Misalkan kita diciptakan tidak saling mengenal. Barangkali tidak ada setitik pun kerinduan-kerinduan yang kerapkali mendatangi tanpa permisi. Aku yang di sini: tepat di mana malam sedang pekat-pekatnya, tidak akan mengingatmu. Membayangkanmu. Apalagi menulis puisi tentangmu.

Kau yang di sana, sebetulnya aku tak tahu kau sedang ada di mana. Entah pada saat aku menulis ini kau sedang di musholla, di kamar, di kamar mandi, di dapur, di lain-lain tempat yang aku cuma bisa mengira-ngira. Tidak akan sms. Tidak akan bilang kangen dan sebagainya dan sebagainya. Sebab, kau dan aku tidak saling mengenal.

Misalkan kita diciptakan tidak saling mengenal. Orang-orang juga seperti itu. Lalu-lalang tanpa tutur sapa. Seperti hewan yang butuhnya hanya makan. Kalau di pasar, orang-orang menawar tanpa memanggil. Hanya pembicaraan yang hambar keluar dari mulut-mulut. Kalau di jalanan tepat pada lampu merah, orang yang akan beli koran tidak akan memanggil penjual koran. Semua bertingkah seperti orang utan. Kalau di tempat, segala-galanya tempat, orang minta tolong, memberi pertolongan, memberi teori pertolongan tanpa menyebut nama. Sungguh, seperti dunia-neo-purba-modernisme (ini istilah saya sendiri. Kalau komplain, silahkan.)

Aku tak kenal ibuku, ayahku, apalagi ibumu ayahmu. Kau tak kenal ibumu, ayahmu, apalagi ibuku, ayahku. Maka mustahil kita bertemu. Mustahil pula kita datang bersama ke penghulu. Kemudian berlanjut, mustahil cinta mempertemukan kau dan aku.

Misalkan kita diciptakan tidak saling mengenal. Aku melihatmu biasa saja. Bicara seperti semestinya orang biasa. Membahas puisi dan lain-lain hanya sebuah bayangan. Aku bukan siapa-siapa, kau juga bukan siapa-siapa. Ibarat saja waktu itu kita sedang bertelpon ria berlama-lama. Tanpa menyapa. Kau seperti ngomong sendiri, aku pun juga. Bukankah sebuah perkenalan yang menyebabkan kita bahagia?

Advertisement

Tentu saja jika kita tidak saling mengenal, kita tidak akan saling bicara lewat telepon. Ah, sorry, handphone.

Misalkan kita diciptakan tidak untuk saling mengenal. Tapi membenci (sekalipun tidak tahu namanya). Kerapkali kulihat fotomu yang tersenyum itu, pastilah cepat-cepat kuhapus dari layar monitor (kalau menyobek foto, itu tandanya aku tidak di depan komputer). Atau yang lebih kejam, kuludahi terlebih dahulu. Aku tak peduli layar komputer itu jadi kotor.

Hadiah-hadiah darimu, semuanya aka kukubur. Atau, mungkin saja tidak akan ada hadiah kalau kita tidak saling mengenal. Sama saja denganmu, seperti itu juga sikapmu padaku. Tapi, dunia telah baik hati. Membiarkan kita saling mengenal satu sama lain. Membiarkan aku mengenalmu. Membiarkan kita belajar jatuh cinta. Tabah menggenggam rindu sebab jarang bertemu. Membiarkan kita belajar memahami. Lalu, mengingat-ingat kembali masa perkenalan itu.

Akhirnya, ini sebuah eksperimen. Mencoba memutarbalikkan isi dari judulnya.

Misalkan kita diciptakan untuk saling mengenal, bahkan sejak kecil sekalipun. Atau sejak dalam rahim. Atau, lebih imajinatifnya sejak orangtua kita baru mengenal cinta. Mungkin saja hal ini aku keterlaluan dalam membayangkan.

Lalu, apalagi yang harus dibahas kalau kita sudah saling mengenal? Tidak ada misal dan misal. Semua berjalan apa adanya. Sejatinya, pada saat bertanya membahas apa, sudah membahas pertanyaan itu sendiri.

Misalkan aku tak mengenal kata, “Misalkan kita tidak saling mengenal”. Apa jadinya?

Daruz Armedian, penulis cerpen dan puisi.