Ada anak kecil, yang dengan santainya berlalu lalang dengan mengendarai motor di jalanan. Ada pula seorang anak, yang tanpa perasaan berdosa menghirup sebatang tembakau di pinggir jalan. Dan ada juga sepasang anak kecil yang sudah saling memanggil dengan sebutan mama papa, beradegan layaknya pemain sinetron di bangku-bangku taman.

Semua itu salah siapa? Apakah Anda masih mau menutup mata atas apa yang selama ini terjadi di sekitar kita? Apakah Anda mau generasi penerus kita seperti itu? Apakah, apakah, dan masih banyak apakah lain yang perlu kita tanyakan.

Advertisement

Kita hidup di zaman modern di mana para orang tua sudah tidak mau lagi anaknya meneruskan budaya leluhurnya. Ya, kesalahan yang sebenarnya bukanlah pada anak. Karena seperti seseorang yang merupakan cerminan dari jodohnya, seorang anak juga cerminan dari pola asuh dan didik orang tuanya. Orang tua yang salah adalah mereka yang sudah mendewasakan anaknya sebelum umurnya. Mereka terperangkap dalam sifat tamak dan gengsi yang membuatnya harus memberikan segalanya kepada anak meskipun itu tidak sesuai dengan umur si anak.

Bayangkan saja seorang anak yang baru lahir tidak diberikan ASI melainkan kopi. Apa yang akan terjadi ? Seperti itulah prinsipnya ketika orang tua memberikan izin kepada anaknya untuk mengendarai kendaraan bermotor sebelum sang anak berada pada usia yang tepat. Dan parahnya lagi, mereka seakan membiarkan anaknya mati di jalanan dengan tidak menyuruhnya memakai helm. Tak sedikit pula dari orang tua yang enggan atau malas memberikan pengetahuan tentang lalu lintas dan berkendara.

Hal yang sama terjadi pula ketika orang tua membiarkan anaknya berselancar di dunia maya yang memiliki akses tanpa batas. Orang tua yang tidak pernah membatasi anaknya pasti tidak akan tahu apa yang selama ini dilihat oleh anaknya di internet. Pada akhirnya ini lah yang membuat mereka melakukan apa yang mereka lihat karena pada usia yang masih kecil seorang anak masih belum bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Beruntung jika yang ia lihat benar seperti berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Namun bagaimana bila yang ia lihat salah. Sebut saja youtube yang memiliki jutaan konten yang tentunya ada celah dosa di dalamnya. Jika sekali saja sang anak terperangkap dalam kenikmatan tersebut, maka ia akan merasakan ketagihan hingga usia dewasanya.

Advertisement

Bisa dilihat saat ini banyak ayah-ayah muda yang bisa disebut pecundang dengan lari dari apa yang ia kerjakan. Bayangkan berapa jumlah calon anak yang harus mati duluan sebelum menghirup segarnya udara dunia. Dan bayangkan jika hal ini terus terjadi tanpa ada satu kasus pun yang diketahui oleh orang tuanya. Mengerikan bukan?

Sebelum terlambat, alangkah baiknya orang tua harus benar-benar siap sebelum diberikan titipan oleh Tuhan yang bernama anak. Jangan hanya berkeinginan punya anak karena ‘sudah waktunya’ atau ‘tuntunan orang tua’. Hasil yang Anda dapatkan belum tentu senikmat ketika Anda membuatnya. Orang tua harus terus mengawasi perkembangan anaknya hingga dewasa supaya tahu apakah si anak tersebut berada di jalan yang benar atau salah. Pastikan orang tua menempatkan anak pada lingkungan yang tepat agar mereka tidak salah jalan nantinya. Dan terakhir, orang tua perlu menyingkirkan rasa gengsi dengan membiarkan anak dewasa sebelum waktunya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya