Hei, Ibu Pertiwi sudah merayakan Dirgahayu yang ke-73, nih! Apa kabar anak sebangsa dan se-Tanah Air? Sebagai orang Indonesia, beberapa sifat positif kita termasuk suka gotong royong dan saling peduli.

Nggak apa-apa, sih. Namun, sayangnya, kadang kepedulian kita terhadap sesama suka salah tempat dan kadang sampai kebablasan. Niatnya baik, namun bukannya bikin senang, yang ada malah rasa sesak dan nggak bebas yang kian menjadi. Contohnya? Banyak, kok. Yuk, kita cek satu-satu.

Advertisement

Peduli Tapi Salah Fokus

Mungkin karena lebih gampang (dan nggak perlu banyak mikir maupun pakai hati), fokus kepedulian kita sering banget salah. Misalnya, basa-basi saat udah lama nggak ketemu teman atau saat arisan keluarga.

Emang sih, niatnya beramah tamah. Cuma, bayangin kalo tiap kali ketemu (setelah jeda bulanan maupun tahunan), yang ditanyain ya, yang ini-ini terus:

Advertisement

"Apa kabar? Kok gendutan/kurusan, ya? Kenapa, sih?"

"Udah married belum? Hah, umur segitu kok masih jomblo?"

"Kapan nih, ada momongan? Nikahnya udah lama, bukan?"

Sedihnya, karena udah dianggap biasa, begitu ada yang protes langsung dituduh baperan. Padahal, tuntutan hingga nyinyiran yang ‘terselip’ dalam sapaan basa-basi semacam yang di atas bikin orang sesak. Negeri ini memang udah #merdekatapi belum bebas dari tuntutan sosial hingga nyinyiran sesama. Capek, yah?

Nggak hanya itu. Entah kenapa, kita lebih mudah sibuk dan fokus sama hal-hal remeh yang sebenernya nggak terlalu penting juga dibahas. Padahal, masih banyak masalah lain yang jauh lebih pelik dan justru lebih membutuhkan kepedulian kita.

Contoh: daripada ngurusin berat badan dan bentuk tubuh orang lain (termasuk apa yang mereka pakai), kenapa kita nggak menolong orang yang kena masalah? Misalnya: anak-anak kurang beruntung yang terpaksa mengemis di jalan. Kenapa nggak mengurusi perut mereka dengan rajin memberi makan? Saya yakin, kegiatan ini masih jauh lebih berguna daripada usil bertanya apakah saudara kamu yang gemuk itu udah pernah mencoba diet atau enggak.

Intinya, lebih baik memerdekakan kaum papa dari kelaparan daripada mengurusi badan orang lain. Toh, yang punya badan juga belum tentu seribut kamu, kok.

Daripada nyinyirin kaum jomblo (yang mungkin sebenarnya jauh lebih bahagia daripada kamu yang kurang kerjaan), mending bantu mereka yang jadi korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Yang sering kejadian justru malah sebaliknya: pura-pura nggak denger saat istri tetangga nangis-nangis karena dipukuli suaminya. Alasannya, "bukan urusan kita".

Buat yang hobi nodong pasangan menikah agar segera punya anak, mending sekalian siapin duit yang cukup, deh. Buat apa? Ya, buat bantu mereka biayain hidup si anak. Toh, yang minta juga kamu? Masa cuma nodong habis itu mau enaknya aja?

Peduli Tapi Kebablasan

Ada lagi yang bikin saya geli, gemas, plus kesal setengah mati. Iya, orang Indonesia memang beragama dan sangat peduli dengan moral. Nggak ada yang salah dengan itu. Bagus banget malah.

Mengingatkan sesama mengenai pentingnya etika dan moral itu memang bagus. Tapi, enggak usahlah dengan cara kasar yang justru bikin trauma. Jadinya malah nggak beda sama penjajah jaman dulu, lho. Hiii…

Apalagi bila sampai melanggar wilayah privasi orang. Ini ibaratnya sama aja dengan sengaja cari-cari aib orang terus disebar-sebar ke mana-mana, biar mereka malu dan yang menemukan ibarat pahlawan. Padahal, itu sama saja dengan berdosa. Untuk apa sih, kalau kita-nya sendiri juga belum tentu sempurna?

Lalu, bagaimana bila orang yang kamu langgar privasinya itu ternyata tidak seperti yang kamu tuduhkan sebelumnya? Apakah hanya dengan meminta maaf bisa langsung menyembuhkan trauma mereka?

Merdeka seharusnya juga termasuk tidak memaksakan agama atau kepercayaan yang kamu anut kepada sesama anak bangsa. Jangan sampai agamamu yang sebenarnya baik jadi ternoda oleh ulah penganutnya yang hobi mengancam dan mengintimidasi mereka yang tidak sepaham.

#MerdekaTapi Masih Suka Kepo dengan Urusan Pribadi Sesama? Idih, udah nggak jaman lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya