Aku tak mengerti dengan cinta, bukan cinta tapi tepatnya hubungan pacaran. Hubungan ini bagiku sendiri adalah pengalaman yang lebih banyak melelahkan hati. Sebab ketika ada dalam hubungan yang tak sepenuhnya menjanjikan ini, kita banyak memberi, menerima dan memahami dengan akhir yang masih abu-abu. Seolah terbuai dengan kenyamanan, tidak ada lagi keraguan untuk memberi sepenuh hati dan menghabiskan banyak waktu bersama.

Dan ketika segalanya berakhir, tak sedikit yang bisa dengan mudah menerima perpisahan, bahkan membutuhkan waktu tuk bergulat dengan hati yang sudah seperti tenggelam, kelabu, tersayat hingga mampu mempengaruhi kualitas hidup. Lalu ketika ada pada akhir ini, apa yang terjadi dengan cerita indah dan milyaran waktu itu? Apakah dilupakan begitu saja? Ataukah memiliki tempat dalam benak? Tentu semua ini bergantung pada bagaimana segalanya berakhir dan keputusan dari dua karakter utama yang merupakan aktivis pacaran.

Advertisement


Pacaran bisa juga dibilang sebagai hubungan penuh resiko. Salah satu resikonya adalah harus siap patah hati atau dengan kata lain jika berada dalam hubungan ini, bersiaplah untuk putus.


Pertanyaannya, kenapa harus jalani jika resiko ini bisa saja terjadi? Apakah kebanyakan manusia menyukai tantangan? Sungguh masalah hati bukan seperti melamar pekerjaan yang perlu dilalui prosesnya, walaupun tahu hanya akan ada dua kemungkinan, diterima atau tidak. Namun ini berbeda, ini masalah hati yang tak banyak orang bisa memulihkan lukanya dengan cepat, bisa jadi ada nyawa yang terenggut karenanya.

Terkadang hati seseorang tak diperhitungkan oleh hati yang lain, walau seberapa berharga itu menurut seseorang, belum tentu hati yang lain lebih menjaga hatimu. Jadi bagiku dalam hubungan ini sebenarnya jagalah hati bukan hanya menjaga dari timbulnya rasa ingin mendua, tapi menjaga diri sendiri agar tak jatuh terlalu dalam.

Advertisement

Sadar atau tidak, berada dalam hubungan ini juga bisa membuat diri seseorang mengalami perubahan kepribadian dan hal-hal lainnya secara seketika. Karena bukan cuman hati yang bersatu tapi ada pikiran yang bersatu hingga banyak yang ingin berubah demi cinta. Ada yang masih membuat diriku sendiri bingung dengan hubungan ini, apa sebenarnya landasan dari hubungan ini, apakah rasa cinta atau tergila-gila?

Jika cinta seharusnya bisa menjadi apa adanya dan tidak perlu berubah, kecuali tergila-gila, tentu saja landasan ini akan menuntut banyak hal yang membuat seseorang berubah. Kebanyakan para aktivis pacaran melandasi indahnya rupa sebagai landasan rasa sayang dan cinta. Bukankah landasan ketertarikan fisik hanyalah sebuah penghinaan pada sebuah cinta yang hakiki? Ketertarikan fisik kebanyakan menjadi daya tarik orang-orang pada umumnya.


Ya, ini memang sebuah kewajaran karena cukup manusiawi. Tapi apakah nanti jika rupa sudah tak lagi sama, akankah rasa yang menggebu-gebu dan menggetarkan hati saat berjumpa dan bertatap itu masih yang sama?


Ini pertanyaan penting karena rupa indah yang diidamkan itu ibarat fondasi yang menguatkan rasa cinta, dan jika rupa indah itu mulai memudar, tentunya akan merapuhkan sedikit demi sedikit rasa cinta yang terjalin. Aku tak bicara tentang semua orang seperti ini, tapi inilah yang sering terjadi. Sadar atau tidak, kebanyakan orang yang berada dalam hubungan ini tak berakhir dalam pelaminan walau sudah bertahun-tahun menjalin cinta cukup lama. Lalu apa yang kurang dari waktu bertahun-tahun itu? Lamanya waktu hanya dihabiskan dengan ketidakpastian.

Pacaran yang katanya sebagai masa-masa perkenalan untuk mengetahui pasangan lebih dalam sungguh tak banyak berujung bahagia, karena memang sekali lagi hubungan ini hanya sebuah ketidakpastian yang tak perlu. Banyak orang bilang, pacaran itu sebagian dari kisah kasih yang patut ada dalam masa muda kita. Ya, mungkin untuk sebuah permainan, namun tidak untuk sebagian dari manusia polos dan lugu yang mungkin saja akan terbawa cinta dan meyakini cinta dalam sebuah hubungan yang salah.

Karena jika hubungan itu tak terjalin selamanya seperti janji manis dan kesetiaan bak ikatan suci dalam pernikahan, maka mereka yang lugu hanya akan menjadi patah sepatah-patahnya dan mungkin saja akan takut untuk jatuh lagi. Ini mungkin akan menjadi tulisan yang sedikit mengganggu bagi mereka yang sedang dalam sebuah hubungan pacaran. Tapi, anggaplah ini sebagai sebuah pendapat yang patut diterima karena seperti itulah kebanyakan orang yang berpacaran. Kalau kata orang, akhir tak bahagia dari pacaran itu akan baik-baik saja jikalau dalam ikatan itu, kita tak terlalu melibatkan perasaan yang berlebihan, apakah bisa?

Karena dalam ikatan itu, dua karakter utama dalam hubungan itu akan mengalami yang namanya revolusi rasa, dari yang biasa sampai luar biasa. Tentunya seluruh rasa akan diberikan dan salah satu dari karakter itu mungkin saja memiliki tingkat rasa yang unggul. Semua orang berhak menentukan cara agar dapat mendekat pada sang pujaan hati, maka dari itu mendekatlah pada waktu yang tepat, tidak mengulur waktu, datang dengan kepastian dan mampu saling jatuh cinta dengan bijak.


Aku tak tahu harus menenetukan cara yang mana agar dua hati yang saling cinta terikat selain pernikahan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya