Aku selalu menikmati kehangatan ketika senja telah tiba. Aku selalu menjadi orang yang berbahagia karena hari baru akan segera tiba. Namun, oleh karenamu aku pernah menjadi pribadi yang berharap untuk senja tidak perlu lagi terjadi. Karena ketika hari berakhir, aku khawatir kita tidak bisa saling memiliki kembali Karena hari esok bukanlah kesempatan yang kita saling janjikan meskipun sangat kita inginkan.

Aku pernah menjadi seseorang yang siap melawan seisi dunia hanya supaya kita dapat terus saling menggenggam. Aku pernah menjadi seseorang yang berani menembus dinginnya malam, hanya untuk memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi. Aku pernah menjadi seorang juru tangis yang ulung karena tidak mengkehendaki setiap perkara kita sudahi dengan perpisahan. Aku pernah menjadi negosiator handal yang melemparkan begitu banyak kata dalam sekejap supaya kita tetap bersama. Aku pernah menjadi seseorang yang bisa melakukan apa saja, selama kita bisa tertawa bersama.

Dulu tidak satupun hal yang berkaitan dengan perjuangan tidak bisa dan tidak akan aku lakukan, asalkan kau terima aku sebagaimana adanya diriku. Menerimaku sebagai diri yang utuh tanpa paksaan untuk hidup sebagai pendukung tujuanmu dan mengabaikan tujuanku begitu saja. Tidakkah kau lihat? Tanpa berdiri di garis pendukung yang engkau harapkan aku bisa melakukan semua hal untuk kebaikanmu.

Apalagi kurangnya diriku? Hingga kau merasa aku hanya pemberi semangat yang semu? Ah, sudahlah. Aku hanya tahu melakukan yang terbaik versi diriku untuk membahagiakanmu dalam ribuan hari yang pernah kita lalui bersama. Hari-hari yang kita isi dengan berbagai macam hal yang kini terlihat hampa. Membuatku pada masa itu terlihat seperti seseorang yang tengah berjuang mengumpulkan angin dengan jaring di tangannya. Tidakkah aku bergitu terlihat menyedihkan?

Namun bagaimanapun itu, aku terlihat menyedihkan dalam niat dan usaha yang sia-sia itu bukanlah salahmu. Kau telah cukup baik memainkan peranmu yang selalu ber-acting sebagai orang yang ingin dipertahankan dan diperjuangkan. Bagaimanapun itu, itu semua bukanlah salahmu. Salah, akulah satu-satunya yang bersalah.

Advertisement

Aku bersalah karena telah mengambil inisiatif untuk berjuang Aku bersalah karena telah mengambil inisiatif untuk berusaha. Dan aku juga bersalah kepada diriku sendiri karena berupaya terlalu keras selama ini hanya untuk dengan mudahnya dihempaskan seperti debu yang kemudian menghilang. Kau, tidak bersalah. Akulah, satu-satunya yang berasalah Mungkin aku hanyalah perempuan yang terlalu bersemangat.