Masih seperti kemarin-kemarin. Hujan belum juga berhenti. Hanya dua puluh empat menit istirahat, membiarkan panas sebentar saja lalu ia kembali mengguyur dengan derasnya seolah-olah semesta rindu berat padanya.

"Dev, handphone kamu bunyi. Sudah sedari tadi."

Advertisement

Suara gemuruh hujan yang disertai angin benar-benar meredam suara-suara yang lain. Suara Priya juga hampir tak kedengaran jika saja ia tak berjalan sambil berbicara tepat di depan mata Dev yang hanya diam dengan tatapan kosong ke luar jendela kamar. Dua panggilan tak terjawab dari satu nomor yang tidak diketahui nama penggunanya. Dev hanya melihat lalu meletakkan kembali handphonenya. Kembali duduk. Entah apa yang ia pikirkan. Sesekali dahinya mengernyit. Mungkin saja tentang ibunya yang sedang sakit. Mungkin juga tentang masalah kerjanya. Atau mungkin saja dengan kekasihnya: terlalu berharap lebih yang membuat hubungan Dev dan Priya harus merenggang meskipun sudah tinggal serumah. Sama-sama merasa kecewa.

* * * * *

Waktu sudah hampir pukul dua belas. Dev masih sendiri. Priya belum juga pulang. Terlintas di benaknya untuk memberi kejutan pada kekasihnya itu. Ia mengambil lampu kelap-kelip di kamar lalu membawa serta selembar kertas dan sebatang pensil. Ia lalu menggantungkan lampu kelap-kelip itu pada daun pintu rumah dan meletakkan kertas putih itu di lantai. Tulisannya tidak terlalu jelas dibaca karena menggunakan pensil.

Advertisement

"Maaf jika egoisku telah mengecewakanmu. Maukah engkau bersahabat denganku? Selamat hari kasih sayang pujaan hatiku".

Dev sengaja memberikan kejutan ini sebelum hari di tanggal empat belas itu berakhir. Sedari pagi mereka masih saling diam. Tak ada komunikasi. Entahlah, tapi mereka sama-sama kecewa. Kecewa karena ego mereka yang masih sangat kuat. Masih mementingkan diri sendiri.

Dev menunggu dari balik pintu. Ia duduk di sofa. Memejamkan mata. Meletakkan kepala sambil tengadah ke atas. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. Hingga ia tertidur di sofa. Waktu sudah jam dua lewat. Pintu masih tertutup rapat. Dev terjaga lalu bergegas bangun. Ia menyadari bahwa ia masih sendiri. Menunduk lalu memegang kepala mengusap-usap rambutnya.

"Priya, semarah itu kah kau padaku? Haruskah kita korbankan segala cinta dan sayang yang sudah kita jalin bersama? Dimanakah engkau ?"

Dev berdiri lalu membuka pintu. Sebentar lagi hari akan menuju pagi. Akankah ia tetap sendiri?

"Tuhan, dimanapun dia, lindungilah dia. Aku mencintai dia".

Dev menutup pintu lalu masuk ke dalam. Langkahnya lunglai. Tidak percaya bahwa kekasihnya tidak seperti kemarin-kemarin. Pulang sebelum adzan: membawa serta dua nasi kotak. Ia masuk ke kamar. Melangkah menuju tempat tidur. Pintu kamar ia biarkan terbuka begitu saja. Ia duduk lalu mencoba meletakkan kepala di bantal tidur. Tapi niatnya ia urungkan ketika tiba-tiba handphonenya berdering. Dengan penuh semangat ia meraih handphonenya. Pikiran tertuju pada Priya. Namun wajahnya tersentak lesu seketika setelah melihat nama Priya tidak muncul di nama panggilan. Ia duduk kembali lalu mencoba menjawab panggilan itu. Masih dari nomor baru dua panggilan tak terjawab kemarin pagi.

"Halo, dengan siapa ini?", Dev memulai percakapan.
"Nak, ini Ibu. Ibu meminta dokter yang merawat Ibu untuk mencoba menghubungimu dari kemarin pagi, Nak. Ibu ingin berbicara denganmu.", suara ibunya dari seberang. Terbaring lemah di rumah sakit akibat kanker yang diderita.
"Ibu, Dev minta maaf. Dev tidak tahu kalau itu Ibu yang telepon. Maafkan Dev, Ibu." Dev sudah tak kuasa lagi menahan air matanya. "Ibu baik-baik saja, bukan ? Dimana adik?"
"Ibu baik-baik saja Nak. Adikmu Ibu suruh pulang menjaga rumah. Ada Karan anaknya om Baldev yang menemani adikmu."

Ibunya diam sejenak. Suara isak Dev terdengar hingga seisi ruangan.

"Maafkan Ibu jika Ibu mengganggumu, Nak. Ibu hanya ingin mengucapkan selamat hari kasih sayang yang belum sempat Ibu katakan kemarin, Nak. Jagalah Priya. Cintai dan sayangi dia sepenuh hatimu, Nak. "

"Ibu. Terima kasih banyak Ibu. Maaf Dev selalu tidak ada waktu buat Ibu. Terima kasih untuk semuanya ibu. Ibu yang kuat. Dev belum balas semua kasih sayang ibu."

"Iya Nak. Kamu jangan nangis. Ibu baik-baik saja. Ibu menelepon hanya untuk menyampaikan salam ibu saja. Titip salam rindu buat Priya".

Dev hanya mengangguk kecil. Ia pun tak menceritakan persoalan yang sedang ia alami saat ini. Ibunya menutup telepon. Dev kemudian merebahkan tubuhnya. Ia lunglai. Priya belum juga pulang. Ibunya sedang sakit. Pikirannya benar-benar campur aduk. Hingga tak disadari, ia terlelap. Hingga ia kembali dikagetkan lagi oleh bunyi telepon yang berdering. Priya belum juga pulang. Entah sedang berada dimana ia saat ini. Sedang bersama siapa, semalam ia tidur dimana, tak diketahui oleh Dev. Priya tak jua memberinya kabar. Dev segera meraih handphonenya. Masih nomor yang sama. Tapi kali ini bukan ibunya, tetapi pemilik nomor teleponnya; Dokter Vargaz, yang menangani ibunya.

"Selamat pagi pak Dev. Ini saya Dokter Vargaz. Saya mau mengabarkan berita duka kepada bapak. Ibumu sudah menutup usianya. Kami sudah berusaha yang terbaik untuk ibumu tapi inilah kenyataannya. Tuhan lebih menyayangi Ibumu".

Handphone Dev mendadak terlepas dari genggamannya. Kakinya melemah; tak sanggup lagi berdiri.

"Jadi semalan itu pesan terakhirmu, Ibu?" Dev tak kuasa menahan air matanya. Ia kemudian bergegas mempersiapkan dirinya untuk peduli. Tak ada lagi sedikitpun dalam benaknya yang terlintas memikirkan Priya; kekasih yang selama ini ia perjuangkan sampai-sampai ibunya pun tak ia pedulikan. Entahlah, apakah pantas Dev menyalahkan dan membenci Priya tetapi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menahan amarah terhadap Priya yang belum juga pulang dan juga membendung kesedihan yang mendalam dan bergegas pulang menemui ibunya yang kini sudah tak bernyawa lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya