Ketakutan yang perlahan mengubahku kearah yang lebih baik.

Beberapa bulan lamanya aku di hantui rasa takut akan kematian, hingga aku merasa tertekan juga frustasi.

Namun perlahan tapi pasti rasa takut ini, tanpa aku sadari mengubahku kearah yang lebih baik lagi. Bagaimana tidak? Aku yang semula malas lakukan shalat, selalu menunda waktu shalat, bahkan jarang membaca Al-qur'an, juga selalu dengan santainya berpergian tanpa menggunakan hijab, dan selalu berkata tak baik ketika kesal.

Dengan perlahan namun pasti, aku mulai berubah. Rasa takut itu mengubah aku menjadi lebih baik lagi, perlahan namun pasti aku mulai meninggalkan semua kebiasaan burukku. Mulai memperbaiki shalat, menyempatkan membaca al-qur'an, juga meski aku belum berhijab, namun aku selalu berusaha menggenakan kerudung ketika ingin keluar rumah.

Aku juga mulai intropeksi diriku, mungkin rasa takut itu adalah teguran dari Allah, agar aku lebih baik lagi. Aku sadar mungkin semua itu- adalah akibat dari semua kelakuan burukku di masa lalu, semua perkataanku yang bahkan tak jarang seoalah menantang maut. Dulu aku acap kali mengatakan lebih baik mati, dan lainnya, namun kini tidak lagi.

Advertisement

Aku akui, berhari-hari di hantui kematian memang adalah fase berat yang harus aku lalui, aku tertekan, mungkin hampir saja gila. Namun aku bersyukur karena rasa takut itu, mengubahku kearah yang lebih baik lagi, karena hadirnya rasa takut itu aku mulai memperbaiki diriku.

Aku hanya ingin berpesan pada kalian semua, siapapun yang membaca artikel ini. Bila akan ada hikmah di balik semua cobaan yang kita lalui, seperti hal nya aku yang di hantui ketakutan akan kematian berbulan-bulan lamanya.

Kini aku bukan lagi gadis arogan yang selalu mengedepankan egoku, aku bukan lagi gadis yang selalu menuturkan kata kasar. Setidaknya aku mulai terbuka untuk melihat dunia luar, mendengar kata yang lain dan membuang jauh-jauh egoku.

Berpikirlah sebelum berkata "Lebih baik mati saja".

Coba pikirkan memang kalian sudah siap menerima pedihnya siksa kubur? Memang kalian telah memiliki banyak bekal untuk menghadap sang pencipta? Tidak bukan? Maka berpikirlah sebelum bicara.

Cukup aku yang melakukan itu, dan merasakan timbal balik atas perkataanku sendiri. Maka dari itu saat ini aku hanya ingin hidup menjadi manusia yang lebih baik lagi, mensyukuri segala nikmat yang Allah beri padaku.

Syukuri apa yang Allah beri padamu. Ketika kamu mengeluh cobalah pikirkan mereka yang lebih menderita darimu, lihatlah kebawah, jangan selalu mendongak keatas. Jadilah pribadi yang senantiasa mensyukuri nikmat-Nya, jadilah pribadi yang rendah hati, bukan tinggi hati.