Saya ingat kutipan dialog antara Riggan Thomson dan anaknya, Sam Thomson dalam film Birdman (or The Unexpected Virtue of Ignorance).

Riggan : Listen to me. I'm trying to do something important.

Advertisement

Sam : This is not important.

Riggan : It's important to me! Alright? Maybe not to you, or your cynical friends whose only ambition is to go viral. But to me… To me… this is – God. This is my career, this is my chance to do some work that actually means something.

Sekilas info, Birdman adalah film komedi asal Amerika yang digarap oleh sutradara Alejandro G. Inarritu. Film ini berhasil memenangkan kategori Best Picture pada Academy Awards 2015 (atau biasa disebut dengan The Oscars). Tokoh utama dalam film tersebut, Riggan, adalah seorang pensiunan bintang film terkenal yang kini menjadi sutradara dan aktor Broadway. Puncak pencapaian karirnya adalah ketika 20 tahun yang lalu, Riggan membintangi film superhero Birdman, yang mana itu menjadi satu-satunya film yang selalu ia banggakan.

Advertisement

Pada dialog antara Riggan dan Sam Thomson diatas, terdapat makna yang sangat mendalam. Riggan yang mempertahankan opininya bahwa karirnya di Broadway, yaitu pertunjukan teater profesional yang terkenal di Amerika, sangat penting untuk hidupnya, bahkan karirnya itu adalah segalanya. Anaknya, Sam, membantahnya bahwa karirnya di Broadway tidak penting. Sontak bantahan tersebut membuat Riggan marah. Riggan menyebut anaknya beserta teman-teman sebayanya di generasi sekarang ini lebih mementingkan eksistensi di media sosial dengan berlomba-lomba mempertunjukkan status-status atau update yang bersifat viral. Dan kembali lagi, Riggan mempertahankan bahwa karir Broadway-nya adalah segalanya dan suatu kesempatan untuk dirinya membuktikan sesuatu yang hebat setelah ketenarannya pada era Birdman.

Dari keseluruhan film tersebut, saya melihat suatu fenomena yang sedang terjadi di masa kini.

Ya, anak muda generasi sekarang ini tidak jauh dengan apa yang ada dalam diri Sam Thomson pada film Birdman. Ambisi dalam mengejar eksistensi membuat anak muda generasi kini mengalami penurunan apresiasi terhadap karya seni.

Saya tidak bilang "semua anak muda", tapi saya bisa katakan hampir sebagian besar.

Dan karya seni yang akan saya bahas disini bukanlah karya seni berbentuk lukisan dan sejenisnya, namun lebih ke karya-karya seperti film, literasi, musik, bahkan game.

Mari kita mulai dari Film.

Pada awal tahun 2010, saya melihat budaya menonton di bioskop Indonesia kembali booming. Ketika itu, film Avatar garapan sutradara James Cameron, berhasil menguasai box office dunia bahkan Indonesia. Sejak itu hingga kini, masyarakat Indonesia seperti senang sekali mengajak keluarga dan kolega untuk berbondong-bondong pergi ke bioskop menyaksikan film terkini yang sedang tayang di bioskop. Namun, mayoritas dari masyarakat lebih memilih untuk menonton film-film luar negeri terutama film-film Hollywood. Sebelum tahun 2010, film-film dalam negeri seperti Ada Apa Dengan Cinta, Arisan, Gie, Naga Bonar Jadi 2, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, sempat merebut hati masyarakat Indonesia untuk lebih memilih menonton film-film tersebut dibanding film-film dari luar negeri.

Setelah tahun 2010, apresiasi terhadap sinema Indonesia seperti semakin menurun. Meskipun pada tahun 2012, film-film seperti 5 cm, Habibie & Ainun, bahkan The Raid, sempat merebut hati masyarakat Indonesia, namun setelah itu hingar-bingar film dalam negeri seperti mati kembali. Budaya kita yang lebih memilih menonton film karya luar negeri seakan membuat para sineas dan filmmaker Indonesia seperti frustasi. Saya bisa katakan bahwa penghasilan utama dari sebuah film adalah box office yang berhasil diraih pada penjualan tiket bioskop, mengingat pembajakan semakin marak apalagi kini film bisa diunduh secara gratis di internet. Jika film dalam negeri saja sudah kurang peminat, darimana lagi para filmmaker mendapat penghasilannya? Saya sendiri kurang paham dengan sumber penghasilan film yang berasal darimana saja (karena saya bukan produser film he he), tapi saya bisa lihat devisa negara sebagian besarnya bisa didapatkan dari penjualan tiket bioskop. Jika film dalam negeri saja sudah sepi, bagaimana berani untuk mengekspor film-film tersebut diluar negeri? Ya, filmmaker seperti Joko Anwar, yang prestasinya sudah sampai ke festival-festival film luar negeri, menunjukkan bahwa film-film Indonesia terbukti memiliki taring yang tajam untuk berkompetisi dengan film luar. Namun saya bisa katakan, itu masih Joko Anwar, atau Riri Riza, atau Garin Nugroho, yang mana film mereka pun masih dinikmati oleh hanya sebagian kecil kalangan masyarakat. Mungkin baru-baru ini Riri Riza berhasil merebut hati kalangan masyarakat luas dengan film Ada Apa Dengan Cinta 2, yang harus berkompetisi dengan film-film seperti Captain America: Civil War dan Batman v Superman: Dawn of Justice di bioskop Indonesia. Pesona Nicholas Saputra yang harus bertarung dengan karisma Robert Downey Jr untuk merebut hati masyarakat Indonesia.

Saya kira, kurangnya apresiasi itu yang membuat para filmmaker dalam negeri seakan-akan seperti kurang berani mempertaruhkan kreativitas mereka lebih dalam lagi. Tidak jarang juga kini kita sering melihat film-film yang terkesan instan dibuat. Kualitas dan kedalaman materi film dalam negeri seperti menurun drastis dan kehilangan karakternya. Masyarakat lebih senang dengan meme-meme dan sesuatu yang viral yang berkaitan dengan film-film Hollywood yang sedang nge-hits saat ini, yang mereka sering lihat dan tunjukkan di media sosial.

Dari Film, kita menuju ke Buku dan Literasi.

Yap, budaya baca benar-benar hampir punah di negeri ini. Sempat booming sebelum tahun 2010 novel laris karya Andrea Hirata yaitu tetralogi Laskar Pelangi yang berhasil best-seller untuk sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia di semua umur. Ada juga novel Harry Potter yang sempat membuat anak-anak muda Indonesia jadi gemar membaca.

Di era dewasa kini? Saya bisa sebutkan penulis-penulis seperti Dee (Dewi Lestari), Pidibaiq, dan Tere Liye sedang berusaha menyelamatkan generasi muda masa kini untuk kembali mencintai literasi. Literasi fiksi maupun non-fiksi, mampu membangkitkan imajinasi, dimana imajinasi menjadi salah satu sumber kreativitas. Dan saya bisa katakan, menurunnya kualitas komunikasi verbal anak muda zaman sekarang diakibatkan kurangnya membaca karya-karya literasi. Era digital ini, anak muda seperti tidak bisa menyempatkan waktu untuk membaca buku entah apapun buku itu. Generasi muda seperti lebih meluangkan waktunya hanya untuk scroll-scroll media sosial. Termasuk saya sendiri selaku penulis artikel inipun mengakuinya, meskipun saya masih sempat untuk membaca karya Tere Liye. Dan disuatu talkshow pun saya juga pernah bertemu kang Pidibaiq sebagai moderator, beliau adalah sosok yang lucu, friendly, dan rendah hati.

Lalu, bagaimana mengembalikan budaya membaca literasi di negeri ini?

Saya sendiri masih tidak tahu cara yang tepatnya. Bahkan beberapa anak muda pun sudah menganggap membaca literasi fiksi seperti orang kuno atau si kutu buku introvert yang sangat melankolis atau apalah entah itu.

Dari Buku dan Literasi, kita menuju ke Musik.

Musik? Ah entahlah. Saya sudah tidak tahu banyak update musik dalam negeri terkini. Paling banter, saya tahu Raisa, Isyana, Raisa lagi, Isyana lagi, ya dia-dia saja (maafkan saya hehehe). Dan yang sering datang kekampus di kota saya itu seperti Tulus dan HiVi, dan Teza Sumendra, dan Payung Teduh, itu yang saya tahu. Sisanya? Saya tak tahu mau dibawa kemana yang lain.

Saya merindukan generasi Nidji, Peterpan (sekarang Noah), Sheila On 7, Padi, Dewa 19, kembali booming sebagai karakter grup band anak negeri. Untungnya diva-diva seperti Rossa dan Titi DJ masih punya penerus seperti Raisa dan Isyana. Anak muda zaman sekarang begitu terbuai dengan musik-musik luar negeri, yang kalau saya dengar dari kuping saya sendiri, semua terdengar sama, serba digital. Saya tidak mengatakan musik luar masa kini itu buruk, tapi alangkah baiknya kita juga masih memperhatikan musisi-musisi dalam negeri, bahkan lebih memprioritaskan mereka. Ya, kembali lagi, saya harus mengakuinya lagi selaku penulis, saya pun menyukai beberapa musik luar masa kini. Tapi kembali lagi, ketika mendengar lagu-lagu bahasa ibu, saya masih dan akan tetap dan selalu tersentuh. Mungkin saja kurang beraninya musisi dalam negeri untuk menggali lebih mendalam kreativitas dalam berkarya, diakibatkan karena kurangnya apresiasi generasi terkini terhadap musik dalam negeri. Saya bisa katakan apresiasi terhadap musik anak negeri saat ini sering datang dari suatu komunitas bernama alay, itupun karena dibayar (he he maap ya lay).

Contoh karya seni yang lain yaitu Game.

Ya, bagi saya game merupakan karya seni. Namun, saya sendiri bukan seorang gamer yang addict. Teman-teman saya yang addict he he. Tapi, saya sendiri miris ketika melihat teman-teman yang lain hanya memainkan game karya luar negeri tetapi tidak menciptakannya. Beberapa teman saya sudah sangat kecanduan terhadap sebuah game (sebut saja D*TA). Saya bisa katakan studio-studio game anak negeri seperti Agate Studio, atau Own Studio yang sekarang lagi ngetrend dengan game android Tahu Bulat, yang berhasil menggeser kekuasaan COC (Clash of Clans).

Ya, itulah opini saya terhadap apa yang terjadi pada karya seni dalam negeri saat ini.

Namun dibalik segala kurangnya apresiasi itu, saya berterima kasih dan bersyukur terhadap rekan-rekan masyarakat Indonesia yang masih setia mencintai dan menikmati karya anak negeri, yang mungkin kecintaannya melebihi saya sendiri selaku penulis, karena jujur saya sendiri pun masih kurang nasionalisme-nya untuk mengapresiasi karya seni dalam negeri he he. Tapi semoga saya, kita semua, terus bersemangat memajukan karya seni Indonesia bahkan sampai ke luar negeri sana.

Akhir kata, saya bisa katakan bahwa seniman merupakan salah satu profesi yang mulia. Seni adalah jalan keluar dari kehidupan nyata, dimana didalam seni terdapat fantasi dan imajinasi yang mampu memicu kreativitas dan motivasi kita dalam menggapai tujuan dan cita-cita. Cintailah para seniman anak negeri dan karya-karyanya. Semoga suatu saat nanti akan ada anak negeri ini yang memenangkan Oscar, Grammy, Pulitzer, bahkan Nobel.

Maju terus Indonesia!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya