Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah laut paling luas dibandingkan dengan wilayah daratnya. Maka dari itu Indonesia termasuk dalam negara maritim. Untuk menjaga wilayah lautnya, Indonesia memerlukan angkatan bersenjata yang bisa mengawasi dan mempertahankan wilayah laut negeri ini. Perbatasan – perbatasan wilayah laut Indonesia sendiri diawasi dan dipertahankan oleh kapal – kapal patroli TNI AL.

Banyak Negara menggunakan kapal patroli dalam mengawasi dan mempertahankan perbatasan lautnya, termasuk Indonesia. Dan banyak pula negara beranggapan bahwa kapal yang cepat, peralatan yang canggih dan kaliber meriam yang besar merupakan faktor utama kekuatan dalam pertahanan dan daya gempur kapal perang terutama kapal patroli. Banyak yang tidak terlalu memperhatikan dan memandang sebelah mata penggunaan kapal selam dalam pertahanan.

TNI AL sendiri banyak fokus untuk mempercanggih persenjataan dalam kapal perang. Perlu diketahui bahwa kapal selam merupakan senjata bawah laut yang mematikan dan sangat efektif dalam bertempur dan menyusup. Sangat penting untuk mengikut sertakan kapal selam sebagai bagian dalam patroli dan pertahanan batas wilayah laut, minimal hanya sekedar mengawal kapal patroli.

Sejarah perang dunia 2 telah banyak membuktikan bahwa kapal selam merupakan armada laut yang sangat efektif dalam menyerang maupun bertahan. Kita ambil contoh armada kapal selam Jerman (U-boat) pada masa perang dunia 2. Angkatan laut Jerman (Kreigsmarine) pada saat itu terlihat begitu telat dalam mengembangkan kekuatannya bila dibandingkan dengan angkatan bersenjata lainnya.

Sehingga pihak Kriegsmarine begitu kelabakan dalam mengimbangi pergerakan angkatan darat dan udara Jerman yang dengan cepat menguasai setengah Eropa pada saat itu. Akan tetapi salah satu panglima armada kapal selam Kriegsmarine mengajukan konsep tentang pembuatan kapal selam. Menurutnya, membangun satu kapal perang setara dengan membangun satu armada kapal selam lengkap dengan awaknya.

Advertisement

Berdasarkan konsep yang diajukan, maka Kriegsmarine mulai fokus menerjunkan banyak kapal selam untuk mengawal armada kapal perangnya. Dengan cepat armada U-boat menjadi hantu bawah laut yang paling ditakuti kapal – kapal AS dan Inggris. Bagi AS dan Inggris keberadaan U-boat dalam perang lautan memang menjadi kendala tersendiri. Kehebatan konsep penggunaan kapal selam tersebut diakui langsung oleh Churchill.

Usai perang secara terbuka Churchill berkata, “satu – satunya yang membuat saya amat takut dalam peperangan laut adalah keberadaan U-boat”. Dalam hal ini, sejarah secara langsung membuktikan bahwa penggunaan kapal selam untuk mengawal kapal perang adalah sangat efektif.

Kalau sejarah berkata demikian, maka tak ada salahnya kita coba untuk mempraktekkannya. Karena sangat disesali bahwa peran kapal selam di negeri ini tak terlihat dalam usaha mempertahankan wilayah maritim Indonesia. Yang sering terlihat berperan adalah kapal – kapal patroli yang notabene adalah kapal – kapal perang kecil dan hanya mengutamakan kecepatan. Meskipun kapal – kapal perang modern saat ini telah dapat mendeteksi kapal selam, tapi Indonesia bisa melakukan penelitian untuk mempercanggih kapal selamnya agar tak terdeteksi atau memiliki kelebihan – kelebihan lain.

Memang penting mempercanggih kapal perang, tapi kita juga butuh dukungan dari bawah laut. Logikanya, pertempuran kapal melawan kapal hanya mengandalkan ketepatan dan daya hantam meriam kapal saja. Sedangkan bila kapal melawan kapal selam, maka kapal harus bekerja dan berpikir dua kali untuk mendeteksi dan membidik kapal selam. Kapal hanya akan menggunakan radar untuk mendeteksi, dan meriam dengan kaliber yang dibangga – banggakan pun tak dapat digunakan untuk membidik kapal selam.

Sehingga perlu adanya penggunaan kapal selam dalam mengawal kapal – kapal patroli. Dengan begitu, pertahanan perbatasan maritim dapat setara dengan menempatkan kapal tempur di setiap perbatasan laut negeri ini.

“tak perlu membangun kapal perang besar dalam jumlah banyak untuk mepertahankan wilayah maritim di sebuah negara maritim.”