Pria di ujung balkon……..,

Hai…, pria kecil…,

Mungkin saat kau menerima pesan ini, kau sudah lupa padaku.

Bertahun-tahun mengenalmu, terbiasa dengan seluruh kebiasaanmu, mungkin tak kan pernah terpikirkan olehmu bahwa diam-diam aku menyimpan rahasia kecilku di depanmu.

Aku tak tahu kapan persisnya semua ini dimulai, mengenalmu adalah sebuah misteri terumit yang pernah kujumpai selama ini.

Advertisement

Kau yang tiba-tiba muncul di balkon depan kamarku. Masih terekam jelas di otaku, wajah asing yang menyandarkan tubuhnya di pagar balkonku, menatap ke sebuah sudut diseberang gedung. Tak pernah terlintas di benakku bahwa suatu saat kau menjadi bagian dari kisahku.

Mengenalmu, pada awalnya adalah sebuah keterpaksaan. Kau yang saat itu jelas-jelas menyimpan rasa pada sahabatku, setiap hari hilir mudik tak jelas layaknya makhluk nomaden. Jika mungkin saat malam tahun baru itu kau tak memiliki ide konyol itu, kita tidak akan pernah mengenal satu sama lain.

Awalnya, serius aku tak pernah membayangkan kita akan berteman. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenalmu dan terbiasa dengan seribu satu kebiasaanmu.

Aku tahu, sedari awal bahwa hatimu telah terjaga untuk seseorang. Tetapi perlahan diam-diam aku mulai tahu tentang masa lalumu dan berbagai macam hal tentangmu tanpa pernah ku berharap untuk tahu.

Di sini aku tak kan membahas lebih dalam tentang bagaimana perasaanmu pada dia atau entah siapapun itu. Biar hanya Tuhan yang menyimpan kebenarannya.

Pada kesempatan ini aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah dimulai. Ya aku yakin tak sedikitpun terbersit di pikirmu bahwa aku, manusia cuek yang tiga tahun terkahir ini menjadi tetanggamu berani untuk menyimpan perasaan padamu. Inilah kenyataanya, inilah pengakuanku.

Jauh berbulan-bulan sebelum hari ini, tak tahu kapan persisnya perasaan itu tumbuh, namun yang pasti saat aku menyadarinya, semampuku ku berusaha untuk membabat habis perasaan itu. Aku tahu, hatimu telah berpenghuni. Dan aku sangat menghargai itu. Selain itu fakta dimana kita yang tak sekufu’, semakin mempertegas kenyataan bakwa aku tak berhak memperjuangkan perasaanku sendiri.

Aku sadar, jika sampai kau menyadari apa yang kurasakan sejak awal, kau pasti akan menjauh, pertemanan kita akan menjadi canggung, kaku. Oleh karena itu sebisa mungkin aku menyembunyikannya.

Bulan berganti tahun aku berusaha menghapus perasaanku. Serius.., mencoba move on, namun aku selalu berakhir pada titik yang sama, susah. Aku tak pernah berharap perasaanku ini berbalas, aku sadar bahwa kau berhak untuk mencintai seseorang dan berbahagia bersamanya. Seandainya sebelum Tuhan menanamkan perasaan ini dia bertanya kepadaku terlebih dahulu, mungkin aku akan memintaNya untuk tidak mentakdirkannya, serius.

Sepanjang perjalanan hidupku, jujur aku tak pernah menangis hanya karena cinta, meskipun orang-orang selalu memperolokku karena kejombloanku yang akut. Tapi ini berbeda, sepanjang menyimpan rasa padamu, mungkin sudah bergalon-galon air mataku mengalir. Malam-malam gelap yang penuh linangan air mata, suara serak yang memohon pada Tuhan untuk menghentikan perasaaan ini, dinding-dinding yang sudah bosan mendengar doaku pada Tuhan. Mungkin nampak hiperbola, namun demikian adanya.

Sampai pada suatu titik pemahaman yang kupelajari dari semua ini, cinta itu melepaskan dengan keikhlasan. Mengiklaskan orang yang kita sayangi berbahagia. Cinta bukan sebuah keegoisan, memaksa orang yang kita sayangi untuk bersama kita atau membalas perasaan kita. Cinta adalah ketulusan, bukan sebuah pamrih yang mengharap balas.

Hai…, pria kecil…, inilah pengakuanku.

Pernah di suatu waktu secara tersurat aku menceritakan kisahku ini padamu, dan tentunya aku tak mengatakan bahwa sosok yang ku maksudkan saat itu adalah kau (mungkin kau sudah melupakannya). Dan kau pernah bilang padaku bahwa aku harus membiarkan perasaan ini mengalir tanpa harus menikamnya. Padahal kau tak tahu bahwa ini semua adalah tentang dirimu.

Hai…, pria kecil…,

Ku rasa ini adalah waktu paling sempurna untuk beranjak dari perasaan ini. Saat kau membaca semua ini, aku sudah pergi. Tidak akan ada lagi rasa canggung karena harus bertemu denganmu. Jika kau berpikir kenapa aku akhirnya mengungkapkannya, ya jawabnya adalah apa yang telah dimulai maka harus diakhiri bukan? Inilah caraku untuk mengakhirinya. Aku berharap setelah aku menyampaikan semua yang kupendam maka rasa ini akan terlepas, menguap, dan menghilang. Dan cinta dalam diamku pun berakhir. Aku pun bisa menata perasaanku untuk beranjak menyongsong hati yang baru.

Aku sangat berharap setelah mendengar pengakuan ini kau tak terbebani (mungkin lebih tepatnya ilfil). Maaf jika semua ini membuatmu tidak nyaman. Anggap saja ini sebagai sebuah kisah fiksi yang kau baca.

Pria kecil..,

Kau berhak untuk berbahagia dengan hidupmu, dengan pilihanmu, perjuangkan cintamu pada gadis beruntung itu (entah siapapun dia, hanya kau dan Tuhan yang tahu), tunjukkan pada Tuhan kesungguhan dalam setiap usahamu, jangan pernah menyerah. Kau lelaki yang baik dan setia, aku yakin Tuhan tak kan menyia-nyiakan semua perjuanganmu selama ini. Ingat laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik pula. Seuntai doaku untukmu, semoga Allah, menjodohkanmu dengan wanita terbaik, baik itu rupanya, baik imanya, ketaatanya, akhlaknya dan tentunya yang sekufu’ dengan mu. Aamiin ya robbal alamiin.

Begitu pula denganku, aku akan berbahagia dengan takdir yang menantiku di masa depan. Mungkin lewatmu Tuhan ingin mengajarkanku tentang arti keikhlasan. Terima kasih, lewatmu aku sadar bahwa hingga tiba masa itu aku harus terus memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk takdir terbaikku. Aku yakin di suatu sudut di belahan bumi ini Tuhan telah meletakkan potongan hatiku pada orang yang tepat. Kini saatnya aku beranjak dan menemukannya. Kelak aku juga akan berbahagia seperti dirimu.

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.” (Tere Liye)

“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta. Mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian di antara kabut pagi di sebuah padang rumput yang megah dan indah. Dan meski tidak tersampaikan, tidak terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta. Kita hidup dalam dua kehidupan yang berbeda. Kalaupun kau tidak suka denganku, itu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa suka padamu. Tidak akan mengubah fakta tersebut. Biarlah kutelan dalam diam semua rasa itu. Disampaikan atau tidak disampaikan, itu tetap sebuah perasaan. Tidak akan berkurang sedikit pun. Akan kutunggu dengan cara terbaik, agar seluruh kisah ini tetap baik. Walau tunas-tunas perasaan tak bisa dipangkas begitu saja. Karena semakin kautikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kauinjak, helai daun barunya semakin banyak. Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.” (Tere Liye)