Cinta Bukan Sekedar Rasa Ingin Memiliki

Entah perasaan apa ini namanya, aku tidak sempat untuk mengartikannya. Yang pasti aku ngerasa ada yang aneh ketika berada di dekatnya. Kalo enggak aku yang salah tingkah, pasti degup jantung ini seakan ingin menerobos dada yang menghalanginya ingin berlari. Aku menyukainya, iya aku bahkan sangat menyukainya. Dari awal bertemu, hingga saat ini sekali pun.

Advertisement

Entah lah, aku juga tidak mengerti akan rasa ini, yang kulihat padanya adalah seseorang yang dahulu pernah mengisi relung hatiku. Tapi kini, seolah tergantikan olehnya yang dapat setiap saat aku lihat, dapat bertemu walau hanya sekedar bertegur sapa. Ah, terlalu pagi jika seawal ini aku sebut ini rasa cinta. Bukan, ini hanya sekedar mengagumi saja, percayalah aku bahkan takut untuk sekedar memipikanmu untuk kumiliki.

“Janji”. Iya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencintaimu dalam diam, untuk menyukaimu dalam kata bisu, tanpa siapa pun yang mengetahui rasa ini. Bukankah ketika kita mencintainya dalam diam, kita juga harus siap untuk patah hati dalam diam pula? Iya, jawabannya iya, aku sudah merelakan hati ini patah berkeping banyaknya untuk menahan dan memendam rasa cinta yang kini baru saja mulai tumbuh. Dan aku tidak akan membiarkan rasa itu lama bersemayam dihati. Hingga aku benar-benar siap untuk melepasnya.

“Aku mencintaimu”,

Advertisement

Lihatlah, aku mengungkapkannya dalam tulisan ini. Aku tahu pasti bahwa kau tak mungkin membaca tulisan ini, terlebih lagi kau tak akan mungkin tahu bahwa aku sekarang mencintaimu, semenjak pertama kali aku mengintip relung matamu. Aku yakin kau tak pernah tahu, dan kau absurd tiada lagi. Aku sempat meyakinkan bahwa ini bukan sekedar aku jatuh cinta, bukan sekedar rasa suka yang berlebihan menjadi euforia yang terlalu cepat aku maknakan bahwa ini cinta.

Bukan. Aku hanya sekedar ngerasa nyaman berada dalam pandanganmu, aku merasa bahwa dengan menggenggam tanganmu saja aku sempat tak mampu menatap pada matamu. Aku takut, takut jika kau mengetahui rasa ini lewat mataku. Karena aku tahu, kedua bola mata ini menyimpan binar rasa yang terpancar dan tak mungkin berbohong. Mata yang berkali-kali membendungkan genangan air, ingin segera ditumpahkan karena kau. Dan mata ini pasti selalu ingin mengadu padamu, tak akan kubiarkan itu terjadi. Cukuplah aku mencintaimu dalam diam.

Mencintaimu—Yang Berarti juga Aku Mendoakanmu

Maaf. Jika itu memang aku lakukan untuk menghindari rasa sakit jika kau mengetahui rasa ini. Apa aku bodoh? Iya, memang aku bodoh karena rasa ini yang membodohiku—Cinta.

Cinta bukanlah sebuah deterministik, yang tak perlu dipahami terlalu dangkal, selain kau sendiri yang merasakannya sehingga kau dapat mengartikannya.

Tapi, lagi-lagi aku berbohong pada perasaanku sendiri. Aku pura-pura atas ketidakpedulianku ini, maaf.

Aku sudah melupakanmu dalam sebuah mimpi yang tak akan mungkin aku, kita lalui. Aku sudah memasrahkan diri pada pemilik cinta untuk menopang lebih erat lagi rasa yang aku miliki ini, agar ketika aku benar-benar siap aku akan tidak kesakitan untuk melepaskan. Bagiku mencintaimu adalah belajar untuk merelakan. Namun mengapa bayangmu masih saja disini, di relung hati ini. Aku selalu memimpikan indah tentangmu, bahkan kau kini lebih sering aku ceritakan pada Tuhan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya