Segala perdebatan tentang LGBT ini sebenernya bikin jengah. Nggak di Facebook, nggak di social media mainstream lain, bahkan di website-website tulisan ‘bermutu’, isu ini masih dibahas aja. Udah berusaha banget buat nggak ikutan nimbrung dan menanggapi, tapi kok kayanya lama-lama udah di ubun-ubun juga nih.

Perdebatan tentang LGBT ini kalo dipikir mirip juga sama masa pilpres 2014 kemarin; di mana perang antar pendukung kandidat udah masuk ke logika-logika yang absurd dan nggak masuk di akal. Ada yang bilang kandidatnya harus jadi presiden karena ganteng lah, ada yang bilang kandidatnya harus jadi presiden karena orang Jawa lah, ada yang bilang kandidat lain keturunan Illuminati lah. And here we are, putting ourselves on this old shit again.

Menurutku buat mendukung dan tidak mendukung LGBT itu hak personal masing-masing orang, dan kita lupa buat saling menghargai hak itu.

Kalangan pro LGBT banyak yang dengan mudah menuding kalangan kontra sebagai kaum yang konservativ, nggak open minded, kolot, fundamentalist, dan sebagainya. Di sisi lain, kalangan kontra LGBT juga banyak yang dengan gampang menghakimi bahwa pendukung LGBT itu orang yang nggak beragama, nggak Pancasilais (wow, is that even a word?), nggak nasionalis, turunan syaiton, dan lain-lain. Dan di sinilah aku bilang kalo perdebatan LGBT ini sebelas dua belas sama pas pilpres kemarin,

Banyak orang yang sulit buat saling menghargai hak satu sama lain buat setuju dan tidak setuju tentang suatu hal.

Advertisement

Panggung sirkus pro dan kontra makin ke sini makin lucu karena yang dibawa udah ranah akademis. Ahli dari segala macam penjuru dihadirkan buat kasih testimoni tentang kebenaran (maupun ketidakbenaran) isu ini. Nggak cuma ahli dari berbagai disiplin ilmu juga lho, pemuka agama dari segala aliran kepercayaan juga angkat bicara bawa ayat ini surat ini pasal ini; cuma buat mendapatkan hati masyarakat dan menghimpun orang buat ikutan percaya (maupun tidak percaya) dan mendukung (maupun tidak mendukung) LGBT.

Menurutku poinnya bukan di ‘siapa yang bisa kasih argument paling ilmiah tentang ini semua’, karena seringnya nggak perlu penjelasan ilmiah kok buat percaya dan nggak percaya; buat mendukung dan nggak mendukung.

Kalo kemarin aku dukung Jokowi cuma karena dia orang Solo, kalian bisa apa? Kalian mau apa?

Di sinilah sebagian besar dari kita lupa, kalo perdebatan macam ini tuh hal yang biasa di kehidupan modern. Masalah mendukung dan tidak mendukung relokasi Kalijodo, masalah mendukung dan tidak mendukung Ahok maju jadi Gubernur lagi, masalah mendukung dan tidak mendukung keputusan Walikota Bogor buat tetep melarang pendirian GKI Yasmin;

Kita sebagai masyarakat heterogen tu harusnya udah biasa sama perbedaan.

Indonesia tu isinya orang dari berbagai macam ras, agama, latar belakang pendidikan, derajat ekonomi, dan sebagainya. Kita udah biasa sama yang namanya perbedaan. Inget lho Bhineka Tunggal Ika tuh salah satu elemen penting yang menyatukan kita dulu pas Soekarno and the gank memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka sepakat buat setuju bahwa Indonesia itu terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dan instead of menjadikan itu sebagai suatu halangan, founding father kita menjadikan itu sebagai kekuatan loh.

Cuma karena saya menolak LGBT, bukan berarti saya nggak open minded. Cuma karena saya mendukung LGBT, bukan berarti saya nggak pernah sholat.

Mau nyari apa sih dari mengkafirkan orang yang mendukung LGBT? Mau nyari apa juga sih dari ngatain orang yang menolak LGBT sebagai orang yang nggak modern? Biar apa?

Harusnya kita bisa belajar bahwa hidup sebagai masyarakat yang heterogen itu butuh tingkat toleransi yang tinggi. Bahwa yang namanya hidup bareng orang yang bentuknya macem-macem itu juga butuh tingkat kesabaran yang tinggi pula. Nggak usah lah ngabisin energy buat meladeni endless debate tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Menoleransi dan tidak menoleransi LGBT bukan derajat ke-modern-an dan ke-open-minded-an seseorang, lho.

Kalian yang kontra harusnya ngerti lah, kalo mereka bisa jadi kaya gitu bukan karena sejam dua jam doing. Itu proses yang lama dan melibatkan banyak elemen lho. Kalo emang kalian menolak, instead of mengutuki dan mengkafirkan, apa nggak lebih baik tuh buat mengajak dan menasehati dengan baik-baik?

Tapi kaum pro juga harus paham nih, bahwa yang namanya menoleransi itu nggak selalu dengan cara mendukung. Berada di posisi yang berseberangan dengan mayoritas masyarakat memang membuat nilai tawar kalian jadi rendah, dan menyamakan posisi itu nggak selalu menjadi jalan keluar. Intinya sih jangan ngelakuin apa yang kalian nggak terima kalo orang lain lakuin itu ke kalian.