Aku tidak pernah berharap akan jatuh hati kepadamu, aku tidak pernah menyangka kamu akan menjadi bagian dari doaku yang aku panjatkan setiap malam.

Seperti yang sudah aku katakan. Aku jatuh kedua kalinya kepadamu, wahai sang empunya hati ini. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan kamu, tapi mengapa ini terasa lebih sulit dari saat-saat aku menjauhi kamu dulu? Teruntukmu kekasih dari sang empunya hati ini, maafkan aku yang menaruh perasaan kepada kekasihmu. Aku tidak bermaksud untuk merebutnya dari sisimu, sungguh! Aku hanya tidak bisa mengendalikan perasaanku, aku tidak bisa menghentikan pikiran dan perasaanku tentangnya. Salahkah aku?

Tenang saja, aku tidak akan pernah merebutnya dari sisimu, aku tidak akan pernah mengganggu kalian terlalu dalam, aku hanya ingin memanjatkan doa untuknya ketika aku mengingat dia. Bolehkah?

Orang berkata, waktu akan menyembuhkan dan memulihkan rasa ini. Aku percaya itu, namun aku sertakan pula doa-doaku untukmu agar aku semakin ikhlas dalam setiap proses melupakanmu kembali.

Semenjak hari pertemuan kita kembali, ingin rasanya aku mendengar suaramu kembali, sampai aku mencari cara untuk bisa berbicara denganmu. Aku tahu itu salah, kamu sudah bersama dengan yang lain, tapi seperti yang sudah aku bilang, kali ini terasa jauh lebih berat dari yang sebelumnya.

Advertisement

Aku janji, aku akan berusaha lebih kuat untuk segera melupakanmu, untuk segera menutup kembali halaman tentang kita. Aku harap kamu tidak keberatan namamu selalu aku bawa dalam setiap doaku ketika aku resah memikirkanmu. Melalui doa lah, aku merasa begitu dekat dengan dia dan semakin lebih ikhlas.

Terima kasih.

Daun tidak pernah bisa memilih kepada angin untuk ke tanah sebelah mana, sama denganku yang tidak bisa memilih perasaanku jatuh kepada siapa.