Film Sains memang mempunyai daya tarik tersendiri. Yang membuat makin menarik ketika plot yang ditawarkan mampu masuk dalam akal sehat meski belum pernah terjadi dalam dunia nyata sekalipun. Gravity dan Interstellar membuktikan film fiksi luar angkasa bisa menjadi sangat menarik dan diterima akal sehat.

The Martian menjual cerita yang berhubungan dengan luar angkasa. Ridley Scott sutradara senior yang sudah membesut film-film besar Hollywood didampuk untuk menyutradarai The Martian. Sementara Mat Damon sang “Jason Bourne” hadir menjadi tokoh utama dalam film berdurasi 144 menit ini.

Dikisahkan The Martian mengenai team Astronot NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) yang berhasil mendarat di Mars. Persoalannya ketika terjadi suatu insiden, Mark Watney (Matt Damon) musti tertinggal sendirian di Planet Mars.

Sementara seluruh awak astronot lainnya menganggap Mark sudah tewas sehingga ditinggalkan. Para astronot lenggang kangkung dalam perjalanan pulang ke bumi.

Namun, inilah kisah yang dijual untuk anda. Bagaimana Mark Watney yang masih hidup dan sendirian harus bertahan di Mars sambil berharap ada secercah harapan bisa kembali ke Planet Bumi asalnya.

Advertisement

Dengan segala upaya dan peralatan yang minim di Planet Mars yang gersang dan tanpa oksigen, Mark Watney berjuang sendirian untuk bisa menghubungi Bumi, membuktikan dirinya masih hidup. Sambil menunggu segala kemungkinan yang terjadi, Mark musti bertahan hidup dengan makanan seadanya dan bagaimana mengakali makanan untuk kehidupannya tersebut.

Kisah makin menarik ketika NASA berhasil mengetahui kalau Mark Watney masih hidup. Alur pun berlanjut. Penonton diberikan babak baru, bagaimana NASA yg bermarkas di bumi dan team astronot yang dalam perjalanan pulang bisa menyelamatkan Mark Watney.

Babak Mark Sendirian dalam menyambung hidup di Mars serta bagaimana NASA memutar otak untuk menyelamatkan Mark Watney menjadi suguhan utama dalam Martian.

Sebagai informasi film The Martian merupakan adaptasi dari novel sains fiksi berjudul yang sama karya dari penulis Andy Weir. Buku The Martian sendiri masuk dalam New-York Times best seller dan menduduki posisi ke-duabelas dalam buku fiksi terlaris.

Membandingkan buku dan film memang selalu menjadi polemik tersendiri. Ada yang puas ketika film dirilis dan ada juga yang kecewa ketika pembaca buku tidak mendapatkan ekspektasi yang ‘wah’ ketika muncul dalam bentuk film.

Untuk film The Martian sendiri, rasa-rasanya Ridley Scott mampu menghibur dan merebut hati penonton film-film sains fiksi. The Martian mampu tampil gress, menarik, membuat penasaran, juga masuk akal dengan segala tampilan sinematografi yang diberikan kepada penonton.

The Martian menjadi titik balik Ridley Scott sebagai sutradara ketika sebelumnya melempem lewat film Robin Hood, The Counselor, serta yang terakhir adalah Exodus: Gods & Kings yang dapat dibilang mendapat sambutan dingin penonton di seluruh dunia.

Bahkan Ridley Scott yang sebelumnya sukses lewat film Alien pada tahun 1979, mendapat reaksi “biasa-biasa saja” ketika ingin mengulang kejayaan kisah Alien lewat film The Prometheus.

The Martian menjadi film penyelamat bagi Ridley Scott untuk saat ini dan sejajar dengan karya-nya seperti Black Hawk Down dan Kingdom of Heaven yang muncul pasca era Milenium.

Berbicara sang bintang di layar, muncul kembali nama Matt Damon yang menjadi tokoh utama dalam gelaran The Martian. Film ini menjadi film ke tiga Matt Damon yang mengambil genre sains fiksi dan berbicara luar angkasa.

Sebelumnya Mat Damon juga hadir dalam Interstellar dan The Elysium, meski tidak bisa dibilang mumpuni film-flm tersebut, namun belum (terlalu) dalam memuaskan penonton yang menyukai sains fiksi.

Ketersambungan tiga sentrum; Mat Damon di Mars (sendirian) – NASA yang diwakili Jeff Daniels di Bumi – Jessica Chastain di pesaawat ulang-alik, mampu dibuat Ridley Scott menjadi tontonan penuh emosi dan enak dalam setiap adegan film ini berjalan.

Unsur komedi baik yang ditampilkan lewat Matt Damon dalam aksi-nya di Mars, para team NASA di bumi yang terlihat (kadang konyol), dan nuansa solidaritas dan kelucuan pada awak kru astronot menjadi tontonan intelektual, menggoda akal sehat, dan tentunya menghibur penonton.

Pertanyaan selanjutnya, justru mengundang atau menantang akal sehat kita, apakah hal ini bisa terjadi ? mungkinkah di masa depan hal seperti ini bisa terjadi ? itu dikembalikan kepada penonton untuk menilai-nya.

Ide Brilian Andy Weir yang gila dan liar membuktikan bahwa The Martian tidak bisa disangkal namun juga masih menjadi misteri dalam pengetahuan dan peradaban manusia nantinya. Dalam hal cerita dalam film ini, Drew Godard mampu menyajikan secara brilian lewat skenario cerita yang ditulisnya.

The Martian bagi para penyuka genre film sains fiksi, tentunya akan masuk dalam katalog pasti sebagai film sains fiksi yang keren dan menarik.

Dalam suatu adegan Mark Witney berkata,”Hi, I’m Mark Watney and I’m still alive … obviously.” Namun, di satu kesempatan Mark Watney berkata,”Fuck you Mars.”

Silahkan anda menemani Mark Watney selama ada di Mars dan kalau anda simpati silahkan anda menebak apalah Mark Watney bisa pulang ke Bumi. Selamat menonton

Nilai: 8/10 Bintang