Keduanya, sama. Tak beda, bahkan bisa dibilang mirip. Mereka makan dan minum setiap harinya. Keduanya sama-sama bernapas dengan udara yang telah disediakan Allah SWT. Sama-sama memiliki kewajiban dan hak. Sama-sama dikaruniai Allah anggota tubuh yang lengkap, tak kurang satu pun.

Hanya saja, saat si pemalas bangun dari tidurnya, ia akan bilang bahwa hari masih terlalu pagi. Sedangkan si sukses bergegas bangun dari tidur dan menyingsingkan selimut hangatnya. Jika si pemalas masih ingin terus bercengkerama dengan kasurnya, maka si sukses ingin segera berbenah diri dan bergegas menantang kehidupan. Jika si pemalas masih ingin terus bergelayut dalam manisnya mimpi, maka si sukses datang menghampiri mimpi itu secara nyata.

Tak ada yang tiba-tiba di dunia ini kawan. Segalanya perlu kerja keras untuk bisa mencapainya. Jika kau bermalas-malasan, kapan kau akan segera meraih impian yang kau cita-citakan? Kapan kau akan bisa segera membangun negeri ini menjadi lebih baik? Kapan kau akan segera membahagiakan kedua orangtuamu dengan hasil kerja kerasmu?

Pintar tak cukup membantumu untuk bisa melewati skenario kehidupan ini, tapi cerdas akan mengantarkanmu menjadi individu yang mampu menantang kerasnya kehidupan. Jangan pernah andalkan prestasi yang telah kau capai. Tapi jadikan prestasi itu sebagai andalan untuk meraih kesuksesan. Prestasi yang telah kau raih, merupakan tanda bahwa kau bukan tipe orang pemalas.

Kau bukan orang yang mudah putus asa, dan kau bukan orang yang tak pantas untuk mendapatkan prestasi tersebut. Oleh karenanya, buktikanlah! Jika kau memang orang yang layak untuk mendapatkan preatasi itu. Jangan pernah permalukan prestasi dengan diammu. Jangan pernah kecewakan prestasi dengan tindakan malasmu.

Advertisement

Tujuan tak akan pernah sampai jika kau hanya berdiam diri. Setidaknya satu langkah kakimu mampu mengantarkanmu untuk lebih dekat dengan tujuanmu.