Hai kasih,

Selamat pagi, atau siang, atau sore, mungkin juga malam. Tak tahu pasti kapan kau akan membaca ini. Kuharap kau membacanya setiap saat, seperti kau yang mengingatku setiap saat. Kuharap begitu.

Kabarku baik, tak perlu risau. Sengaja tak ku tanya kabarmu terlebih dahulu, aku tahu kau selalu luar biasa. Seluar biasa cintaku untuk dirimu (mungkin).

Kau tahu, aku baru membeli sepasang sepatu kemarin, kubeli itu dari gaji pertama kerja part-time ku. Aku sangat bahagia dapat membeli sesuatu dari keringatku sendiri. Aku menyukai sepatu itu seperti aku menyukaimu, tapi tetap kau yang pertama dan sempurna.

Hari bahagia itu pun tiba, seperti kecupan pertama mungkin rasanya, umm lebih indah. Sepatu yang kupesan tiba, kubuka bungkusan coklat khas paket kiriman barang. Kubuka kotak kardus itu perlahan, takut robek bungkusnya terlalu lebar. Benar indah sepatu itu, kini kulihat dia tepat di depan mata, makin ku jatuh hati dan makin ku sukai. Ku ambil sepatu itu dari dalam kotak, ku keluarkan dengan maksud untuk kukenakan pertama kali.

Advertisement

“Ah sial,” gerutuku dalam hati. Tak ingin sepatu itu mendengar gerutuku. Tak ingin buat dia sedih.

Sepatu yang tiba di tempatku kekecilan, tak muat bagi kakiku. Ada hasrat yang mendorong diriku untuk memprotes karena barang yang tiba berbeda. Namun kemudian niat itu kuurungkan, aku teringat bahwa sepatu itu adalah sepatu yang sangat kuinginkan, kucintai, dan yang ingin kujaga.

Kurang lebih dua tahun berlalu, aku berjalan tanpa alas kaki. Aku bertahan. Terus bertahan. Perlahan tembok benteng pertahanku mulai rapuh. Aku berniat membeli sepatu lain, kali ini harus pasti pas dengan kakiku, walau tak seindah sepatu pertama.

Lantas kulap sepatu itudan kumasukan kembali ke kotaknya, agar tak berdebu, karena perjalannya akan panjang. Kemudian kukirim kembali sepatu itu ke tokonya dengan tidak meminta uangku dikembalikan. Aku hanya ingin sepatu itu ingat, bahwa aku pernah membelinya terlebih dahulu.

Di lubuk hati, aku merasa sedih kasih. Mengapa ukuran yang diantar malah kekecilan? Mengapa telapak kakiku terlalu besar? Mengapa aku tak bisa memiliki dan memakai sepatu itu? Aku bodoh. Ya aku bodoh, mengapa aku harus memilih sepatu itu? Kau tahu kasih, sempat terpikir di benakku untuk memotong jari-jemari kakiku agar sepatu itu dapat muat untuk ku-kenakan nantinya. Namun aku takut, aku kehabisan darah lalu mati bodoh demi sepatu itu.

Kupikir-pikir ulang, aku sadar kasih, aku tak bodoh telah memilih sepatu itu, ya walau tak bisa ku miliki, lebih tepatnya bukan untuk kumiliki. Tapi aku tetap merasa bahagia, dapat membeli sepatu dengan jerih payah sendiri, dan memilikinya walau hanya sejenak. Satu hal lagi yang ku tahu pasti, sepatu itu yang memilihku untuk membeli dirinya, membebaskannya dari toko untuk dapat kumiliki. Ya berhasil kumiliki, sejenak saja.

Kau tahu kasih, cinta tidaklah harus saling memiliki. Cinta hanya tentang pesan, isyarat, perasaan. Aku mengerti pesanmu saat itu, kala itu. Saat itu aku sudah membelimu lunas dengan cinta, karena isyarat darimu untuk kubeli. Kau jadi kepunyaanku saat itu. Saat itu saja. Ya, saat itu saja.

Tapi tenanglah, nota pembelianmu selalu ku simpan di sini, di jantung hati kepunyaanku. Kuletakkan di bagian arsip-arsip penting di situ. Aku tak akan melupakanmu, tenanglah. Barang pertama dari peluh sendiri, tak mudah dilupakan, tentu kau tahu itu, kau juga pekerja bukan?

Sudah, aku akhiri surat ini di sini. Titip salam untuk siapapun yang merawatmu kini. Paksa dia agar selalu membuatmu mengkilat, hingga membuat orang yang melihatmu terpana.

Aku bangga, akan waktu yang sebentar itu.

Selamat tinggal.

Tertanda,

Tangan Pertama