Mulai ketika menginjak usia sekitar 20an mungkin, kamu akan merasa dihantui pertanyaan dengan kata tanya 'kapan' yang menyesakkan hati. Entah itu sebenarnya sesepele basa-basi ketika bertemu teman lama yang menanyakan, "Kapan beres kuliah?" Atau candaan garing bernada mengolok dari teman akrabmu, "kapan nyusul?" Ketika ada di resepsi teman.

Saat masih pakai seragam, entah putih-merah, putih-biru, atau putih-abu, rasanya hal-hal berbau kapan belum cukup menganggu. Bisa jadi karena saat itu kita masih berseragam, sehingga kita masih seperti diikat oleh ruang dan waktu yang sama dengan yang lainnya, belum ada yang merasa perlu berkompetisi cepat-cepatan untuk meraih sesuatu. Yakali kan ditanya, "kapan lulus?" Karena semua juga tahu tanggal ujian yang sudah ditetapkan pemerintah.

Advertisement

Padahal sebenarnya apa benar hidup ini tentang kompetisi balapan semacam itu? Apakah lantas yang duluan nikah adalah pemenangnya dan yang masih menikmati masa jomblonya adalah si kalahnya? Kapan sidang, kapan lulus kuliah, kapan kerja, kapan nikah, kapan punya anak, kapan sukses, dan lainnya hingga ketika satu sudah terlewati akan disambut dengan kapan-kapan berikutnya.

Terus berlanjut hingga mungkin pertanyaan, "kapan mati?" ingin sekali diungkapkan kalau saja tak ingat sopan santun. Lalu pertanyaannya, kapan kita akan terbebas dari semua pertanyaan kapan itu?

Semua orang juga tahu, bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Bahwa menghadapi komentar dan pertanyaan orang seputar hidup kita yang sama sekali bukan dimaksudkan untuk bersimpati adalah hal yang menjengkelkan.

Advertisement

Meski begitu seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam bergaul, pertanyaan semacam itu tak pernah berhenti dipertanyakan, bahkan oleh kita. Percayalah, mereka yang ditanya itu juga tak tahu pasti jawabannya karena apapun tentang masa depan adalah tentang ketidakpastian.

Kita juga tahu bukan, kalau manusia hanya bisa sebatas membuat rencana, hasilnya itu tak ada yang tahu pasti. Bisa jadi, dia yang kita tanya, "kapan lulus?" itu sedang mati-matian menyelesaikan tugas akhirnya, tapi terkendala ini dan itu yang sama sekal tidak kiita tahu.

Atau dia yang kita tanya, "kapan nikah?" itu baru saja sembuh dari luka setelah gagal nikah dengan pasangannya. Mereka pastinya sudah cukup terbebani dengan semua masalah itu, tak usahlah kita pertanyakan hal yang tidak pasti! Apalagi kalau niatnya sekedar iseng. Karena lagi-lagi, apapun tentang masa depan itu adalah tentang ketidakpastian, bahkan ketika semua persiapan sudah matang pun banyak hal yang bisa membuatnya batal,

Hidup adalah tentang menikmati jalan kita masing-masing dan mencapai tujuan kita masing-masing. Tak perlu ada kompetisi balapan, karena bagaimana bisa yang lebih cepat disebut pemenang toh jalannya pun berbeda, iya kan?

Jadi, tak usah membandingkan kehidupan kita dengan orang lain karena kebahagiaan mereka bukanlah indikator untuk kebahagiaan kita. Juga tak perlu repot mengomentari jalan hidup orang lain karena kita bukian indikator untuk kebahagiaan orang lain. Sudah saatnya kita merdeka untuk menjalani kehidupan kita sendiri dan mencapai bahagia kita masing-masing tanpa perlu dihantui pertanyaan, "kapan?".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya