Dengan memanasnya isu SARA yang berkembang di penghujung 2017. Akhir-akhir ini dunia stand-up komedi Indonesia juga dengan diwarnai berbagai polemik. Jauh sebelum semua polemik ini bermunculan, kontroversi yang melibatkan para komika ini juga sempat beberapa kali terjadi di Indonesia.

Pertama, diawal 2017 salah satu komika jebolan SUCI, Uus, harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari warganet Twitter terkait dengan cuitannya yang dianggap menyindir salah satu tokoh ulama. Namun, masalah dari ini Uus tidak sampai berususan dengan pihak berwajib.

Advertisement

Dua bulan berselang, salah satu komika yang juga malang melintang dalam dunia perfilman Indonesia, Ernest Prakarsa, harus mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan pula dari warganet Twitter terkait dengan cuitannya yang dianggap tidak tepat dengan situasi saat itu. Menyadari cuitannya bermasalah dengan beberapa warganet, Ernest langsung memberikan klarifikasi dan permohonan maaf atas tindakannya tersebut. Beruntung bagi Ernest, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang namanya dicatut dalam cuitan tersebut memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini.

Advertisement

Dan di bulan Januari 2018, polemik yang melibatkan para komika dengan agama kembali terulang. Dalam kasus terakhir ini, bahkan komika yang terlibat sudah dilaporkan oleh salah satu ormas atas dugaan penistaan agama. Dua komika yang terlibat dalam kasus tersebut adalah Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Pihak pelapor (FUIB) pun telah memaafkan Joshua. Hanya saja bagi FUIB proses hukum harus tetap berlanjut agar timbul efek jera.

Dalam pandangan agama yang saya yakini, Islam. Islam selalu memandang untuk menempatkan mengingat kematian dan mengurangi bergelak tawa, bahkan hal ini dijelaskan dalam salah satu hadist shahih. Namun saya tidak akan berpendapat mengenai hadist tersebut. Karena bukan dalam kapasitas saya untuk mengomentari dari segi agama. Jadi saya akan mengomentari kasus tuduhan penistaan agama ini dari perspektif lain.

Sebelum jauh membahas mengenai kasus tersebut. Saya akan membahas mengenai beberapa komika yang sering membawakan materi-materi yang berkarakter. Salah satu yang kita kenal membawakan materi mengenai kehidupan orang timur seperti Abdur, Arie Kriting dan Rigen. Mereka adalah beberapa komika yang aktif menyuarakan perbandingan kehidupan mereka di tanah kelahirannya dengan kehidupan orang-orang di daerah perkotaan. Komika seperti Dodit Mulyanto atau Sadana juga membawakan materi yang serupa dengan Abdur dkk, yang merupakan komika dari Timur Indonesia.

Namun dalam pembawaannya Dodit dan Sadana lebih mengupas mengenai kehidupan orang-orang desa. Ada juga Ernest Prakarsa dan lliant yang kerap kali membawakan materi mengenai keresahan mereka sebagai salah satu etnis di Indonesia. Dan sebagai salah satu komika yang paling konsisten dengan materi yang berakarakter adalah Dzawin. Dalam setiap performnya Dzawin selalu konsisten membawakan materi tentang kehidupannya semasa di pesantren.

Tidak jarang materi yang disampaikan selalu mengandung pesan moral beragama didalamnya. Mereka semua adalah orang-orang yang kreatif dalam bidangnya. Dan hingga saat ini belum pernah ditemui mengenai kontroversi dalam materi yang mereka sampaikan. Apalagi yang berujung pada pelaporan.

Setelah meninjau beberapa materi dari komika yang saya sebutkan diatas. Mereka juga sama halnya dengan Ge Pamungkas dan Joshua dalam membawakan materi sensitif. Namun mereka tak pernah bermasalah dengan materi mereka, tahu kenapa ?

Menurut hemat saya ada salah satu hal yang menyebabkan materi sensitif milik Ge dan Joshua ‘tidak lolos sensor’ adalah momentum. Materi tersebut dikeluarkan disaat bangsa ini sedang dalam situasi yang sensitif terkait dengan bertoleransi dan beragama.

Secara pribadi saya tidak mempermasalahkan apa yang disampaikan baik Ge maupun Joshua. Sama halnya dengan pembelaan-pembelaan yang diberikan sesama stand-up komedian mengenai materi Ge dan Joshua. Saya sangat setuju dengan pembelaan yang diberikan Acho, rekan satu profesi Ge Pamungkas. Namun sekali lagi sangat disayangkan adalah timing dari materi Ge dan Joshua yang jelas-jelas tidak tepat.


Walaupun secara pribadi saya juga tidak mendukung untuk mencampuradukan antara agama dengan bercanda. Namun dalam konteks lain, apakah dengan melabeli ‘penista agama’ pada keduanya juga akan menyelesaikan masalah?


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya