Mungkin kamu pernah mendengar atau membaca perihal perlu tidaknya passion dalam karir atau pekerjaan. Bahwa kecenderungan untuk bersikap realistis lebih dibutuhkan dan diprioritaskan dalam kehidupan. Ya, saat ini kita disuguhkan pada fakta-fakta ironis tentang pekerjaan dan karir. Kita dihadapkan pada realita gambaran susahnya memperoleh pekerjaan namun di sisi lain tidak sedikit orang-orang yang ternyata ‘berhasil’.

Orang bijak pernah mengatakan, orang yang paling bahagia adalah saat ia menemukan siapa diri mereka sesungguhnya. Dan mungkin ini selaras dengan konsep berhasil tadi. Bahwa keberhasilan tidak lepas dari pencapaian hakiki dalam hidup, dimana seseorang pada akhirnya menemukan untuk apa ia diciptakan.

Ingatkah cita-cita kamu di masa kecil? Menjadi Dokter, Pilot, Dosen, Presiden, atau Astronot? Kita hanya dihadapkan pada beberapa pilihan yang sebenarnya kita juga tidak paham saat itu. Kemudian beranjak dewasa kita diarahkan untuk lebih realistis, menjadi pegawai bank, PNS, Polisi dan profesi-profesi umum yang katanya lebih mudah didapatkan. Profesi-profesi itu bahkan kadang menjadi dewa bagi kita dan para orang tua yang masih konvensional.

Ya, bersikap realistis itu sangat penting. Bahwa menjadi PNS, Polisi, akan menjadi zona yang sangat nyaman bagi anak muda yang berpikir tentang penghasilan yang stabil. Bagi yang mendambakan ‘revenue’ yang sedikit diatas rata-rata maka pilihan biasanya jatuh pada pegawai bank, atau perusahaan. Maka jika kamu mendapatkannya, kamu akan dikategorikan berhasil berkompetisi dengan pesaing-pesaing kamu (baca : pencari kerja). Pertanyaan, setelah kamu mendapatkannya apa yang akan kamu lakukan setelah itu?

Ok fine, mencari pasangan, menikah, punya anak, punya rumah, mobil, dll. Namun benarkah kamu dapat mendefinisikan siapa diri kamu sebenarnya? Seorang karyawan, yang menjadi bapak, dengan dua orang anak, dan bla bla bla yang lain? benarkah itu yang dimaksud dengan mencari jati diri kita sebenarnya?

Advertisement

Ini dari pengalaman pribadi. Saya telah menyandang salah satu profesi yang saya sebutkan di atas. Bukan tidak bersyukur, namun ternyata profesi itu belum mendefenisikan diri saya sendiri. Saya masih merasa ‘kurang’ berbuat sesuatu pada kehidupan saya. Dan setelah melalui pertimbangan dan pemikiran yang tidak sebentar, saya menemukan salah satu cara mendefinisikan diri itu adalah melalui passion.

Gambarannya seperti ini, saat kamu memiliki pekerjaan yang bukan passion kamu maka kemungkinan besar kamu akan merasa bosan. Saat tidak ada passion, tidak ada sesuatu yang memacu adrenalin, menguras otak, dan membuat kita terpacu untuk bekerja lebih baik dan lebih baik lagi. Bahkan cenderung pikiran kita kemana-mana, sedikit-sedikit tidak bahagia, berusaha mencari-cari pelampiasan, terkadang malah cenderung menyalahkan takdir.

Ternyata dalam kehidupan kita sangat membutuhkan pencapaian. Salah satunya adalah agar mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Bersama pasangan atau keluarga kita bahagia, memperoleh uang banyak kita pun bahagia, namun setelah semua itu didapatkan kita mau ngapain? Kebahagiaan yang didefinisikan dari faktor materi, pasangan, keluarga memiliki batasan. Sedangkan pencapaian, tidak.

Pikirkan apa yang memang benar kamu inginkan dalam hidup. Profesi apa yang benar-benar kamu idamkan. Jangan terlalu terpengaruh atas masukan dari orang orang lain even itu orang tua kamu. Masa depan adalah milikmu sendiri.

Nah pertanyaan, bagaimana mensinkronkan passion dan keharusan untuk realistis? Intinya jangan pernah patah. Mungkin kamu terlanjur berada di jurusan yang ‘salah’, atau terlanjur memiliki profesi yang boring, tapi itu semua bukan sebuah kegagalan atau keterlambatan asal kamu tetap mau berusaha.

Pakar parenting Ayah Edy pernah berkata bahwa setiap orang sebenarnya memiliki bakat, dan saya percaya itu. Memang tidak mudah untuk mencarinya, namun tidak pernah ada kata terlambat selagi kamu memiliki kemauan. Bukankah Raymond Kroch, Bill gates, dan beberapa tokoh yang menjadi kiblat keberhasilan memperoleh kejayaannya di usia yang tidak lagi muda.

Penting, jangan meremehkan hobi kamu apapun itu. Kalau bisa terus saja tekuni, siapa tau hobi kamu sejalan dengan bakat kamu. Atur waktu sebisa mungkin maka kamu tetap dapat bersikap realistis (sekolah, bekerja, dll) sekaligus menekuni hobi atau passion kamu. Dan jangan takut untuk mencari pengalaman, seperti pepatah yang mengatakan experience is the best teacher. Pendapat ini hampir seratus persen benar. Jangan takut melangkah, menghadapi hal baru, menghadapi masalah, atau bahkan jatuh. Bersyukurlah saat kamu jatuh karena kamu akan dibangkitkan berkali-kali dan selalu akan ada hikmah serta manfaat dari pengalaman yang kamu lalui.