Kehadiran jalan membuat sebuah dunia menjadi lebih berwarna dan tentunya terarah. Yang menjadi persoalan hanyalah setiap manusia memiliki jalannya masing-masing untuk mencapai sebuah tujuan akhir. Jalan mampu menghubungkan sebuah desa tertinggal dengan kota yang sudah mapan sehingga tercipta sebuah simbiosis yang saling menguntungkan apabila kedua tempat saling bekerjasama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Setiap insan yang terlahir didunia ini sudah memiliki jalannya masing-masing.

Jalan mulus, berbatu berliku, lebar dan sempit, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing individu. Ketika berjalan, dunia seakan-akan ikut menemani sembari memberikan pemandangan yang berbeda di setiap langkah kaki dan jejak kaki yang tertinggal menjadi sebuah pertanda akan perjalanan yang telah dilalui.

Advertisement

Berbeda halnya apabila manusia layaknya seekor burung yang teperangkap dalam sebuah sangkar meskipun sangkar itu terbuat dari emas. Hidup terkekang tanpa adanya seseorang ataupun tujuan hidup hingga pada akhirnya kehidupan itu berakhir tanpa pernah disadari.

Kesadaran juga berperan penting dalam terciptanya sebuah jalan. Bayangkan manusia yang hidup tanpa penglihatan akan apa yang ada didepan maupun sekitarnya meskipun mata jasmani terbuka lebar, Akan lebih indah apabila Mata Hati dan Mata Jasmani terbuka lebar secara bersamaan.

Dunia akan terasa lebih luas dan rasa syukur yang tiada batas akan terus berkumandang sehingga rasa penyesalan tidak memiliki tempat untuk berkuasa dalam dunia ini. Sesungguhnya, dunia yang manusia miliki tidak hanya sebatas rumah, sekolah, kantor, maupun tempat lainnya. Jalan adalah tempat tinggal manusia yang sesungguhnya karena jalan mampu menghubungkan berbagai titik hitam yang terlihat seperti noda menjadi sebuah gambar indah yang memiliki berbagi makna.

Advertisement

Pilihan dalam memilih jalanpun sangatlah banyak layaknya pepatah " Ada banyak jalan menuju Roma". Namun manusia tidak pernah menyadari bahwa apapun pilihan jalannya, rintangan dan konsekuensi akan selalu hadir dalamnya. Bukan persoalan tentang mana jalan yang lebih aman untuk dilalui, namun persoalannya adalah bagaimana manusia menyikapi jalan yang telah dipilih.

Senyuman, tangisan, amarah, itulah yang membentuk rupa jalan setiap manusia. Lika-liku dalam sebuah jalan menunjukkan pilihan yang diambil ketika jalanan yang lurus sudah mulai menunjukkan cabangnya.

Jatuh dan bangun adalah hal yang biasa ketika berjalan. Meneruskan atau tidak, itulah yang menjadi persoalan. Sayangnya, banyak manusia yang memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan ketika tembok tebal dan besar menghalangi dengan cara yang tidak wajar seperti bunuh diri atau overdosis akibat narkoba.

Lain halnya dengan manusia yang berjalan dengan membawa tembok tebal dan besar namun memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga titik darah penghabisan. Manusia tidak akan pernah tahu "apa" yang menantinya di ujung sebuah jalan yang dipilih.

Kata "Apa" akan terjawab apabila semua manusia di bumi ini sudah melaksanakan jalan yang diberikan dan hanya Yang Maha Esa yang memiliki kuasa untuk memberikan jawaban. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus berjalan sembari menanti dengan sabar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya