Wijaya Kusuma, bukanlah bunga biasa. Dulu di depan rumah, saya pernah menanamnya. Bunga ini dikaitkan dengan keberuntungan yang akan diperoleh jika seseorang melihat saat-saat ia mekar. Sebagai pemilik, saya tak lantas percaya begitu saja. Namun belakangan saya mulai meyakini pernyataan tersebut. Memang beruntung jika saya melihat bagaimana Wijaya Kusuma mekar.

Sebab proses bagaimana ia mekar hingga kemudian layu, tak berlangsung lama. Kuncup, mekar, dan layu dalam waktu yang sangat singkat adalah siklus yang menjadikan bunga ini mempesona. Sebuah daya pikat yang membuat siapapun tak lantas bosan mengagumi, bahkan beberapa diantaranya menganggapnya bunga penuh misteri.

Advertisement

Saat saya memikirkan bunga yang pernah saya tanam ini, dan sempat beberapa kali sengaja menunggu bagaimana ia mekar, saya jadi teringat tentang kehidupan. Hidup sungguh sangat singkat, jika dibuat skala dengan membandingkannya pada umur bumi, barangkali keberadaannya hanya seperti titik yang perlu dilihat menggunakan alat bantu yang super canggih, dan itu pun belum tentu terlihat. Ibarat gelombang kejut, tak ubahnya hanya seperti tremor yang sekali bergetar setelah itu menghilang. Pertanyaanya, akan diisi dengan apakah hidup yang singkat itu?

Tak banyak hal yang kita bisa lakukan, itu pasti. Sehingga ada begitu banyak orang yang merasa belum berbuat apa-apa, tetapi waktu sudah memaksanya harus menyelesaikan prosesnya. Seperti halnya ulangan, jika sudah waktunya, selesai atau tidak selesai harus dikumpulkan hasilnya. Tak ada yang dapat menghentikan prosesnya, bahkan melambatkan waktunya pun tidak. Ini semua adalah kehendak alam, dan manusia ada dalam sistem ketentuannya.

Meski sekejap, Wijaya Kusuma menghadirkan pesona. Padahal tampil indah atau tidak, itu tak berarti apa-apa. Sebab hanya sedikit orang yang mau dan dapat menyaksikannya. Karena proses singkatnya itu terjadi di malam hari. Namun sebagai bagian yang berada di sistem alam, ia menerima dan menjalani prosesnya seperti apa yang seharusnya. Pada apa yang sudah ditentukan oleh alam. Sekejap dan mempesona. Mempesona pada konteks Wijaya Kusuma tentu bukan bagi siapa-siapa kepentingannya, selain bagi dirinya. Jika kemudian mahluk lain merasa ikut merasakan rasa bahagia bersamanya, itu adalah bonus.

Advertisement

Menjalani apa yang telah dititahkan adalah tujuan hidup bagi Bunga Wijaya Kusuma. Meski di kagumi keindahannya, tak membuatnya berevolusi menjadi lebih lama. Pesona Wijaya Kusuma mengantarkan saya pada sebuah refleksi. Hakikat manusia sebagai gambaran keagungan sang Pencipta, keberadaannya pastilah memiliki tujuan. Saya sangat meyakini bahwa manusia diciptakan dengan tujuan-tujuan yang baik. Sebagai cerminan bagaimana sang Pencipta adanya. Meskipun sekejap, sang Pencipta menginginkan manusia mampu memendarkan cahaya pesona. Itu dapat terjadi jika manusia setia pada panggilan hidupnya.

Kehendak bebas, memang memberi alternatif bagi manusia bagaimana bertindak. Memancarkan pesona atau layu dan membusuk tanpa pesona apa-apa, adalah pilihan. Namun pilihan-pilihan itu sebenarnya bukan untuk orang lain, melainkan bagi diri sendiri. Jika yang lain ikut bahagia, tentu itu adalah bonusnya. Sekali lagi, hidup itu tak lama, apakah kita membiarkan kebusukan terus mennggerogoti atau justru menikmatinya dengan memancarkan kebahagiaan sebagai bagian dari eksistensi kita sebagai manusia? Terserah Anda!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya