Dahulu, saat kelulusan SMA pada tahun 2011 merupakan penerapan sistem pertama SNMPTN Undangan di sekolahku, yakni SMA Negeri 4 Purwokerto. Sebelumnya dinamakan PMDK, yaitu sebuah sistem untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan hasil prestasi raport sejak kelas 10 hingga kelas 12 tanpa tes. Kebetulan di tahun itu juga aku menginjak kelas 12 dan otomatis sistem tersebut juga berlaku untuk aku dan teman-teman seangkatanku.

Pada sistem SNMPTN undangan di sekolahku ketika itu, tidak semua murid kelas 12 berkesempatan untuk ikut. Hanya 50% rangking terbaik dari setiap kelas yang berhak untuk ikut seleksi. Artinya, di setiap kelas ada 20 siswa yang ikut dan sisanya tentu akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri jalur SNMPTN tulis (SBMPTN) dan ujian masuk mandiri (UM) yang diadakan oleh setiap masing-masing kampus.

Aku tergolong murid pas-pasan dalam segi prestasi, bahkan tidak pernah juara rangking kelas.

Aku juga bukan murni lulusan IPA, dulu aku divonis masuk IPS dan sempat merasakan pelajaran IPS selama beberapa hari.

Aku sempat belajar akuntasi, ekonomi, geografi dan mata pelajaran IPS lainya, yang ternyata sungguh mengasyikan.

Advertisement

Namun karena cita-citaku untuk menjadi pegawai PT.KAI terutama masinis yang mensyaratkan hanya untuk lulusan SMK/SMA IPA, maka aku dan orangtuaku meminta pihak sekolah untuk pindah penjurusan dari IPS ke IPA. Beruntung saat tes kelayakan untuk pindah penjurusan aku termasuk yang lolos dan akhirnya aku masuk penjurusan IPA hingga lulus.

Sejak saat itu aku mengikuti pelajaran IPA seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Aku sangat tertarik pada bidang teknik informatika dan bahkan sejak kelas 10 aku masuk tim olimpiade sains di bidang teknik informatika termuda dan terlama di sekolah. Ketika ada kesempatan untuk mengikuti lomba aku selalu mewakili sekolahku untuk memperebutkan juara. Pada Ujian Nasional juga aku mendapat nilai tertinggi untuk mata pelajaran Matematika dan Fisika di sekolah, singkat kata, semuanya "hampir" sempurna.

Padahal aku divonis masuk penjurusan IPS oleh guruku dulu saat kelas 10

Namun, di kelas 12 Aku tidak diberi kesempatan untuk mengikuti SNMPTN Undangan karena rangking di kelas sangat jauh dari 50%, mungkin waktu itu peringkat 10 besar jika dihitung dari rangking terakhir. Sungguh iri rasanya ketika teman-teman membicarakan kampus impian masing-masing dan diberi kesempatan masuk tanpa tes. Aku cuek dan mengikuti les di lembaga bimbel ternama rutin setiap minggu, dan pada akhirnya Aku diterima di Jurusan Fisika Unnes melalui jalur SNMPTN tulis (SBMPTN). Tentu ada strategi khusus untuk mengerjakan soal tersebut karena harus memenuhi passing grade yang telah ditetapkan.

Pada tahun berikutnya 2012, aku juga mengikuti SNMPTN tulis (SBMPTN) dan memilih jurusan Teknik di kampus negeri ternama di Yogyakarta, tidak diduga saat itu namaku termasuk yang lolos. Namun setelah kupertimbangkan, Semarang lebih memberikan kesan berarti dan mungkin Aku berjodoh dengan Semarang dan semoga jodohku juga bertemu di Semarang.

Masuk perguruan tinggi memang masalah keberuntungan, namun keberuntungan juga tidak akan tercipta ketika kita hanya berdiam diri.

Keberuntungan tercipta ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan

Maka persiapkan dirimu semaksimal mungkin dan jangan lupa berdoa memohon kepada Tuhan agar diberi kemudahan.

Pesan untuk adek-adek kelas 12 yang sudah lolos SNMPTN selamat dan bersiaplah membuka lembaran baru di dunia perkuliahan, rayakan kelulusan sewajarnya dan jangan coret-coret baju. Ingat, lebih sakit rasanya nanti ketika proposal/skripsimu di coret-coret oleh dosen pembimbing. Dan untuk adek-adek kelas 12 yang belum lolos SNMPTN tetap semangat dan jangan menyerah, dengan kamu gagal bukan berarti hidup sudah berakhir. Masih ada kesempatan didepan,

Mungkin Tuhan sedang menyiapkan rencana yang terbaik untukmu. Kesuksesan bukan soal lulus atau tidak, tapi bagaimana proses kamu memperoleh kelulusan tersebut.

Salam

Hanendya DIsha Randy Raharja
4211411015
Jurusan Fisika FMIPA Unnes