Aku sudah berkali-kali mencoba melupakanmu, membunuh semua rintikan kenangan tentang kita. Menikam hatiku untuk berdamai dengan rindu. Aku sudah berkali-kali mencoba menggantimu dengan kawan sekitarku, bermain bersama mereka.


Bersenda gurau. Menyibukkan setiap detikku agar tak selalu mengingatmu. Aku pun sudah berkali-kali mencoba untuk bermain di beranda hidupku yang baru, tanpa kamu.


Advertisement

Tanpa kenangan kita bersama. Menikmati setiap jengkal langkah tanpa bayanganmu. Tapi berkali-kali aku payah, tersungkur kembali, jatuh. Dan itu merupakan sebuah bukti bahwa ternyata aku tak bisa melupakanmu, bahwa ternyata aku tak bisa berdamai dengan rindu.

Berkali-kali aku tertawa bersama mereka, tapi semua dusta. Di balik semua cerita manisku, ada air mata yang tersembunyi menutup kesedihanku di antara tawa mereka yang membuat candu. Berkali-kali aku kembali ke beranda rumahmu. Mengenang semua hal, mengingat semua kenangan. Aku tertawa, tertawa bahwa aku tak jua pergi dari rasa yang terus menumbuhkan dosa.

Ku tanya sesuatu pada cahaya rembulan malam ini "Apakah dia menangis, bersedih untuk semua hal yang pernah kita lakukan?" Hapus air mata mu, sesakit apapun kenangan yang kau rasakan.

Advertisement


Sebab, patah hati bukan untuk di tangisi, tapi bagaimana perjuangan diri untuk mengganti hati yang telah terisi dengan sesuatu yang kelak akan bersama.


Hapus air matamu, jadilah seperti hamparan, luas. Melapangkan pandangan. Mampu memberi pemandangan yang menyejukkan. Hapus air matamu, sebab air mata tak kan pernah menyelesaikan patah hati yang kau rasakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya