Kehilangan membuatku semakin dekat dengan-NYA. Dia yang tak pernah meninggalkan, Dia yang telah aku duakan cinta-NYA. Tak perlu waktu lama bagi Allah membuktikan cinta-Nya, sesuatu yang telah kuyakini sebagai takdir, rupanya belum menjadi tempat cinta mengalir. Pilihannya membuat airmataku tak henti mengalir, namun kini hati menyadari bahwa Dia sedang merancang kehidupan yang paling baik untukku nanti.

Kecewa atas kehilangan sungguh masih wajar. Tak kubiarkan airmata mengalir terlalu besar. Bagaimanapun sakitnya, Kamu masih memiliki tuhan yang maha besar. Perjalanan yang kuyakini akan menemukan titik temu, rupanya hanyalah sebuah rancangan sudah bahagia bagi pikiran. Hati tidak menyalahkan siapapun, sebab yang membuatnya kecewa adalah hati itu sendiri. Kita hanya terlalu cepat dikalahkan jarak dan waktu. Ah bukan, tapi hatimu yang terlalu lemah. Sebenarnya waktulah yang tidak berpihak pada kisah cinta manapun.

Waktu begitu angkuh. Dan hati yang terlampau percaya pada kelembutan. It's Ok, Karena hatimu baik makanya selalu melihat segala sudut pandang itu baik. Waktu juga yang tanpa perasaan mempertemukan hingga memisahkan manusia dengan begitu mudahnya. Waktu juga yang telah menciptakan kenangan indah dengan mudah lantas membuat kenangan itu menjadi sampah dalam ingatan. Waktu yang angkuh, mempertemukan dan memisahkan. Hingga akhirnya selalu ada rasa yang dia tinggalkan, yang tak pernah tersampaikan sebab kelu saat diucapkan. Dan rasa yang terlambat diartikan membuat penyesalan seumur hidup.

Tapi tahukah kamu, yang paling menyebalkan adalah Janji-janji pertemuan yang diucapkan lalu tak dibuktikan. Yah, hanya perempuan naif yang mempercayai jebakan janji-janji.

Dan hanya perempuan naif yang meyakini, bahwa sakit dan kecewanya hari ini akan berganti hari-hari indah nanti. Untuk beberapa saat, Aku meminta waktu untuk tak kembali singgah. Sebab dalam waktu yang hanya tuhan yang mengetahui, Aku sedang memperbaiki hati yang sedang berantakan. Kini, setelah pengakuan jujurnya. Aku memahami bahwa telah banyak waktu terbuang, telah banyak luapan rindu yang sia-sia, telah jauh jarak tercipta. Dan semua rasa kini menjadi momok yang menyiksa. Aku sudah mengerti hal itu.

Advertisement

Tidak perlu bagi hati menangisi kesedihannya sendiri. Tuhan sedang merancang bahagia yang sesungguhnya, bukankah kamu hanya disuruh untuk bersabar sedikit lagi. Jangan lagi terburu-buru meletakan hati pada Dia yang tak sepenuh hati menjaganya. Terima kasih tuhan, sebuah kehilangan membuatku semakin dekat padamu. Membuatku mengerti cinta sesungguhnya adalah berasal darimu. Maafkan hati yang gampang bolak-balik ini. Kini, masih mau kah kau bersanding dengan hatiku lagi, tuhan?