Salib terselip di tanganmu,sedangkan tasbih terselip ditanganku,injil kitab sucimu,sedangkan Al-Quran kitab suciku.

Kak,aku tahu perasaan cinta adalah anugrah dari Tuhan yang maha, banyak perasaan nyaman yang sebenarnya lahir dari hanya sekedar menyambungkan hal-hal sederhana, seperti kamu duduk mendengar, aku panjang bercerita, aku menangis lalu kau yang menyeka air mata, kemudian kita tertawa dalam banyak andai yang belum nyata.

Jika kita diberi kesempatan terlahir kembali,tentu aku tetap ingin bertemu denganmu tapi dengan keyakinanmu yang sama denganku,seiman denganku,satu Tuhan denganku yaitu Allah. Satu tempat ibadah denganku yaitu masjid, satu kitab suci denganku yaitu Al-Qur'an. Apakah aku egois? Terserah apapun pemikiranmu, jika aku egois tentu aku akan memilih hidup bersama dengan keyakinan yang berbeda, tapi aku tak melakukan itu, karena bukankah agama kita sama-sama melarang? Bukankah dengan cara seperti itu akan lebih banyak hati yang terluka? Seperti hati orang-orang terdekat kita? Biarlah kak, biarlah hanya hati kita yg harus remuk redam, karena toh ini konsekuensi yang harus kita terima.

Hari itu kau membuatku harus mengambil keputusan besar dalam hidupku, meskipun selama ini kita tak pernah saling menyatakan pacaran, karena kau tahu aku tak akan pernah mau diajak pacaran. Bukankah cinta sejati tidak pernah bergantung pada kepemilikan? Apalagi pada ikatan atas nama pacaran. Akan tetapi hati kita sama-sama tahu, kita saling menjaga, kita saling mendoakan, bahkan aku tak yakin pada akhirnya kau mengatakan kalimat tersebut.

"Dek,bilang ke orangtuamu,aku akan melamarmu,dan kita akan menikah bulan Desember ini" katamu dengan mata berkaca disertai tetesan air mata yang tumpah,mata kita saling beradu,kita sama-sama takut,tapi kita berusaha untuk saling menguatkan.

Advertisement

"Kak,maaf aku tidak berani, kita beda keyakinan,kita beda agama,tentu saja orangtuaku tak akan merestui kita. Seandainya saja kita seiman,sungguh aku akan memilihmu untuk menjadi imamku dan insha Allah orangtuaku merestui niat baikmu itu."

Akhirnya, kita mengulang nyeri, kau tetap bersikeras untuk bisa hidup bersamaku, tapi tak ingin memeluk agamaku, aku tahu, aku tak bisa memaksa siapapun untuk meyakini agamaku, tapi aku juga tak bisa dipaksakan untuk bersatu dalam sebuah perbedaan yang sulit dikompromikan Terlebih lagi dengan perbedaan suku kita (javanese-chinese), dari semua itu, perpisahan dan kehilangan adalah hadiah yang paling lumrah.

Dan kita adalah sepasang rahasia nadir di puncak tubir, sepotong kisah ganjil tentang gugur cinta yang tak pernah membenci takdir.

Aku tahu cinta tak pernah salah,Tuhan juga tak pernah salah,hanya saja kita yang sama-sama keras kepala melampaui batas yang sesungguhnya kitapun sudah tau akhir ceritanya yang tragis.

Kak, maka dengarlah aku, jatuh cintalah, seindahnya, setulusnya,seperti malam yang diam-diam datang lalu merangkak perlahan mengecupi pagi, jatuh cintalah, di hati yang tepat karena kita sudah pernah salah dalam menjatuhkan hati.

Jatuh cintalah suatu ketika jika kau temukan perempuan yang lebih berani, lebih tangguh dariku. Yang sanggup mengasihimu lebih dari hujan yang bertahan tuk menerobos atap rumahmu hanya agar kau tak kedinginan sebab rumahmu tak memiliki perapian.Temukanlah dia, wanita yang mampu membuatmu selalu tersenyum, bukan sepertiku, yang hanya bisa membuatmu terluka, bahkan tak jarang kau teteskan air mata karena diriku, berhentilah hidup dalam duka yang kita bangun, maka temukanlah bahagiamu.

Jatuh cintalah … Jika kau temukan perempuan itu selain aku.

Kabarkan pada burung-burung gereja di bubungan rumahmu, fajar itu adalah bus terindah yang mengantar kepulanganku sepanjang tepian jalan.Tulislah puisi, setelah airmata berpamitan dan kita tak akan bertemu kembali.

Berbahagialah kak,untuk alasan apapun yang telah kita jalani.Akan kukenang kau sebagai masalalu yang baik,yang pernah tulus kuminta pada Tuhan. Sebab takdir, adalah hal yang paling mustahil bisa kutaklukkan, aku bukan tulang rusukmu yang hilang.

Selanjutnya, saat paragraf ini berakhir aku harap tak perlu lagi ada hati yang harus diketuk kembali, atau mencoba mengulang kisah yang sama. Biarkan saja semuanya mengalir bersama do'a dalam sujudku yang menyentuh mega-mega tanpa rekayasa tanpa over drama. Masalah hati, biar itu jadi urusanku dengan Rabbku, tenang saja tangisan kita ini pasti akan reda dengan sendirinya. Kuatkan hatimu, yakinilah kak, ini yang terbaik untuk kita, Berdoalah,entah di hadapan Tuhan yang mana yang kau yakini kebenarannya.

Jangan risaukan apapun. Sebab doa yang baik, akan selalu kembali padamu dalam rupa kebaikan pula.