Teknologi memang memudahkan siapapun untuk berbagi informasi. Seolah tidak ada batasan bagi kita untuk mendapatkan informasi tentang apapun di dunia ini. Namun, jika kita sering membaca dan lebih peka memperhatikan. Setiap informasi yang ada tidak semuanya benar ingin membagikan informasi. Tapi, sekedar ingin menjadi viral tanpa tahu apakah itu bermanfaat atau justru merugikan salah satu pihak. Kita seolah lupa, demi kepentingan diri sendiri membagikan informasi yang tidak seharusnya tetap kita lakukan.

Teknologi memang memberikan kemudahan bagi siapapun untuk menjadi wartawan, jurnalistik dan bahkan hakim tanpa tahu apa yang sebenarnya boleh mereka lakukan. Mereka seolah tahu segala informasi tanpa melakukan validasi ke sumber yang jelas. Bahkan menambah atau mengurangi informasi seolah sudah menjadi hal yang “harus” dilakukan, demi menjadi viral. Tapi, apakah ini dibenarkan?

Advertisement

Jelasnya tidak. Bagaimana bisa? Sebagai manusia dengan hati dan empati. Kita membuat informasi atau bahkan aib orang lain terpampang nyata di dunia yang seharusnya tidak semenakutkan ini. Lihat saja, sosial media yang memang diciptakan untuk mendekatkan orang yang jauh. Justru menjauhkan mereka yang dekat, hanya karena informasi yang dengan mudahnya menyakitkan hati.

Semua informasi yang muncul di pemberitaan tanpa sumber yang jelas. Tanpa dasar yang pasti dan tanpa tahu siapa yang akan bertanggunjawab sampai akhir. Semua hanya ingin menjadi narasumber dan jurnalis demi kepentingan pribadi, demi kepentingan golongan. Bukan untuk membagi informasi, bukan untuk membagi ilmu. Bahkan bukan untuk menebar cinta.

Seringkali kita tidak menyadari, ada hati yang tersakiti. Ada jiwa yang terancam dan ada raga yang bahkan tidak sekuat itu untuk melangkah. Setelah pemberitaan bohong tentangnya tersebar. Banyak berita hanya menebar informasi yang tidak benar. Banyak pula informasi yang hanya ingin mendapatkan banyak like, comment, share, tanpa menyebarkan kebenaran. Tidak sedikit juga, berita yang hanya menonjolkan judul menarik, tapi tidak membagikan kebaikan, justru menimbulkan permusuhan.

Advertisement

Buat saya, menulis adalah sebuah pekerjaan yang tidaklah mudah. Bukan tentang idenya, tapi pertanggungjawabannya. Menuliskan informasi tentang apa yang terjadi tanpa melebih-lebihkan, tanpa mengurangi porsi bukanlah hal yang mudah. Tidak ada yang tidak ingin dikenal, tidak ada manusia yang tidak ingin dianggap mampu, dan bahkan tidak ada manusia yang tidak ingin viral. Namun, membuat berita atau tulisan yang benar menjadi viral adalah pekerjaan rumah yang tidaklah mudah.

Bagi saya sendiri, lebih baik tulisan saya tidak dibaca banyak orang, daripada tulisan saya dibaca namun menebarkan keburukan bagi orang lain. Sebab, kita tidak pernah tahu. Mereka yang kita beritakan, yang kita bicarakan dan kita sempat benci, sudah melalui hidup sesulit apa. Mereka hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Mereka hanya manusia dengan rasa ingin berubah jika diijinkan dan diterima oleh lingkungan.

Mereka tidak pernah berpikir hidup seperti ini. Penuh masalah dan dibenci banyak orang. Diberitakan banyak media dan dikucilkan dari lingkungan. Berbagai niat buruk yang orang lain kira ada di dalam hati mereka. Pasti ada satu bagian yang mereka ingin ubah karena niat mereka pun baik.

Media yang semakin beragam. Jurnalis, dokter, psikolog, bahkan hakim tanpa ilmu dan dasar yang jelas pun seolah sudah tersebar di masyarakat. Mereka seolah tahu segalanya dengan persepsi yang melupakan Hak Asasi Manusia untuk hidup dengan baik dan tenang pun hilang. Tidak bisa disalahkan., sebab sosial media memang menjadi tempat untuk berbagi informasi. Namun, kitalah sebagai pemilik hati dengan empati. Harus tahu batasan antara mana yang boleh dan tidak seharusnya kita sebarkan.


Ini bukan tentang informasi, tapi tentang bagaimana menyebarkan tanpa menyakiti siapapun.


Kita menjadi manusia yang sulit membedakan mana berita yang benar. Mana berita yang hanya ingin mendapatkan banyak like, comment bahkan share. Jangan menjadi manusia yang hanya ingin dikenal dengan menjatuhkan orang lain. Jangan menjadi manusia yang hilang empati hanya karena ingin dibanggakan.

Semua manusia memiliki tempat yang sudah pasti. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana hidup orang lain dapat berjalan sampai sejauh ini. Kita tidak bisa ikut campur, dengan apa yang akan mereka lakukan. Bahkan mengadili apa yang pernah mereka lakukan. Kita bukan penggerak hidup mereka, bukan pula yang akan menghapus masalah dan luka mereka.

Jangan menambah kesulitan dan luka orang lain dengan berita yang bahkan belum tahu itu benar atau salah. Sekali lagi, posisikan diri kita sebagai mereka yang sedang kita beritakan. Lisan ataupun tulisan, berita yang menyakiti orang lain tidak pernah dibenarkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya