sedang kamu coba bangun kembali. Kamu tidak harus melarikan diri darinya, kamu yang sedang berantakan seperti ini seharusnya membangun tangga ke tempat Tuhan berada. Daripada terus-terusan bertanya apa dia masih mungkin menerimamu lagi. Lebih baik sadar situasi wahai diri, Apakah Tuhanmu masih enggan menerima hatimu yang tidak lagi suci itu?

Kini, jangan pernah berharap atau percaya pada setiap persepsi yang kamu dengar atau baca bahwa waktu akan menjawab semuanya atau waktu akan menghapus segalanya. Karena waktu tidak ditugaskan untuk hal remeh tersebut. Waktu adalah pusaran kehidupan. Bagaimana kamu menghadapi masa depanmu nanti tergantung bagaimana kamu merenovasi masa lalumu terlebih dulu. Kamulah yang harus menjawab dan menghapus segala perihal tentang rasa tersebut. Kamulah yang berperan penting untuk bahagiamu. Kamu, pemegang kendali atas lamanya lukamu bertahta serta kapan kamu memulai bahagiamu. Ah, ayolah jangan merutuki diri bahwa kamu tidak layak. Dan jangan juga merutuki dia yang menanggalkanmu dari hidupnya. Semakin kamu memakinya, semakin kamu kehilangan kualitas dirimu. Percaya pada satu hal “Setelah hujan akan selalu ada pelangi".

Advertisement

Kamu yang telah sampai pada akhir tulisan ini. Kamu adalah jiwa yang cantik apalagi kembali tersenyum setelah jatuh. 😊 “Katakan pada diri, Jadilah dirimu yang terbaik bukan apa adanya. Cinta yang berkualitas bukan hanya milik mereka yang memiliki kelebihan diatasmu. Justru cinta yang berkualitas