Masihku inggat pengalamanku merantau ke kota sebrang untuk yang pertama kalinya. Waktu itu umurku menginjak 18 tahun tepatnya sehabis ujian SMK. Entah apa yang ada dipikiranku waktu itu. Saya memutuskan untuk pergi ke ibu kota untuk bekerja di salah satu restoran yang ada disana. Sebelum pergi ada perdebatan kecil antara bapak sama ibu tentang keputusanku.

Ibu yang menahanku karena dia tahu betapa kerasnya hidup di ibukota. Ibu pernah bercerita kalau dia pernah bekerja di Jakarta untuk berjualan baju. Tapi yang dia ceritakan kepadaku bukan susahnya hidup di Jakarta melainkan kisah kisahnya yang bikin aku tertawa ketika mendengarnya. Sedangkan si bapak yang mengizinkanku karena alasan laki-laki. Laki-laki yang tak boleh terlihat cengeng, laki-laki yang identik dengan pantang menyerah, laki-laki yang yang harus memiliki sejuta pengalaman dan masih banyak lagi alasan tentang laki-laki yang harus ini dan itu.

Pada akhirnya saya pun sependapat dengan bapak. Saya berpikiran selagi muda apa salahnya mencoba. Bekerja keras untuk sepser uang hal yang wajar aku rasakan dalm hidupku karena saya adalah anak seorang petani. Kami sadar bahwa uang tak jatuh dari langit begitu saja, ada keringat yang harus kau teteskan demi lembaran rupiah yang kadang tak seberapa.

Hari keberangkatankupun tiba aku brangkat di sore hari. Sebelum sore menyapa semua anggota keluargaku tidak pergi kemana mana akupun tak tau alasan mereka. Mungkin mereka ingin bersamaku sebelum aku pergi merantau, itu yang ada di benakku waktu itu.

Sorepun tiba tas penuh dengan baju dan isi dompet yang tebal. Entah apa yang ada dipikiran kedua orang tuaku. Sebelum berangkat aku diberi uang saku 2jt lebih oleh bapak. Belum lagi di tambah uang saku dari ibu dan kerabat. Mungkin bapak dan ibu tak mau anak laki lakinya kelaparan atau kebutuhanya tak tercukupi di tanah rantau.

Advertisement

Setelah berpamitan sayapun berangkat diantar oleh bapak dengan motor tuanya sampai ke smk, mungkin kalian bertanya tanya kenapa ke SMK? Sore itu saya ke SMK karena di sana saya dan teman teman berkumpul untuk berangkat bersama- sama. Di antara semua yang berngkat ke ibukota saya cuma kenal satu nama yaitu Wahyu. Wahyu adalah teman satu kelasku. Saya dan dia sepakat kerja bareng karena waktu itu kami sama sama berpikiran "kita mah nggak mungkin dikuliahin". Karena kami sadar kami bukan orang berada". Jadi mau senyum kalo inget betapa polosnya kami dulu.

Setelah sesampai Jakarta kami pun tak menyangka kalo saya dan Wahyu harus pisah. Saya ditempatkan di Tanggerang dan dia di belahan Jakarta lainya. Sedih? Iya sedih itu pasti. Tapi mau gimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Kami pun harus bertahan dan berteman dengan orang orang baru.

Hari pertama kerja saya disuruh mencuci piring, membersihkan got, dan diajari menggoreng. Ternyata apa yang saya kerjakan berbeda jauh dengan apa yang saya pikirkan tentang restoran. Saya berpikir saya bakal menjadi waiter. Ternyata tidak. Di sana saya dilatih untuk menjadi juru masak, tetapi untuk menjadi juru masak harus melewati tahapan dari tukang menggoreng kemudian tukang potong setelah itu baru jadi tukang masak. Setelah 3 hari berjalan akhirnya mereka lepas tangan karena mereka punya jatah masing-masing dan jatah saya adalah menjadi tukang mengoreng. Apapun yang berurusan dengan minyak itu menjadi tanggung jawabku.

Lelah itu pasti, berteman dengan panasnya minyak menjadi keseharianku. Seminggu berlalu disitu saya mersakan betapa susahnya mencari uang. Mau cerita tak tahu harus kemana dan sama siapa, karena bagiku butuh waktu untuk beradaptasi dan berteman agar kita mau saling mendengarkan. Seminggu itupula saya merasa tak betah, karena pekerjaan yang berat.

Malem itu sehabis kerja saya memberanikan diri untuk telfon bapak, tepatnya jam 1 malam karena kebetulan saya dapet shift siang pulang kerja jam 12 malam. Di situ saya bener-bener cerita ini itu yang intinya saya ngak betah dan ingin pulang. Banyak temen temen yang sudah pulang termasuk si Wahyu karena memang benar berkerja di restoran besar. Orderan yang tak henti dan panas minyak membuat tanganku banyak dengan luka.

Malem itu sehabis telpon bapak saya menangis karen bapak bilang begini setelah mendengar keluh kesahku "ya sudah kalo ngak betah yang pulang saja nak, cari pekerjaan lain. Hidup juga sekali yang penting kitanya bahagia dalam menjalaninya, kamu disitiu sehat aja kan? Hati-hati disitu nak. Kalo nggak betah ya pulang saja nak". Saya menangis bukan karena aku cengeng, tapi saya menangis karena merasa beruntung mempunyai bapak yang begitu sayangnya sama saya.

Setelah malam itu akhirnya aku memutuskan untuk bekerja sebulan di restoran hanya untuk mengembalikan uang saku yang bapak beri saat awal keberangktanku. Panas minyak, udara panas dan omelan sana sini dari temen yang komplen karena gorenganku kurang matang, saya terima. Lambat laun sayapun dapat beberapa teman disana. Ada Mas Ade, Mbak yani, Mbak Semi, Iis dan Yuni. Sebulan pun berlalu gaji 1,7 juta saya terima. Setelah itu saya berpamitan denga kepala cabang disana dan lagi-lagi saya harus berpisah dengan teman-teman yang dengan senang hati membantu dan mau menerimaku. Sebelum berpisah kami bertukar nomor HP agar masih bisa untuk saling bertukar sapa. Sedih itu pasti tapi saya bisa apa kalo tuhan berkehendak, saya cuma berharap suatu hari kita bakal bertemu lagi dengan keadaan kita yang lebih baik dari sekarang.

Secuil kisah dariku, pesan dari saya merantaulah selagi muda. Ada banyak hal yang bakal kamu jumpai disana. Toh nasib sesorang tak pernah ada yang tau, dan bertemanlah agar kisahmu menjadi lebih menarik .