Hawa nafsu…

Kondisi kehidupan di dalam masyarakat konsumer sekarang ini adalah sebuah kondisi yang di dalamnya hampir seluruh energi dipusatkan bagi pelayanan hawa nafsu-nafsu kebendaan, kekayaan, kekuasaan, seksual, ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, keindahan, kesenangan; sementara hanya menyisakan sedikit ruang bagi penajaman hati, penumbuhan kebijaksanaan, peningkatan kesalehan, dan pencerahan spiritual.

Kini tak ada lagi perjuangan revolusioner yang dapat hidup tanpa menghambakan diri pada pembebasan hawa nafsu…

Di dalam kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang kedalaman spiritual, maka sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu. Kini tak ada lagi perjuangan revolusioner yang dapat hidup tanpa menghambakan diri pada pembebasan hawa nafsu.

Dengan mendekonstruksi norma-norma dan moralitas yang mengatur hawa nafsu; dengan melepaskan belenggu dan membiarkan hidupnya dalam keanekaragaman bentuk seksual dan erotika, sehingga lenyaplah perbedaan antara normal dan abnormal; dengan membuka selubung diri selebar-lebarnya, sehingga lenyaplah dimensi rahasia; dengan membuka katup dan membiarkan modal mengalir sebebas-bebasnya sehingga lenyaplah nilai guna (ingat ekses ekonomi pasar bebas berupa kuis, undian dan bonus) dengan menghanyutkan sedalam-dalamnya dalam gairah kesenangan citraan dan tontonan sehingga lenyaplah batas antara realitas dan fantasi, maka dari semuanya inilah revolusi kebudayaan dapat bersemi. Revolusi kebudayaan ini yang mencapai titik ekstremnya akan semakin mempersempit ruang bagi perenungan, penghambatan, dan pencerahan spiritual.

Seperti halnya perputaran modal, perputaran hawa nafsu tak akan pernah terpenuhi, tak ada ujungnya…

Dengan terbuka lebarnya belenggu hawa nafsu, maka pusat gravitasi dunia kini digantikan oleh apa yang disebutnya ekonomi libido, yaitu yang berkaitan dengan perkembangbiakan dan naturalisasi hawa nafsu. Di dalam ekonomi libido apa pun diproduksi, apa pun normal, apa pun tanpa rahasia, apa pun nyata. Mengalir dan berpusatnya hawa nafsu di dalam masyarakat ekstasi, mengikuti hukum mengalirnya nilai tukar dalam sistem ekonomi pasar bebas.

Mesin harus berputar, model harus berganti secara terus-menerus, penampilan harus diperbarui. Seperti halnya perputaran modal, perputaran hawa nafsu tak akan pernah terpenuhi, tak ada ujungnya.

Sebuah sistem komunikasi yang menjujung tinggi kepalsuan, ilusi, penampakan ketimbang makna-makna.

Di dalam masyarakat konsumer dan ekstasi yang seluruh energi dipusatkan bagi pemebebasan dan pemenuhan nafsu, di dalamnya diskursus komunikasi tidak lagi ditopang oleh sistem makna dan pesan-pesan, melainkan oleh sistem bujuk-rayu. Sebuah sistem komunikasi yang menjujung tinggi kepalsuan, ilusi, penampakan ketimbang makna-makna.

keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora nafsu; gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.

Rayuan beroperasi melalui pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya, sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebentuk wajah yang penuh make-up adalah wajah kosong makna, sebab penampakan artifisial dan palsunya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan rayuan adalah kepalsuan dan kesemuan. Apa yang diinginkan melalui rayuan bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora nafsu; gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.

sebuah wacana yang menenggelamkan manusia selamanya ke dalam lembah kesemuan…

Oleh karena rayuan tidak pernah berhenti pada kebenaran tanda, melainkan beroperasi dan kerahasiaan, maka ia menjadi sebuah wacana yang menenggelamkan manusia selamanya ke dalam lembah kesemuan. Di sinilah telak amoralitasnya rayuan, yang menggelincirkan setiap orang dari kebenaran dan menjatuhkannya dari pengasahan spiritual, karena tergoda penampakan visual.

Dunia yang dibangun oleh cita-citra dan ilusi-ilusi kekuasaan, kenyamanan, kegairahan, dan ekstasi…

Sebatang tubuh sebagaimana halnya sebuah iklan, atau sebuah permainan Playstasion yang menggoda diciptakan untuk menandai sesuatu, namun lewat tanda-tanda yang tanpa makna. Semuanya diselimuti oleh penampakan ilusi, perangkap parodi dan simulasi. Semuanya bersatu membentuk dunia keterpesonaan. Dunia yang dibangun oleh cita-citra dan ilusi-ilusi kekuasaan, kenyamanan, kegairahan, dan ekstasi.