Pernah gak kamu merasa terganggu oleh perasaanmu sendiri? Atau hal-hal yang menyangkut perasaanmu mengganggu struktur hidup, karir, atau studi? Yup, saya pernah. Hubungan saya dengan pasangan mengganggu sidang tugas akhir yang harus saya tempuh saat itu. Karena satu dan lain sebab akhirnya fokus saya terpecah. Yang harusnya konsentrasi pada sidang tugas akhir tapi karena beberapa hal harus diselesaikan, maka tugas akhir lah yang saya korbankan. Dengan persiapan sidang yang sangat kurang, maka berakhirlah tugas akhir saya dengan nilai B.

Begitulah perempuan, seringkali cenderung kurang menggunakan logika saat memutuskan sesuatu. Cenderung menggunakan perasaan tanpa berpikir panjang dampak kedepan. Tidak hanya sekali atau dua kali mengalami hal yang serupa, kemudian saya berpikir. Apakah benar, perempuan selalu harus cenderung berperasaan dan tanpa berpikir panjang dalam mengelola sebuah masalah? Ataukah mungkin sebenarnya hal itu hanya sebuah stigma yang terlanjur didoktrinkan kepada perempuan sehingga tak lagi merasa mampu untuk berpikir lebih? Menggunakan logika dan mengesampingkan perasaan?

Advertisement

Dari banyak permasalahan yang saya hadapi dan melandaskan penyelesaian pada perasaan, rata-rata banyak yang berakhir kurang baik. Salah satunya kejadian yang saya alami diatas. Kemudian, ada juga ketika saya sudah berumah tangga. Saya menjalani hubungan LDR dengan suami. Beberapa kali karena tuntutan “perasaan”, saya mencoba untuk “mempermasalahkan” kurangnya komunikasi di antara kami. Saya masih dengan pola “membandingkan” dengan pasangan yang lain. Suami saya memberikan penjelasan terkait pentingnya kualitas daripada kuantitas, dan saat itu pula saya mengiyakan. Namun karena tuntutan “perasaan” tadi, maka permasalahan komunikasi tadi kembali dan kembali saya lontarkan. Sampai beberapa kali juga kami berada pada titik “perdebatan”.

Saya terganggu sebenarnya dengan “tuntutan” perasaan tadi. Kondisi aman dan nyaman yang kami sedang rasakan tiba-tiba harus goyah karena kembali lagi saya baper dengan pola komunikasi kami. Hingga pada suatu ketika saya berpikir, apa yang menjadi pokok permasalahan berulangnya “perdebatan” kami. Ternyata hal itu berasal dari diri saya sendiri. Karena saya yang tidak mau berubah bahwa pola itu sesuai dengan kondisi kami. Dan sejak saat itu pula saya mulai untuk membenahi apa yang ada di kehidupan saya. Jangan sampai penyebab dari permasalahan-permasalahan yang saya hadapi malah berasal dari diri saya sendiri.

Lalu kemudian hal tadi saya kaitkan dengan apa-apa yang pernah saya jalani di kehidupan saya yang terdahulu. Terlalu memakai perasaan untuk menyelesaikan suatu hal, dan biasanya berakhir pada ketidakpuasan diri, atau kurang nyaman, dan lain sebagainya. Saya urai satu persatu dan menemukan sebuah kesimpulan. Untuk kali ini saya harus benar-benar berubah mengutamakan logika daripada perasaan.

Advertisement

Jika ada yang mengatakan “perempuan tidak pernah salah”, terang saya katakan itu sangat menyesatkan. Karena pernyataan itu banyak dari kita yang merasa bahwa tidak ada yang salah dari dirinya. Tidak ada yang patut diperbaiki. Padahal selayaknya sebagai manusia kita harus selalu belajar serta memperbaiki diri. Dan menurut saya pribadi semua itu sebenarnya bermuara pada “kebutuhan” kita sendiri.

Seperti yang saya ceritakan tadi, saat saya sadar bahwa saya harus mengubah pola pikir saya untuk cenderung menggunakan logika maka upaya itu benar-benar saya lakukan. Saya sadar bahwa saya membutuhkan logika dalam banyak hal. Demikian juga saat kamu merasa ada yang patut “diperbaiki” dari diri maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh.

Kunci dari kesuksesan “perbaikan” diri adalah motivasi yang kamu dapatkan. Artinya, kamu membutuhkan feel yang membawa kamu memulai menjalaninya. Upayakan hal itu dengan landasan “untuk kepentinganmu sendiri”. Saya sendiri pernah mendapatkan feel itu dari sebuah artikel yang saya baca. Artikel tersebut bercerita kehebatan seorang istri yang menerima dengan lapang sebuah “perlakuan” dari suaminya yang menurut pandangan saya tidak lazim dalam sebuah kehidupan rumah tangga. Kebetulan saat itu saya merasa perlu untuk memperbaiki diri di suatu titik dalam karakter dan sifat yang saya miliki. Maka berkat artikel tadi, saya mendapat sebuah semangat luar biasa. Saya merasa mampu untuk bersikap seperti wanita pada artikel yang saya baca tadi. Bersikap lapang dada dan saya merasa sifat itu penting untuk saya miliki. Maka saat kamu merasa penting untuk diri kamu sendiri secara otomatis akan memberi efek untuk orang-orang sekitarmu. Mereka akan merasakan kenyamanan yang kamu rasakan. Yang sebenarnya adalah buah dari pencapaian dari kesungguhan kamu untuk berubah.

Maka tak memandang perempuanpun ada kalanya salah. Dan kesalahan itu selayaknya harus kita perbaiki. Termasuk jika itu menyangkut sifat dan karakter kita. Kadangkala sifat atau karakter memang bukan hal yang bisa diubah begitu saja. Namun bukan berarti hal itu tidak bisa dimodifikasi. Buat perubahan itu sesuai “kepentingan” yang ingin kita capai. Hanya dibutuhkan sebuah kemauan, yang disertai upaya dan kesungguhan untuk memulai serta benar-benar menjalankannya. Tidak ada salahnya jika perubahan yang ingin kamu lakukan, dibuat sebuah mindmap. Tuliskan pokok permasalahan, penyebab, faktor-faktor yang terkait, pihak-pihak yang dilibatkan, solusi dan hal relevan lainnya. Selalu ingat baik-baik bahwa “perubahan” itu memang ingin kamu raih. Dan saat kamu menghadapi permasalahan serupa kamu sudah membawa konsep pemikiran yang baru. Menyelesaikannya dengan “perubahan” yang kamu rancang tadi.

Buat diri kita sesuai kebutuhan kita. Hal ini juga berguna untuk mengenal diri kita lebih jauh lagi. Mengetahui potensi terpendam yang kita miliki. Juga untuk menjadikan masa depan tentu saja lebih baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya