Modernisasi dalam kehidupan manusia tidak dapat dihindari lagi. Salah satu aspek yang terkena dampak modernisasi tersebut adalah komunikasi. Pada abad ke-18 Alexander Graham Bell berhasil menemukan teknologi untuk berkomunikasi dan menyampaikan suara dari jarak jauh, telepon yang terus dikembangan baik fungsinya maupun bentuk fisiknya. Pada akhir abad ke-20 yang dikenal sebagai era informasi, manusia mulai mengenal terminologi internet yang menjadi arah perkembangan teknologi informasi hingga sekarang. Jadilah saat ini gawai cangih dan temannya, koneksi internet menjadi kebutuhan kita sehari-hari.

Advertisement

Adanya perkembangan teknologi ini membawa banyak dampak baik, tentu saja. Memori saya terbang kembali ke masa lalu, saat saya masih duduk di bangku SD. Pada zaman itu di Indonesia, gawai belum berkembang dan internet belum digunakan secara luas. Tetapi akhirnya pada kelas 5 SD, keluarga kami mengenal internet dan mulai menggunakan salah satu sosial media yaitu facebook. Termasuk Ayah dan Ibu saya pun mulai bermain facebook. Dengan adanya sosial media tersebut, beliau bisa menjalin komunikasi dengan teman-teman lama, bisa menambah relasi serta membangun kerjasama- kerjasama baru.

Tetapi setiap sesuatu pastinya tak luput dari kekurangan, termasuk perkembangan teknologi ini. Ia membawa dampak buruk juga. Dari sekian banyak dampak buruk yang ada saya akan membahas satu: kecanduan.

Advertisement

Gawai canggih memiliki banyak fitur menyenangkan untuk segala usia. Penggunaannya yang mudah pun membuat penggunaan gawai semakin diminati. Untuk orang dewasa, ada sosial media seperti facebook dan aplikasi chatting seperti WhatsApp yang sudah menjadi aplikasi wajib bagi sebagian besar orang. Untuk kalangan remaja, semakin banyak aplikasi menarik yang bisa dimainkan seperti twitter, instagram, dan lain sebagainya.

Tidak ketinggalan pula untuk anak-anak, tersedia banyak games yang bisa mereka mainkan di gawai untuk mengusir rasa bosan dan menghabiskan waktu mereka. Perlu diingat, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tentu penggunaan gawai juga termasuk. Ketika seseorang sudah kecanduan, akan sulit sekali mengembalikannya. Ketika kita berusaha untuk menghilangkan kecanduan tersebut, diri kita malah cenderung untuk membuat rasionalisasi lain untuk membela diri.

Dan kecanduan bermain gawai untuk hal-hal nirfaedah tentu akan menghambat produktivitas kita. Mungkin beberapa orang tetap bisa bekerja, sambil sesekali bermain gawai di sela-sela waktunya. Namun, apakah itu efektif? Jawabannya, tidak.

Bayangkan ketika kita mengerjakan laporan di kantor, sedangkan gawai kita terus berbunyi karena ada pesan-pesan masuk ke e-mail kita. Atau ketika kita sedang mengerjakan tugas kuliah, tetapi gawai kita terus berbunyi karena notifikasi suatu aplikasi, seakan-akan memanggil untuk membuka aplikasi tersebut terlebih dahulu. Tentu kita menjadi tidak fokus, bukan? Padahal fokus sangat diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan cepat dan maksimal.

Mengutip pesan dari Alexander Graham Bell, "Konsentrasikan pikiran pada pekerjaan yang tengah anda garap. Sinar matahari tidak akan membakar sampai difokuskan pada sesuatu". Dalam buku berjudul The Miracle of Focus karya Leo Babauta disebutkan bahwa konektivitas dan gangguan yang berlangsung terus menerus serta kurangnya daya fokus dapat memengaruhi ketenangan pikiran, tingkat stress, dan kebahagiaan kita.

Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk menjauhkan hal- hal yang membuat kita tidak produktif dan menurunkan kadar kebahagiaan kita, dalam hal ini yaitu penggunaan gawai. Bayangkan, berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam sehari saja untuk bermain gawai? Jangan-jangan, lebih banyak daripada jam produktif kita. Atau, berapa banyak momen yang kita lewatkan karena kita sibuk bermain gadget?

Adakalanya kita perlu untuk sejenak beristirahat. Menepi dari kehidupan maya dan hiruk pikuknya. Mencoba menikmati hidup dan berfokus pada pekerjaan serta tujuan hidup kita. Tanpanya, pikiran kita akan terus dibombardir oleh informasi yang datang tak henti-henti.

Matikan gawaimu (sejenak), nikmati hidupmu.

Rifda Hanin V. H. – 2018

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya