Bismilillahirrahmanirrahim,

“Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji zarrah(sebesar atom/sangat kecil) dari sifat sombong” (HR Muslim)

Pembukaan kalimat itu bukan untuk menyindir pihak mana pun, melainkan hanya untuk mengingatkan kita semua betapa pentingnya kita menjaga hati kita dari sifat ‘SOMBONG’ yang mampu mematikan hati.

Kawanku yang baik hatinya, ingat dengan kisah iblis ditendang dari surga-Nya?

Pastinya ibu/bapak/guru-guru kita pernah menceritakan kisah penciptaan manusia. Di mana iblis merasa manusia hanyalah makhluk yang lemah yang diciptakan dari tanah berbeda dengannya yang tercipta dari api.

Advertisement

Sifat sombong itulah yang menunjukkan ketidaktundukkan iblis terhadap Allah SWT. Seperti halnya diri ini, terkadang sifat itu selalu ada saja melekat saat kita mendapatkan kesuksesan. Membanggakan diri secara berlebih sehingga orang lain yang terlihat tidak seperti kita, dianggap tidak ada apa-apanya.

Adapun definisi sombong yaitu tidak mau menerima kebenaran dan menghina sesama manusia.

Sifat sombong pun tidak hanya bersifat menymbongkan kekayaan dan pangkat. Ada juga sombong dengan ‘merasa pintar’ sehingga hati sulit menerima pengetahuan bahkan nasihat dari orang lain meskipun itu benar.

Mengapa?

Begini, sifat sombong dapat mematikan hati. Menutup seluruh ruang yang ada dalam hatinya, mengukuhkan diri seolah dirinyalah yang paling hebat, pandai dan benar. Jadi sulit sekali orang yang masih menanamkan sifat sombong untuk mendapatkan hidayah dari Allah.

Raghib Al Asfahani pernah mengatakan, “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri . Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatanataupun mengesakan-Nya”. [ Fathul Bari’ 10 hal 601.]

Juga Allah pun sudah memperingatkan dalam QS: Az-zumar:60, yang artinya:

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?”

Naudzubillahi mindzalik, jangan sampai sifat tercela terus membelunggu hati kita sehingga kita lupa sudah menggadaikan surga yang nantinya menjadi peristirahatan kita. Cukuplah, rasa sukur dan rendah hati menjadi feedback dari kesuksesan kita terhadap semua orang dan Allah SWT. Karena boleh saja apa yang nampak lebih kuat di mata ternyata jauh lebih buruk daripada mereka yang terlihat lebih lemah dari kita.