Setiap orang punya masa lalu masing-masing. Istilah masa lalu lebih sering merujuk pada situasi tak nyaman, menyedihkan, mengecewakan, memilukan. Ceritanya akan berbeda satu dengan yang lain. Broken home, broken hearted, korban bullying, bangkrut, dan lain-lain. Apa yang buruk di masa lalu, semoga saja sudah benar-benar kita tinggal di belakang. Semoga saja, karena tak jarang orang tidak sadar masih 'setia' menggendong beban kepahitan masa lalu.

Dari sekian banyak jenis luka hati di masa lalu, akarnya selalu sama: kebencian dan kehilangan kepercayaan. Akar kepahitan itu obatnya satu: memaafkan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal memaafkan itu gampang banget kalau diucapkan. "Iya, aku udah maafin kamu kok." atau "Tanpa kamu minta maaf, aku udah maafin." atau pake diksi yang lain "Gak papa kok, aku udah lupain itu." Eummm, yakin udah maafin setulus hati?

Urusan maaf-memaafkan pun sesungguhnya urusan pribadi. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk memaafkan, atau menghasut orang supaya memelihara kebencian. Cuma demi menciptakan perdamaian abadi di dunia fana ini, alangkah lebih bijaksana kalau kita benar-benar tulus memaafkan. Balik lagi pada kenyataan, tiap pribadi itu berbeda, maka kedalaman hati untuk memberi maaf juga tidak sama.

Level Ndelosor Banget: Aku Udah Maafin Dia Kok, Tapi Aku Masih Dendam

Advertisement

Yaelah cuma maaf di mulut sih, nggak perlu ada teknik khusus. Karena cuma manis di mulut, jangan tanya hatinya kayak apa: kayak gurun sahara mbok. Panas, gersang, kering, nggak ada kesejukan, nggak ada kehidupan. Orang yang model begini, mesti hidupnya nggak bener-bener hidup.

Naik Dikit: Tunggu Waktu Aja Deh, Pasti Aku Maafin.

Ceilah, bijak banget… Tunggu waktu, entar pasti maafin. Ati-ati kalau kamu suka ngomong begini. Memasrahkan urusan memaafkan pada waktu. Padahal ya, waktu itu terus berjalan. Jarum jam terus berputar ya kecuali batrenya abis dayanya. Waktu nggak bakal menunggu kita.

Memaafkan yang model begini, cuma kamuflase. Cuma upaya melarikan diri. Kita nggak gentle menghadapi luka, kita nggak punya nyali untuk menyembuhkan kepahitan, kita nggak niat untuk memulihkan relasi. Waktu nggak bikin kita jadi bisa memaafkan. Senjata yang diperlukan tetep ada di dalam hati kita masing-masing.

Udah Setengah Tulus: Iya Wes Dimaafin, Tapi Dia Tetep Ditandain

Ini udah setengah tulus. Memaafkan udah dari hati. Tapi cuma sebagian. Emang udah nggak marah, nggak dendam dan nggak benci lagi. Cuma pasang strategi kok. Mau tidak mau kan kita jadi apal tabiat temen atau orang yang bikin salah tersebut. Apalagi kalau udah berkali-kali bikin geger. Yaa, nggak papa, cuma next time ati-ati lah sama dia. Kamu jadi waspada sih bagus. Tapi kamu juga berprasangka negatif ke orang itu. Mungkin kamu bukan penyedia kesempatan kedua.

Level Advanced: Ku Maafkan Kamu, Mari Mulai Lembaran yang Baru

Nggak ada dendam. Nggak ada benci. Nggak ada kepahitan. Nggak ada prasangka buruk. Memaafkan. Mestinya level ini yang kita kejar guys. Hati damai tentram, relasi diperbaiki. Memang sih, untuk sampai level ini, nggak bisa instan. Waktu diperlukan, tapi bukan untuk melarikan diri dari persoalan ya. Waktu diperlukan untuk memupuk kedewasaan kita masing-masing, untuk mampu memaafkan. Sungguh, nggak ada ruginya memaafkan itu. Bagaimana pun, kita sendiri juga kerap berbuat salah. Lebih utama lagi, kita pun telah dianugerahi pengampunan tak terbatas dari Tuhan, jadi masak kita kekeuh egois nggak mau memaafkan?