Sudah bukan lagi hal tabu kalau setiap orang saat ini terhipnotis dengan "Kopi". Entah apa yang dirasuki pikiran orang-orang, kalau suntuk, penat, jenuh, pasti pelariannya "ngopi yuk". Sudah sebagai ritual suci saja. Bagi mereka ngopi adalah hal yang wajib dan hukumnya Fardhu Ain. Termasuk saya, saya adalah pecinta kopi berat, sehari saja tidak ngopi berasa ada yang kurang.

Pecinta kopi pun beraneka ragam, bapak-bapak dan para sesepuh lebih cinta kopi pahit milik long black. Kaum pegawai, mahasiswa, remaja beranjak dewasa lebih suka yang rada soft dan cocok di lambung, tentu pilihannya tidak jauh dari si mainstream milik cappuccino. Dan tidak ketinggalan si pecinta karbitan, yang rela menghabiskan uang di gerai kopi hanya sebatas untuk update dan terlihat keren dengan cup kopinya yang terkenal itu.

Advertisement

Saya tidak heran lagi dengan menjamurnya pecinta kopi, yang memang benar cinta atau hanya sebatas ingin keren. Tentunya hal ini didukung dengan banyaknya gerai atau kedai kopi yang menjamur di setiap sudut kota. Bisnis ini semakin lama semakin menggila, no offense tapi saat ini mereka memanfaatkan bisnis kopi dengan sangat cerdik. Saya yakin kualitas bukan lagi yang menjadi nomor satu, mungkin sudah menjadi urutan nomor satu juta empat ratus lima puluh lima ribu. Yang penting wifi dan bebas menggunakan colokan listrik untuk memastikan gadget kalian tidak lowbatt. Kelar urusan, kedai anda penuh.

Saya kebetulan penikmat kopi fanatik nan baperan. Jadi seperti ada yang mengganggu saja jika minuman yang saya anggap sakral disepelekan orang. Yaelah, segitunya amat. Iya memang saya segitunya banget sama kopi. Bahkan saya bisa merasakan apa yang dirasakan para barista atau penikmat kopi lain. Saya jamin mereka pasti tidak terima atau kecewa berat jika kopi buatan mereka dilecehkan.

Bikin kopi itu tidak semudah yang kita kira lho, prosesnya panjang dari pemilihan bean, pengolahan bean-nya, metode penyajiannya, proses pencicipannya yang dikenal dengan cupping, dan kalau sudah mantap tinggal deliverynya ke konsumen. Otomatis harga itu sebanding dengan pengorbanan para petani yang menanam dan barista yang menyajikan. Sehingga konsumen bisa merasakan gimana nikmatnya minum kopi.

Advertisement

Memang sih saya tidak terlalu paham dengan detail dari pembuatan atau pengolahan biji kopi, tapi dari sulitnya proses-proses itu saya menjadi paham bahwa ternyata bikin kopi itu susah. Dan sudah sepantasnya kopi itu disakralkan sebagai minuman yang wajib dicintai oleh semua orang.

Kebutuhan ngopi saat ini sudah sangat menjamur di kehidupan masyarakat. Macam-macam tujuannya, ada yang bilang bisa melancarkan setoran di pagi hari, ada yang bilang bisa bikin pemicu adrenalin dan hiperaktif, ada yang bilang bisa menghilangkan kantuk, dan lagi lagi si karbitan yang merasa keren kalau pegang cup kopi di pagi hari kaya film-film di Hollywood.

Tapi itu hak mereka, sebagai penikmat kopi, tidak sepantasnya kita menghakimi pecinta kopi lainnya, toh kita sama-sama pecinta kopi bedanya, saya sedikit baper dengan minuman sakral ini. Nikmati saja sensasinya, habiskan sampai di tetes terakhir.

Menurut saya, ngopi bukan hanya sebatas minuman biasa. Ngopi bisa menjadi media ampuh sebagai peredam suasana hati. Coba pikirkan, kenapa seseorang kalau mau ngajak meeting atau ngobrol hal-hal sepele pasti selalu terselip pilihan "ngopi aja yuk" ada apa ini ? masyarakat sudah terdoktrin secara tidak sadar bahwa ngopi adalah alternatif paling masuk akal diantara lainnya.

Minum kopi itu bukan hanya sebatas media basa basi, ngopi juga dapat menjadi media dalam menyalurkan segala ekspresi, termasuk masalah hati. Entah kenapa kebanyakan orang memilih ngopi sebagai tempat ngedate untuk pertama kali.


Bahkan mbak Raisa pun diajak ngedate pun jurusnya harus diajak ngopi dulu. Masih ingat ? "Raisa….. Ngopi yuk…"


Jadi segitu hebatnya kopi sehingga banyak yang membisniskan minuman ini. Ngopi itu banyak definisinya, saya bukan pecinta kopi karbitan. Jauh sebelum film Filosofi Kopi 1 dan 2 tayang saya sudah menjadi fans berat minuman ini. Bagi saya ngopi sudah menjadi hal wajib yang haram hukumnya kalau ditinggalkan satu hari saja. Jadi karena itu saya sepaham dengan pecinta kopi lainnya kalau ngopi itu ada minuman sakral yang akan sulit ditinggalkan oleh para penikmat yang sudah terlanjur cinta sama minuman ini.


Mau pahit, mau gurih, mau yang rada manis, kopi sudah punya segmennya masing-masing. Jadi tidak ada yang perlu diperdebatkan. Pahitnya long black, espresso, atau macchiato kalau sudah cinta ya cinta saja. Mau doyan gayo, toraja, mandailing, papua, tubruk semua punya cita rasa yang sama. Mau segurih cappuccino, latte, americano, atau white coffee ya sayang ya sayang saja.


Jadi bagi saya, terlalu disayangkan kalau ada yang menyisakan kopi di cangkirnya. Karena menikmati kopi adalah salah satu anugerah yang diberikan Tuhan. Definisi ini berlaku hanya untuk saya saja, kalau bukan pecinta kopi jangan dipaksakan.


Kalau kata Ben di Filosofi Kopi "Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya…" ya.. saya setuju sekali, mau apapun rasanya kalau sudah terlanjur yaa sudah. Jadi di setiap kopi punya filosofinya masing-masing. Saya memang bukan ahli filsafat di bidang perkopian seperti yang dipraktikkan oleh Ben, tapi saya selalu setuju apa yang diungkapkan Ben dalam mendeskripsikan setiap kopi yang dibuatnya. Hanya satu alasannya… Ben menganggap bahwa kopi adalah bukan minuman yang sembarangan dibuat, Ben yakin bahwa kopi bisa mendeskripsikan para penikmatnya. Jadi menikmati kopi ini, sama saja kamu memahami dirimu sendiri.


Dan pada akhirnya kopi pun akan mendapatkan para penggemarnya masing-masing. Ingat, esensi ngopi itu jelas sekali. Sebagai media. Media apapun yang bisa mendekatkan kita ya salah satunya adalah ngopi, banyak jenis minuman di dunia ini tapi kopi bisa jadi yang favorit.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya