Akhirnya hari-hari yang ditunggu peserta SBMPTN datang juga yaitu hari pengumuman. Omong-omong bagi yang bertanya-tanya SBMPTN itu apa adalah SKALU, SKASU, SIPENMARU, UMPTN, SPMB, di masa sekarang. Mana istilah yang dimengerti adalah hal yang gak bisa dipungkiri.

Si ini keterima, si itu keterima, si ini gak keterima, si itu gak keterima. Masih bergulir nama-nama orang di sekitar dan masih bertanya-tanya apa rencana kedepannya sata tau gak keterima. Bersyukurlah orang-orang yang sudah memiliki rencana, baik mengulang tahun depan, atau menunggu pengumuman jalur mandiri, atau kuliah di swasta.

Kemudian semua orang melihat lo dengan tatapan khas saat lo bilang lo bakal lanjut di swasta. Seakan mata mereka berkata “serius lo?”. Dan tatapan itu dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti:

“Gak nyoba lagi tahun depan?”

“Swasta mana? Bagus akreditasinya?”

“Tesnya kapan?”

“Udah keterima?

Dan lain-lain.

Jadi yang bisa dilakukan adalah menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar sambal cengar-cengir padahal lo udah enek ngeliat mata mereka yang masih aja menatap lo dengan tatapan seperti itu. Karena mereka gak ngerti pertimbangan lo mengenai pilihan ke swasta, atau mengenai bahwa lo cukup bijaksana sudah memiliki back-up plan. Belum lagi kalau sesungguhnya swasta itu adalah tujuan utama lo dan keikutsertaan lo di SBMPTN hanyalah sebatas coba-coba (kemudian gue dihujat).

Advertisement

Tujuan kuliah tuh mendapatkan ilmu bukan? Atau, oke gelar. Di swasta juga dapet ilmu, lulus juga dapet gelar. Atau oke, almamater yang bergengsi. Percuma jadi penduduk di kerajaan besar ketika lo tahu lo bisa menjadi raja di daerah kecil. Mungkin lagi adalah kedepannya untuk cari kerja dimana perusahaan lebih prefer lulusan dari universitas negeri. Tapi apakah orang di masa depan akan se-close minded itu? Manusia masih berkembang, begitu pula jalan pikirannya.

Manusia akan lebih open-minded. Dan sebagai orang yang hidup di zaman sekarang, apakah kita gak pernah dengar yang namanya entrepreneurship? Malah kan sekarang ada baru lagi preneurship-preneurship lainnya.

Dan tatapan itu gak bakal lo dapetin kalau rencana lo adalah ngelanjutin kuliah di luar negeri.

Tatapan itu bakal menjadi tatapan khas juga tapi dengan senyum lebar cengar-cengir yang sumringah. Kemudian bakal dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang serupa sama pertanyaan yang tadi dijabarkan, tapi dengan ekspresi dan intonasi yang berbeda. Padahal di sisi lain pertanyaan sesungguhnya ditanyakan adalah kepada diri sendiri.

“Kenapa harus kuliah di luar negeri?”

“Emang kurikulum di sini kenapa?”