Kita sering menemui perdebatan yang berangkat dari perbedaan sudut pandang terhadap suatu objek dan masing-masing berusaha untuk membenarkan sudut pandangnya masing-masing. Ketika tiada mendapat suatu kesimpulan, maka muncul lah sebuah keputusan untuk menghargai setiap sudut pandang dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran harus diakui. Yang intinya, janganlah merasa ego karena kebenaran itu cuma persoalan sudut pandang.

Lantas, apakah kebenaran bisa diinterpretasikan dengan cara yang demikian? Memutuskan perselisihan pandang hanya dengan menghentikannya dengan menyuruh untuk berhenti mempersoalkannya dan kemudian meninggalkan perkara tersebut tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?

Advertisement

Kita ambil sebuah contoh. Ketika Gunung Gede Pangrango dipandang dari arah yang berbeda. Tentu akan menghasilkan visualisasi yang berbeda. Yang memandang dari arah utara, akan memiliki perbedaan bentuk bagi yang memandang gunung ini dari arah selatan. Begitu juga dengan yang memandang dari arah timur dan barat.

Pada tahap kesimpulan awal, akan ada 4(empat) bentuk dari gunung tersebut yang masing-masingnya akan menilai bahwa kesimpulan mereka adalah benar. Namun, setiap penilaian ini dipertemukan. Tentunya akan perdebatan karena masing-masing merasa paling benar dengan penilaiannya. Hal tersebut tidak bisa kita definisikan sendiri karena setiap penilaian memiliki landasan dan bukti yang nyata.

Jika kita lihat perselisihan pandang tersebut, kita tidak bisa memutuskan penilaian mana yang paling benar. Karena setiap penilaian memiliki landasan yang nyata, hingga kita tidak bisa menemukan penilaian mana yang salah. Namun, jika kita berhenti di situ saja, maka kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana kebenaran dari bentuk Gunung Gede Pangrango yang sebenarnya.

Advertisement


Dengan mengambil kesimpulan bahwa “kebenaran itu hanya persoalan sudut pandang, jangan merasa paling benar”. Tetap, tidak akan pernah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Lantas, apa yang harus dilakukan? Nah, disinilah peran dari pemikiran. Ketika suatu permasalahan menimbulkan kesimpulan yang berbeda karena berangkat dari sudut pandang yang tidak sama. Maka pada saat itu perlunya dilakukan penyatuan sudut pandang dan kemudian bersama mencari titik temu yang bisa menyatukan semuanya. Jika kita lihat pada contoh Gunung Gede Pangrango ini. Ketika setiap penilaian dipertemukan dan kemudian bersama-sama mencari kesimpulan yang tepat.

Jika dilandasi dengan pemikirang benar, maka masing-masing pihak tentu akan sepakat untuk melihat kebenarannya dari sudut pandang yang bisa menyatukan 4(empat) sudut pandang tersebut. Yakni, mencoba menggunakan metode yang melibatkan teknologi dengan melihat Gunung ini secara vertikal atau dari arah atas gunung tersebut. Bisa dilihat langsung dengan menggunakan pesawat terbang, drone atau memanfaatkan foto satelit.

Nah, ketika hal tersebut sudah dilakukan. Maka masing-masing perbedaan sudut pandang dapat disatukan dan ditarik kesimpulan yang disepakati. Karena masing-masing pihak bisa melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang sama, tanpa meninggalkan sudut pandang awal yang mereka miliki. Maka, pada saat itulah kebenaran yang sesungguhnya dapat diketahui.

Langkah seperti ini tentunya berlaku pada pada setiap permasalahan yang ada di dunia ini. Ketika beberapa orang dengan penilaian yang berbeda disatukan dalam sebuah diskusi dan kemudian bersama-sama mencari kebenaran yang sesungguhnya. Melihat dengan sudut yang sama, tanpa meninggalkan sudut pandang awal yang mereka miliki. Maka pada saat itulah kebenaran yang sesungguhnya dapat disimpulkan.

Namun, semua itu hanya bisa dilakukan jika masing-masing pihak memiliki kapasitas berpikir yang cukup dan memiliki pemikiran yang benar dalam menyikapi suatu perbedaan. Kapasitas berfikir yang cukup ini juga bisa bermakna sebagai bentuk keterbukaan dalam berfikir karena dengan keterbukaan tersebut seseorang bisa menerima hal-hal baru yang selama ini belum pernah mereka ketahui.


Jika yang dikedepankan adalah ego, kepicikan, berpikir seperti menganggap teori dan metode hanyalah retorika kosong, atau menutup diri dari segala bentuk pengetahuan baru dengan dalih “ saya hanya orang awam, hal yang demikian sulit untuk saya fahami”. Maka kita akan selamanya menjadi manusia yang sulit mengetahui kebenaran yang hakiki dari kehidupan ini.


Jika kita merasa belum memiliki pengetahuan yang belum cukup, kita senantiasa diperintahkan untuk belajar demi memiliki kapasitas berpikir yang cukup. Jangan menilai pihak yang mencoba menjelaskan suatu perkara dengan pengetahuannya itu sebagai bentuk kesombongan. Karena itu bisa jadi bentuk sikap kita yang tertutup dengan pengetahuan baru. Atau mungkin, kita sudah merasa paling benar dengan pemahaman yang ada dan membungkus sikap tinggi hati tersebut dengan tanggapan yang menyatakan bentuk kerendahan hati kita.

Memang benar, kebenaran yang mutlak itu hanya ada pada Tuhan dan manusia tidak bisa memunculkan kebenaran yang mutlak. Namun, Tuhan menurunkan wahyu yang bisa memudahkan manusia untuk mengetahui bagaimana kebenaran yang hakiki itu. Ada wahyu yang berbentuk kebenaran yang sudah jadi, ada juga wahyu yang kebenarannya perlu digali oleh manusia dengan menggunakan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya, yakni akal dan pikiran.

Dengan demikian, kita sepakat bahwa kebenaran mutlak itu bisa diketahui ketika kita mampu akal dan pikiran secara optimal serta menggunakan pendekatan yang tepat, hingga perbedaan sudut pandang dapat ditarik sebuah kesimpulan yang dapat disepakati secara bersama.


Jika menggunakan dalih perbedaan sudut pandang yang harus dihargai sebagai cara untuk membenarkan pandangan kita yang juga artinya adalah bentuk pemeliharaan terhadap ego kita sendiri. Maka, kita akan selamanya terjebak di dalam kesesatan berfikir yang akan terus menjauhkan kita dari kebenaran yang sesungguhnya. Bukankah kita senantiasa diperintahkan untuk berfikir dengan benar?


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya