I tell you what I want, what I really really want,

So tell me what you want, what you really really want,

Advertisement

I wanna, I wanna, I wanna, I wanna,

I wanna really really really zigazig ah! – Spice Girls.


Harus diakui, lirik lagu ‘Wannabe’ sangat ikonik pada zamannya. Siapapun, pada saat itu, pasti mengenali lagu ini sejak suku kata pertama. Sebagai remaja perempuan, saya pun seakan tidak bisa lari dari pengaruh budaya pop grup yang mengusung girl power itu. Pada masanya, dunia harus tahu apa yang diinginkan perempuan-perempuan Inggris ini. Semua harus sepakat bahwa mereka mau ‘zigazig’, apapun artinya itu. Semua angkat tangan dan pasrah, grup girl power ini telah meracuni gaya dan prinsip mereka pada dunia.

Advertisement

Bahkan Marshanda memilih menyanyikan ‘Who do you think you are?’ milik Spice Girls, ketika Indonesia menganggapnya gila karena hanya karena ingin berekspresi mengungkapkan rasa kesal pada teman-teman yang telah mengoloknya. Ketika dunia menentang Marshanda, Spice Girls bersamanya.

Meskipun awalnya saya pun sempat jijik melihat gaya mereka yang eksentrik dan tidak seragam selayaknya pakem boy/girl band masa itu, saya akhirnya tersedot juga ke dalam Spice World—dunia grup band yang kemudian diangkat menjadi sebuah film komedi musikal. Saya bahkan harus bertekuk lutut mengakui girl band ini benar-benar menikmati juga memperlihatkan individualitas tanpa harus bertentangan satu sama lain. Hingga akhirnya Geri ‘Ginger’ Haliwell meninggalkan grup tersebut.

Dan saya ditinggal bertanya-tanya, ada apa dengan Inggris?

Seumur hidup, saya cukup terpengaruh musisi Inggris bahkan hingga hari ini. The Beatles adalah salah satu band ikonik Inggris yang lagunya sudah banyak beredar sejak saya lahir. Lahir di Liverpool tahun 1960, lagu The Beatles sudah banyak diputar di seluruh dunia hingga kini, bahkan pelosok Indonesia di mana waktu seakan tidak berputar maju. Percayalah, masih banyak organ tunggal di Kupang dan Ambon yang masih menyanyikan lagu The Beatles. Some places never evolved from British music.

Sebagai remaja, saya tak hanya dipengaruhi Spice Girls tapi juga musisi alternative rock. Meskipun selama menjadi remaja pembangkan saya banyak dipengaruhi oleh lagu Nirvana dan Pearl Jam ketika marah pada dunia, saya tak bisa menghindari Oasis dan Blur yang memberikan bentuk pemberontakan yang berbeda. Liriknya yang unik selalu membuat saya bertanya-tanya dari manakah mereka mendapat inspirasi mereka? Apakah karena udara London yang katanya selalu mendung dan hujan? Apakah sejarah negaranya yang memulai revolusi industry pada tahun 1970an? Ataukah kehidupan sehari-hari begitu inspiratif?


I get up when I want except on Wednesdays when I get rudely awakened by the dustmen I put my trousers on, have a cup of tea and I think about leaving the house

I feed the pigeons, I sometimes feed the sparrows too It gives me a sense of enormous well-being – Parklife by Oasis.


Sungguh menginspirasi saya untuk hidup tentang dan bermain ke taman. Tetapi harus di Inggris. Karena begitu enaknya lagu mereka, sebagian penggemarnya tidak peduli arti dari lagunya dan cukup berbahagia bernostalgia menyanyikan lagu mereka. Di berbagai sudut Kemang, lagu-lagu Nirvana tak terdengar melainkan lagu Oasis yang muncul di Indonesia pada zaman yag tak jauh beda, diiringi nyanyian orang-orang dewasa yang ikut bernyanyi mengingat masa mereka masih berseragam putih biru.


So I start a revolution from my bed 'Cause you said the brains I had went to my head – Oasis.


Namun musik British tak hanya jago pada genre-genre unik. Musik British juga berjaya pada musik pop. Tak perlu waktu lama untuk menyadari beberapa musisi ternama dunia berasal dari negara Ratu Elizabeth tersebut. Boyzone, Joss Stone, Amy Winehouse, Robbie Williams, hingga musisi sekarang seperti Adele, Coldplay, dan Dua Lipa, sibuk lalu lalang di tangga lagu dunia. Tak cukup sampai di penghargaan music Amerika, American Music Awards, music Inggris bahkan sampai di lorong-lorong supermarket Indonesia dengan lagu-lagu seperti ‘Work’ milik Fifth Harmony dan ‘Get Out of My Head’ dari One Direction.


Little did we know, we are eating and breathing Brit music. Speaking of eating.


Pada 2016 lalu, tak ada yang bisa mencegah saya untuk menyaksikan Morrissey ketika beliau konser di Jakarta. Saya adalah penggemar berat karyanya meskipun saya tidak mendengarkan semuanya. Morrisey tampaknya adalah musisi yang punya dunia sendiri.


I was looking for a job, and then I found a job

And heaven knows I’m miserable now – Heaven Knows I’m Miserable Now by The Smiths-


Lagu ini selalu menemani saya melewati masa sulit, mengingatkan saya bahwa apapun yang saya alami, hanya pikiran yang akan menentukan keadaan mental kita. Once I like his song, I like it deep. Dan hingga umurnya ketika itu 57, Morrissey masih bisa membuat orang tertegun pada konsernya di tengah lapangan bola Senayan dengan latar gedung-gedung bertingkat. Penonton dibuat bergeming melihat video penuh kekerasan terhadap hewan demi makanan manusia. Semua diam ketika beliau berteriak ‘KFC kejam’. Sebuah kejeniusan bangsa yang menjajah banyak negara dan ikut mencerdaskan dan memakmurkan mereka di bawah perserikatannya.

Buat saya, dunia boleh didominiasi oleh budaya Amerika Serikat, tapi saya melihat hipster sesungguhnya adalah musisi UK. Tak hanya music, beberapa talk show saya dipandu orang Inggris seperti Graham Norton dan James Corden, juga beberapa tokoh komedi favorit saya Ricky Gervais, Jimmy Car, dan Rowan Atkinson yang memerankan Mr. Bean. Acara ulasan mobil Top Gear, memenangkan hati saya padahal saya bukan pecinta otomotif. Begitupun acara musik seperti ‘Abbey Road Studios’ dan acara keilmuan seperti di pada kanal BBC.

Ada sesuatu yang unik dengan budaya British. Bentuk kreativitas yang berbeda dan ekspresi yang tidak terduga yang membuat penikmatnya selalu ingat karya mereka. Dan hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan penyebabkan begitu ratanya kejeniusan masyarakat Inggris, airnya! Saya yakin airnya menjadi sumber kejeniusan mereka! Saya harus mencobanya suatu hari! Sayangnya budaya negara asal makanan fish and chips ini sepertinya masih kurang apresiasi di Indonesia. Tapi tak ada kata terlambat.

Here’s to the Brits! Cheers!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya