Cinta dan benci, adalah dua hal yang substansi atau muatannya beda jauh tetapi pembatasnya hanyalah selaput tipis yang mudah robek. Jika bisa diibaratkan hati kita ini sebagai organ jantung, maka cinta layaknya darah bersih yang kaya akan oksigen sedangkan benci adalah darah kotor yang muatannya adalah karbondioksida.

Pembatas dua darah yang peranannya berbeda jauh ini hanyalah berupa katup dan dinding jantung. Jika jantung melakukan aktivitas memompa dengan normal dan wajar, maka darah bersih dan darah kotor ini pun takkan merugikan karena keberadaan keduanya merupakan salah satu siklus penunjang kehidupan manusia. Namun jika karena ada tekanan yang berlebihan pada jantung sehingga ia bekerja tidak sewajarnya, maka bisa jadi akan mengakibatkan kebocoran pada dinding jantung atau katup, sehingga bercampurlah darah kotor dengan darah bersih yang jika dibiarkan akan dapat membawa pada kematian.

Advertisement

Mencintai adalah perihal menerima resiko. Apa pun itu. Pahamilah bagaimana hati bekerja. Cinta akan selalu tumbuh seiring waktu. Bisa menjadi baik, atau berbalik dari apa yang pertama terasa. Begitulah sewajarnya. Dan, mencintailah dengan wajar. Tidak ada yang ingin dilakukan berlebihan, karena memang yang berlebihan tidak baik.

Kadang kala, ketika sedang jatuh cinta, seseorang rela melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Tak peduli betapa sulit keadaannya, ia akan sekeras mungkin berusaha membahagiakan, dan tak jarang mengorbankan hal-hal di luar logika kewajaran.

Mencintai serta menyayangi memang merupakan fitrah manusia. Ketika rasa itu menggeliat, dunia serasa begitu indah dari sebelumnya. Disadari atau tidak, kamu mungkin pernah berada di fase tersebut, bukan?

Advertisement

Setiap individu tentu memiliki konsep mencintainya masing-masing. Tapi semuanya akan melewati tahapan yang sama dalam mencintai. Yakni kehilangan.

"Siap jatuh cinta, maka Anda harus siap kehilangan,".

Tak peduli kapan dan bagaimana, kehilangan sosok yang dicintai tentu akan terjadi di setiap orang. Entah lewat perselisihan, keadaan lingkungan yang tak memungkinkan, hingga maut yang memisahkan. Jika kehilangan sebegitu tiba-tiba, bagaimana dengan 'nasib' cinta yang kau bangun dengan indahnya

Cinta sudah selayaknya tumbuh tanpa rasa pamrih. Ketika kehilangan itu terjadi, menerima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan yang seharusnya kamu lakukan. Toh cinta tak pernah bisa kau paksa, kan?

“Cintailah seseorang dengan cara terbaikmu, bahagiakanlah mereka sekuatmu. Tapi mencintailah sewajarnya. Karena mencintai sesuatu secara berlebihan, bisa jadi menjadi bumerang untukmu sendiri.”

Saat mencintai secara berlebihan, manusia kerap sekali lupa akan fakta kehilangan. Ketika kehilangan itu terjadi, kamu hanya bisa gigit jari dan mungkin langsung mengintimidasi jika dunia serta semesta tak adil dan tak lagi berada di pihakmu. Kamu merasa duniamu runtuh dan mungkin semangat hidupmu kian memudar.

Mencintailah sewajarnya, memaklumi seharusnya. Ya, memaklumi kekurangan pasangan jauh lebih penting dalam sebuah hubungan. Jadikan pemakluman itu kelebihan serta kekuatanmu dalam mencintai. Andai kau harus kehilangan sekalipun nantinya, cinta akan menguatkanmu bukan meranakanmu.

Bukankah Tuhan akan cemburu jika umatnya lebih mencintai makhluk ciptaan-Nya ketimbang Dia?


“Mencintailah dengan penuh kesederhanaan, tak berlebihan, namun mengajarkanmu arti mensyukuri. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang sudah selayaknya kau jaga dan syukuri keberadaannya. Tetaplah berdoa untuk cinta yang sedang kau perjuangkan”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya